
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara memastikan seluruh bandar udara di wilayah Flores dan sekitarnya, Nusa Tenggara Timur (NTT), tetap beroperasi normal pascagempa bumi yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026).
Seluruh penerbangan melalui bandar udara (bandara) tetap dapat dilayani dengan mengutamakan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan.
Menurut Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Udara Lukman F. Laisa, berdasarkan hasil pemantauan dan pemeriksaan di lapangan, tidak terdapat penutupan operasional bandara akibat gempa.
Seluruh bandara dapat melayani penerbangan, lanjutnya, termasuk penerbangan untuk mendukung mobilisasi masyarakat, bantuan kemanusiaan, logistic dan kebutuhan penanganan pascabencana.
“Kami memastikan seluruh bandara di Flores dan sekitarnya tetap beroperasi normal. Aspek keselamatan menjadi prioritas utama. Terhadap area – area yang berpotensi memiliki risiko, kami melakukan mitigasi dengan membatasi akses pengguna jasa pada area tersebut, tanpa mengganggu kelancaran operasional penerbangan,” ujarnya.
Berdasarkan hasil pemantauan, terdapat sejumlah kerusakan pada bagian bangunan terminal, kantor, menara, maupun fasilitas penunjang di beberapa bandara.
Namun demikian, kondisi tersebut telah ditindaklanjuti dengan langkah mitigasi dan pengamanan, sehingga pelayanan penerbangan tetap dapat berlangsung.
Pada Bandara Komodo di Labuan Bajo, ditemukan kerusakan pada plafon terminal dan fire station, retakan pada dinding gedung administrasi, serta retak memanjang pada fillet Taxiway A.
Pembersihan terminal telah dilakukan dan operasional penerbangan tetap berjalan normal dan tower saat ini telah beroperasi normal.
Pada tahap awal penanganan, pelayanan komunikasi penerbangan sempat didukung perangkat VHF-A/G portable di luar tower.
Sementara itu, Bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende, mengalami kerusakan pada plafon terminal dan retakan pada dinding gedung Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) dan struktur tower.
Pembersihan area terminal telah dilakukan dan pelayanan lalu lintas udara didukung melalui penerapan contingency plan dengan memindahkan komunikasi ke Watchroom Gedung PKP-PK.
Operasional penerbangan tetap berjalan dengan memperhatikan aspek keselamatan.
Pada Bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu, terdapat kerusakan pada partisi dinding kaca gedung terminal lantai 2.
Kondisi tersebut sedang dilaksanakan perbaikan struktur kembali dan dibuat dimitigasi melalui pengamanan dan pembatasan akses pada area yang berpotensi menimbulkan risiko bagi pengguna jasa.
Sementara itu, operasional bandara dan navigasi penerbangan tetap berjalan normal dan seluruh penerbangan dapat beroperasi sebagaimana mestinya.
Bandara Frans Sales Lega di Ruteng, mengalami kerusakan pada arsitektur ACP terminal, plafon ruang rapat/kantor, dinding PKP-PK, dan tower.
Pembersihan area terminal dan evaluasi struktur lanjutan terus dilakukan. Berdasarkan hasil pemeriksaan, sisi udara tetap aman dan dapat digunakan untuk melayani penerbangan.
Di Bandara Fransiskus Xaverius Seda, Maumere, ditemukan kerusakan ringan pada plafon dan kaca terminal lantai 2.
Sisi udara, termasuk landasan pacu (runway) dan apron, berada dalam kondisi baik, sehingga bandara tetap beroperasi dan turut mendukung pergerakan bantuan serta mobilisasi unsur pemerintah, termasuk mendukung pergerakan Presiden Prabowo Subianto dan unsur TNI/Polri.
Pada Bandara Soa Bajawa, terdapat kerusakan pada plafon dan kaca terminal, serta retakan pada dinding/kolom sejumlah bangunan.
Ditemukan juga retak memanjang pada runway. Mitigasi dilakukan melalui pembersihan material, pengamanan peralatan, penggunaan VHF-A/G portable dan penempatan armada PKP-PK di luar gedung sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan gempa susulan.
Pelayanan penerbangan tetap berlangsung dengan menerapkan pembatasan akses pada area tertentu yang berpotensi memiliki risiko.
Dirjen Lukman menuturkan bahwa bandara tetap beroperasi, tetapi keselamatan penerbangan merupakan prioritas utama.
“Namun, maskapai penerbangan memiliki kewenangan untuk melakukan evaluasi operasional dan penyesuaian penerbangan berdasarkan kondisi aktual di lapangan, termasuk apabila hasil assessment internal menunjukkan perlunya penundaan atau pembatalan penerbangan untuk memastikan keselamatan,” tuturnya.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara bersama Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah IV, AirNav Indonesia, TNI/Polri, BNPB, Basarnas, dan pemerintah daerah terus melakukan pemantauan dan koordinasi secara intensif untuk memastikan keselamatan penerbangan, serta kesiapan bandara dalam mendukung kebutuhan masyarakat dan penanganan dampak gempa.
Kementerian Perhubungan juga mengimbau seluruh pengguna jasa untuk tetap mengikuti arahan petugas bandara, khususnya terkait pembatasan akses pada area tertentu dan tidak memasuki area yang telah dinyatakan terbatas demi keselamatan bersama. B



