Transjakarta Akselerasi Integrasi Moda dan Elektrifikasi Armada Demi Mobilitas Berkelanjutan

Operasional Transjakarta melalui platform SYNTRA, yang terintegrasi dengan teknologi Advanced Driver Assistance System – Driver Monitoring System (ADAS-DMS). (dok. transjakarta)
Bagikan

PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) terus memperkuat komitmennya dalam mengembangkan layanan Bus Rapid Transit (BRT) maupun yang bukan BRT, memperluas integrasi antarmoda dan meningkatkan aksesibilitas publik.

Menurut Direktur Operasional dan Keselamatan Transjakarta Mohamad Deddy Gamawan, langkah strategis tersebut dilakukan guna menghadirkan layanan transportasi perkotaan yang semakin terhubung, andal, aman dan ramah lingkungan.

Hal tersebut dikatakan saat menjadi narasumber dalam Teras Urban Talkshow bertajuk Advancing Sustainable Urban Mobility: Menelaah Peran BRT dan Non-BRT dalam Mendorong Mobilitas Perkotaan Berkelanjutan di University Club Jakarta.

Dalam pemaparannya, Dega menekankan bahwa pengembangan transportasi publik di Jakarta tidak sekadar berfokus pada perluasan jangkauan, tetapi juga pada konektivitas antarlayanan demi kenyamanan mobilitas warga.

Deddy menjelaskan, Transjakarta terus berupaya menghadirkan layanan yang mampu menjangkau lebih banyak wilayah, sekaligus mempermudah perjalanan masyarakat melalui integrasi antarmoda.

Dengan jaringan yang saling terhubung, saat ini coverage area Transjakarta sudah mencapai 92% area Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta. “Masyarakat dapat menikmati moda transportasi publik yang lebih praktis, nyaman dan efisien.”

Hingga saat ini, Transjakarta telah mengoperasikan 240 rute yang mencakup layanan BRT, feeder, Mikrotrans, Transjabodetabek, bus ke hunian rusun, Royaltrans hingga layanan khusus lainnya.

Penguatan jaringan ini dirancang untuk memaksimalkan konsep firstand lastmile connectivity, memastikan perjalanan penumpang terakomodasi dari titik awal hingga destinasi akhir.

Realisasi integrasi fisik dan rute tersebut kini telah terhubung secara strategis di berbagai simpul transportasi, antara lain sebagai berikut:

  • Stasiun MRT Jakarta: Bundaran Hotel Indonesia (HI), ASEAN dan Lebak Bulus.
  • Stasiun LRT Jabodebek: Setia Budi, Rasuna Said, Cikoko, Cawang, Ciliwung, dan Kuningan.

Selain integrasi fisik, masyarakat juga diuntungkan oleh integrasi tarif lintas moda dengan batas maksimum (plafon) Rp10.000 untuk durasi perjalanan hingga 180 menit.

“Integrasi bukan sebatas keterhubungan halte atau rute, melainkan juga kemudahan perpindahan penumpang antar-moda. Oleh karena itu, penguatan integrasi fisik, keterhubungan rute dan keterjangkauan tarif menjadi prioritas utama pengembangan Transjakarta,” tutur Deddy.

Sejalan dengan integrasi layanan, Transjakarta bertransisi menuju ekosistem transportasi rendah emisi melalui percepatan elektrifikasi armada.

Langkah ini mendukung target Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menyediakan 50% angkutan umum bebas polusi pada tahun 2027 dan mencapai 100% pada tahun 2030.

“Untuk mencapai target tersebut, kami menerapkan strategi peremajaan armada, pengadaan bus listrik baru dan program retrofit. Pada tahun 2030, sebanyak 96% kontrak operator eksisting ditargetkan telah bertransformasi menggunakan kendaraan listrik,” ungkapnya.

Dengan penambahan berkelanjutan tersebut, angkutan Transjakarta kini telah mengoperasikan total 500 unit bus listrik di seluruh jaringan layanannya. B

 

 

Komentar

Bagikan