Kabandara Lede Kalumbang Agus Priyatmono Mengabdi Untuk NKRI

Kabandara Lede Kalumbang Agus Priyatmono. (dok. pribadi)

Mengabdi untuk negeri indah Indonesia menjadi kewajiban bagi Insan-Insan Transportasi Udara, berada di garda depan dengan mengelola, menjaga dan merawat bandar udara (bandara) yang seringkali berada jauh dari Ibu Kota Negara, Jakarta.

Bagi Insan Transportasi Udara seperti Kabandara Lede Kalumbang Agus Priyatmono, tidaklah masalah berada di baris terdepan, seperti di kawasan Tertinggal, Terluar, Terdepan dan Perbatasan (3TP), karena wilayah-wilayah tersebut ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bandara Lede Kalumbang adalah dulunya bernama Bandara Tambolaka yang mengacu pada Keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia No 206 Tahun 2022 berubah namanya menjadi Bandara Lede Kalumbang di Kabupaten Sumba Barat Daya Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Bandara Lede Kalumbang Melayani Penerbangan untuk tiga Kabupaten yaitu Kabupaten Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya.

“Menjadi kepuasan tersendiri bisa membantu masyarakat yang berada di wilayah 3TP, dengan menerapkan dan mengembangkan ilmu untuk negara tercinta Indonesia,” ujarnya sambil tersenyum.

Menurut Agus, pengabdian bekerja di bandara bukan hanya untuk para stakeholders yang ada, melainkan juga untuk masyarakat yang ada di sekitar bandara dan di sekitar tempat tinggal.

Baca juga :   Bandara Silampari Layani Empat Provinsi

“Karena dengan masyarakat sekitar adalah pengabdian berbagi ilmu dan kebudayaan, mengingat warga Sumba Barat Daya adalah masyarakat yang memiliki adat istiadat yang harus dihormati,” jelasnya.

Bandara Lede Kalumbang atau nama lainnya adalah Bandara Tambolaka. (dok. bandaraledekalumbang)

Agus pernah mengabdi untuk sejumlah daerah yang juga memiliki adat istiadat dan budaya yang berbeda, seperti mengabdi di Bandara Kalimarau, Berau Kalimantan Timur, di Bandara Sanggu Buntok Kab Barito Selatan Kalimatan Tengah, di Bandara Nunukan Provinsi Kalimatan Utara, dan juga di Kantor Otoritas Bandara VII Balikpapan.

Kini, hidupnya diperuntukkan bagi pelayanan optimal di Bandara Lede Kalumbang Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Daerah Sumba Barat Daya sangatlah indah, kata Agus, karena berjajar pantai dan laut yang indah, seperti potensi wisata Pantai Nihi Watu yang terletak 21 km sebelah Selatan Kota Waikabubak.

Pantai Nihi Watu sangat cocok untuk kegiatan diving, surfing dan finishing.

Selain itu, ada Danau Waikuri yang berada di Kabupaten Sumba Barat Daya, dari bandara hanya satu jam perjalanan.

Danau ini terbentuk dari cekungan berdinding batu karang yang senantiasa terisi air dari laut lepas yang berada pada saat air pasang dan airnya terjebak ketika surut menjadi laguna sebening kaca yang memantulkan warna biru kehijau-hijauan.

Baca juga :   Bandara Oksibil; Maksimalkan Kargo Perintis

Di sela-sela batu karang yang menjadi pagar alami danau tumbuh beberapa pohon yang seakan menyembunyikan keindahan danau dari kejauhan.

Tidak Jauh dari Danau Waikuri ada pantai Mandorak, tidak terlalu luas, tapi cocok untuk seru-seruan.

Bisa mulai bermain di pantai yang mempunyai pasir putih yang halus dan dilanjutkan dengan pemandangan karang yang terjal, sedangkan di Mandorak akan bertemu segerombolan anak kecil yang sedang bermain.

Pada awalnya, mereka akan memuji dengan mengatakan ganteng/cantik dan menawarkan sebagai photographer, seperti di Waikuri.

Masih di Kabupaten Sumba Barat Daya, ada tempat yang tidak kalah eksotis adalah Waekelo Sawah Daya, yang terletak pada sumber mata air yang tidak pernah surut dari tahun ke tahun.

Sumber mata air alami itu berada di dalam sebuah gua eksotis, kemudian mengalir ke luar, lalu air tersebut diatur oleh irigasi yang ada di depan gua tersebut.

Keindahan alam inilah yang akan banyak mengundang wisatawan untuk berkunjung ke wilayah Sumba Barat Daya melalui Bandara Lede Kalumbang di Tambolaka. B

 

 

Komentar