Kabandara Liwur Bunga Larat Iskandar Lalui Tiga Dekade dan Tiga Kota

Kabandara Liwur Bunga Larat Iskandar. (dok. liwurbungalarat)

Keberadaan pria kelahiran Mei 1971 ini di Bandara Liwur Bunga Larat memang belum lama, yakni baru pada 12 Agustus tahun lalu, tapi pengalaman Iskandar mengabdi di beberapa bandara sudah dilalui.

Menurut anak keempat dari tujuh bersaudara ini, mengabdi di Bandara Liwur Bunga Larat memiliki keunikan tersendiri, karena bandara ini ada di perbatasan dengan negara Australia dan termasuk dalam wilayah Tertinggal, Terluar, Terdepan dan Perbatasan (3TP).

Bandara Liwur Bunga Larat. (dok. bandaraliwurbungalarat)

Jadi, bagi Kabandara Liwur Bunga Larat ini, kawasan Pulau larat yang memiliki potensi hasil laut dan pertanian ini belum terlalu banyak dikunjungi wisatawan.

Pria yang sudah mengabdi di bidang perhubungan selama 31 tahun ini sangat menikmati pekerjaannya di Bandara Liwur Bunga, sama seperti saat bertugas di beberapa bandara di wilayah Palu, yang mendapat sentuhan tangannya, yakni di Ampana, Morowali dan Toli-Toli.

Baca juga :   Bandara Maimun Saleh Sabang Potensial Menggerakkan Ekonomi Daerah

Bapak lima orang anak yang dua anak di antaranya adalah kembar ini sebelum bertugas di Bandara Liwur Bunga Larat ini juga pernah mengabdikan diri ke Bandara Mutiara Sayid Idrus bin Salim (SIS) Al Jufrie di Palu, Sulawesi Tengah.

Saat apel di Bandara Liwur Bunga Larat. (dok. liwurbungalarat)

“Kalau dihitung-hitung, saya sudah melalui tiga dekade di tiga kota, masing-masing wilayah itu memiliki keunikan dan keindahan tersendiri dan menjadi pengalaman yang sangat berharga,” kata Iskandar.

Kakek dua orang cucu ini meyakini bahwa pembangunan Indonesia di bagian Timur, khususnya di wilayah-wilayah 3TP akan terus dilakukan agar terwujud konektivitas yang berkesinambungan dengan berbagai daerah lainnya. B

 

Komentar