Ketua Umum IKA ITB Gembong Primadjaja Bicara Tentang Bonus Demografi Indonesia

Ketua Umum IKA ITB Gembong Primadjaja. (Instagram)

Dalam suatu kesempatan wawancara media beberapa waktu lalu, Ketua Umum Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB) periode 2021-2025 Gembong Primadjaja sempat bicara soal Indonesia 10 tahun mendatang.

Dia tidak bicara soal konstruksi, perkapalan, dan pengembangan terminal liquid natural gas (LNG), tiga bidang yang dia kuasai, melainkan soal Indonesia secara menyeluruh, utamanya tentang bonus demografi.

Menurut Gembong, 10 tahun mendatang Indonesia akan menghadapi bonus demografi, yaitu suatu keadaan saat terjadi peningkatan jumlah penduduk pada usia produktif sehingga jumlahnya melebihi usia tidak produktif.

”Di era 2030-2040, jumlah penduduk usia produktif 15-64 tahun lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun. Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 205 juta dan 2 juta usia produktif di antaranya masuk ke pasar kerja setiap tahun,” ujar jebolan Teknik Mesin ITB tahun 1986 tersebut.

Menurut pria kelahiran Bandung, 6 Mei 1968 itu, saat Indonesia mengalami bonus demografi, peran SDM untuk dapat menarik dan mempertahankan talenta terbaik menjadi penting dari sebelumnya. Oleh karena itu, orang memilih untuk memanfaatkan teknologi dalam mengoptimalkan bakat yang dimiliki dengan mengolaborasikan bersama SDM dan teknologi.

Baca juga :   AP II, BRIN dan PPI Curug Berburu Teknologi Baru Kembangkan Bandara Nasional

Manfaat bonus demografi akan tercermin pada peningkatan standar hidup penduduk yang merupakan faktor penentu produktivitas. Dalam konteks ini, IA ITB sebagai sebuah kelompok terdidik dan memiliki dasar teknologi, berupaya mendorong pemerintah untuk memanfaatkan bonus demografi dengan sebaik-baiknya.

Gembong memang pantas bicara soal ini. Maklum, lulusan Master of Business dari Rutgers University, Amerika Serikat ini termasuk figur yang menonjol di kalangan alumni ITB.

Rekam jejaknya terlihat pada aktivitas organisasi IA ITB beberapa tahun terakhir. Dia konsisten menggaungkan Program Indonesianisme sejak menjabat Ketua Ikatan Alumni Mesin ITB 2011 – 2015 dan menjadi Sekretaris Jenderal IA ITB periode 2016 – 2020.
Selama menjabat Sekjen IA ITB, Gembong tercatat sudah mengadakan pagelaran Indonesianisme Summit pada tahun 2017, 2018, dan 2019.

Baca juga :   Penerapan Teknologi Jadi Peluang dan Tantangan Wujudkan Sistem Transportasi Cerdas

Saat ini, Gembong tercatat sebagai Direktur Pagoda Lines Pte Ltd sejak September 2020. Sebelumnya, dia juga memegang sejumlah jabatan penting, di antranya Wakil Direktur Utama PT Perta Daya Gas (2018-2020), Staf Senior Direktur Utama PT Indonesia Power (2018-2019), Staf Senior Distribusi LNG dan Pembangkitan Listrik Kemenko Bidang Maritim (2018).

Selain itu, menjabat Direktur Utama PT Pelindo Energi Logistik (2017-2018), Staff Senior Pengembangan Infrastruktur Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (2015-2016) dan Sekretaris Tim Percepatan Konversi BBM ke BBG Kementerian ESDM (2011-2015).

Kembali ke soal bonus demografi, Gembong bilang bahwa itu bisa menjadi berkah tapi bisa juga menjadi bencana, bergantung pada kemampuanpemerintah menanganinya.

”Saya katakan bahwa bonus demografi ibarat pedang bermata dua, berkah jika berhasil menanganinya, tapi akan jadi bencana jika tidak dikelola secara baik,” tuturnya. B

Komentar