Ketapang Urban Aquaculture Jadi Destinasi Wisata Terbaik

Kunjungan di kawasan pengelolaan wilayah pesisir dan penataan permukiman nelayan di Kawasan Wisata Ketapang Urban Aquaculture, Desa Ketapang, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. (dok. kabupatentangerang)

Penjabat (Pj) Bupati Tangerang Andi Ony mendorong pengembangan kawasan Ketapang Urban Aquaculture menjadi destinasi wisata terbaik di Kabupaten Tangerang, sekaligus sebagai wilayah pelestarian mangrove dan ekosistem.

Pariwisata merupakan salah satu sektor penggerak perekonomian dan masyarakat sebagaimana ditetapkan dalam prioritas pembangunan nasional 2019- 2024.

Hal tersebut memberikan implikasi bagi segenap pemangku kepentingan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki pada daerah masing-masing, sehingga dapat memicu minat wisatawan untuk berkunjung ke daya tarik wisata yang dikembangkan.

Indonesia sebagai salah satu negara dengan wilayah yang banyak terdapat hutan mangrove menjadikan potensi alam yang berfungsi sebagai habitat dan penyangga kehidupan berbagai jenis spesies, serta pelestarian alam dari abrasi pantai telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat masyarakat sebagai daya tarik wisata.

Selain itu, pada berbagai daerah, hutan mangrove juga telah banyak mengalami alih fungsi menjadi tambak, sehingga perlu dilakukan langkah strategis agar optimalisasi pemanfaatan potensi hutan mangrove tidak terancam rusak, tapi menjadi lestari dan menjadi penyanggah perekonomian masyarakat sekitar

Ketapang Urban Aquaculture di Desa Ketapang, Kecamatan Mauk, menjadi intisari dari Tangerang Initiative yang ditandatangani oleh seluruh anggota PEMSEA.

Di Kabupaten Tangerang, inisiatif ini ada beberapa poin terkait pemberdaayaan masyarakat, kemudian perlindungan lingkungan hidup, kebersihan laut dan juga eksositem laut dan juga infrastruktur di kawasan pesisir pantai.

Kemudian, ada juga peningkatan ekonomi baik, blue economy dan green economy,serta satu lagi peningkatan kesehatan masyarakat.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang berkomitmen akan terus mendukung pengembangan wisata tersebut, sekaligus menjadi daerah pelestarian mangrove sehingga dapat menjadi ikon bagi Kabupaten Tangerang.

Baca juga :   Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dorong Pariwisata Belitung

Konservasi mangrove di Ketapang dimulai sejak 2014, di sini tumbuh kembang sangat luar biasa. mangrove ini menjadi salah satu ikon baru untuk kegiatan pembangunan pesisir pantai dari dalam program-progran PEMSEA.

Tumbuh di area pasang surut, khususnya di kawasan pantai, laguna, maupun muara sungai dimana jenis vegetasi yang ada merupakan tumbuhannya bertoleransi dan berdaptasi terhadap garam.

Lebih jauh, ekosistem mangrove didefenisikan sebagai suatu kesatuan sistemik yang terdiri dari tumbuhan dan hewan yang berinteraksi dengan lingkungan, mangrove juga menjadi tempat ikan berkembang biak dan meningkatkan ekosistem mangrove itu.

Salah satunya ditemukan kepiting mangrove dan kepiting tapak kuda atau horsesoe crab. Kepiting ini sangat sulit dan dilindungi, tapi bisa bermunculan di Ketapang karena hutan mangrove yang sudah mulai bertumbuh.

Program ini mengubah kawasan pesisir yang identik dengan kumuh dan kotor menjadi kawasan percontohan internasional.

Kawasan konservasi mangrove dan ekowisata yang  awalnya hanya desa nelayan biasa, diubah menjadi desa ekowisata dengan penataan infrastruktur yang baik, ekonomi kerakyatan, termasuk lingkungan hidupnya, sehingga bisa direplikasi konsepnya di wilayah pesisir lainnya,” tuturnya.

Ketapang Urban Aquaculture merupakan salah satu lokasi wisata yang sangat potensial untuk dikembangkan lebih lanjut baik sebagai destinasi wisata, studi maupun konservasi pesisir yang bisa menjadi kebanggaan bukan hanya Kabupaten Tangerang, nasional bahkan internasional.

Ini salah satu destinasi wisata yang banyak dikunjungan oleh masyarakat dan menjadi daya tarik wisata berbasis hutan mangrove yang menyajikan pemandangan yang mempesona.

Ekowisata merupakan salah satu alternatif program yang dapat diterapkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat sebagai upaya untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan ekosistem mangrove.

Baca juga :   Kemenparekraf Dorong Pelaku Ekraf Mampu Kelola Keuangan Untuk Optimalisasi Produk

Di sisi lain, sarana dan prasarana penunjang pengelolaan, serta pelayanan pengunjung yang dibutuhkan untuk pengembangan ekowisata harus memadai untuk menarik minat pengunjung atau wisatawan.

Kondisi mangrove yang sangat unik dengan potensi sumberdaya alam berupa bentang alam, flora, fauna dan kegiatan sosial ekonomi sebagai obyek dan daya tarik ekowisata.

Selain itu, juga sebagai model wilayah yang dapat dikembangkan sebagai sarana wisata dengan tetap menjaga keaslian hutan serta organisme yang hidup disana.

Namun, dari semua nilai tersebut yang terpenting adalah nilai ekonomis, ekologis dan pendidikan yang sangat besar pada kawasan hutan mangrove.

Sebagai sebuah kawasan ekowisata dan tempat rekreasi alternatif di alam terbuka, Ketapang Urban Aquaculture harus bersaing dengan banyak kawasan yang lebih menarik, seperti pantai berpasir, taman laut yang memungkinkan snorkeling atau penyelaman, hutan lindung, air terjun, dan lain-lain.

Hal ini dikarenakan pengunjung akan menjadi kotor karena substrat mangrove yang berlumpur, kecuali telah dibangun trotoar atau jembatan khusus yang melintasi kawasan mangrove dan memiliki susunan rute khusus.

Hal menarik yang ditawarkan di kawasan ini adalah pengunjung dapat mendengarkan suara burung dan serangga, pemandangan wisata magrove Ketapang cukup membuat nyaman, apalagi dipenuhi warna hijau dari daun magrove tambah menyegarkan.

Pj Bupati Tangerang pun mengajak seluruh masyarakat Desa Ketapang untuk senantiasa menjaga dan memelihara apa yang telah dibangun agar dapat terus bermanfaat dalam jangka waktu yang panjang serta dapat direplikasi daerah-daerah pesisir Kabupaten Tangerang lainnya. ts/B

 

Komentar