Segenap jajaran Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Banda Aceh menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya calon taruna Muhammad Rasya Fadhillah pada Minggu, 27 September 2026 di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Poltekpel Malahayati Andi Fiardi di kantornya pada Selasa, 30 September 2026.
“Kami telah berupaya memberikan penanganan sesuai prosedur kepada Ananda sejak yang bersangkutan mengalami sakit pada Sabtu, 26 September 2026 dengan keluhan demam,” ujarnya.
Menurut Andi, penanganan semula dilakukan oleh dokter dan tim medis di Poliklinik Poltekpel Malahayati muncul ruam atau bitnik pada tubuh yang semakin bertambah.
“Dalam perkembangannya, karena kondisi ananda tidak juga membaik, yang bersangkutan kemudian dirujuk ke RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh untuk mendapatkan pemeriksaan laboratorium dan penanganan lebih lanjut di IGD,” jelasnya.
Andi menuturkan, pada Minggu, 27 September 2026 pukul 16.14 waktu setempat, kondisi ananda dilaporkan mengalami penurunan secara mendadak (drop) dan selanjutnya ananda dinyatakan meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit tersebut.
Dia menambahkan bahwa Muhammad Rasya Fadhillah (18 tahun) adalah calon Taruna Prodi Sistem Kelistrikan Kapal (SKK) hasil seleksi penerimaan calon taruna program Mandiri Tahun 2026 yang telah mengikuti kegiatan orientasi pembentukan karakter pada 4 – 14 September 2026.
Kegiatan orientasi tersebut meliputi materi pengenalan kampus, kuliah umum dari instansi pemerintah dan kegiatan barisberbaris yang melibatkan 251 orang calon taruna.
Sejak 14 September 2026, Fadhillah telah mengikuti proses pembelajaran di kelas serta berbagai kegiatan rutin di kampus.
“Perlu kami tegaskan pula bahwa kegiatan orientasi tersebut tidak dirancang maupun dilaksanakan menjurus bentuk kekerasan apapun. Demikian pula, kegiatan rutin di kampus tidak melibatkan interaksi antara senior dan yunior sebagai upaya untuk mencegah potensi terjadinya bullying,” ungkap Andi.
Menyusul meninggalnya catar Fadhillah, dia menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada keluarga.
“Atas nama pribadi dan seluruh keluarga besar Poltekpel Malahayati, kami menyampaikan permohonan maaf yang sedalam – dalamnya kepada keluarga atas musibah dan kehilangan ini,” katanya.
Seluruh jajaran Poltekpel Malahayati, dia menambahkan, telah berupaya memberikan penanganan dan pertolongan secara maksimal sejak ananda mengalami sakit.
“Namun, dengan segala upaya yang telah dilakukan, kami belum berhasil menyelamatkan ananda Fadhillah,” jelas Andi.
Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengawal dan mengurus jenazah mulai dari rumah sakit hingga menyerahkan kepada pihak keluarga untuk proses pemakaman sesuai dengan prosedur yang berlaku di Poltekpel Malahayati.
“Meski Ananda Fadhillah masih berstatus calon taruna, bagi kami, dia telah menjadi bagian dari keluarga besar Poltekpel Malahayati. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban kami untuk memberikan pendampingan hingga proses pemakaman di daerah asal, yaitu Lhokseumawe pada Senin, 28 September 2026,” tutur Andi.
Menyikapi berbagai pemberitaan dan konten yang muncul, baik di media mainstream maupun media sosial, mengenai dugaan penyebab kematian, dia meminta semua pihak untuk tidak berspekulasi dan memberikan ruang kepada proses pemeriksaan untuk berjalan secara objektif, serta menunggu pernyataan resmi dari instansi yang berwenang.
“Pihak Kepolisian, dalam hal ini Polres Banda Aceh, telah terlibat menangani kasus ini. Berdasarkan informasi awal yang kami terima, dalam pemeriksaan sementara tidak ditemukan indikasi kekerasan,” ujar Andi.
Namun demikian, katanya, penentuan penyebab kematian secara medis masih menunggu hasil pemeriksaan dan visum dari pihak yang berwenang, yang diperkirakan memerlukan waktu kurang lebih tujuh hari.
Berdasarkan informasi dan data yang saat ini dimiliki Poltekpel Malahayati, termasuk catatan tim medis Poltekpel Malahayati dan informasi dari RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh, terdapat hal – hal medis yang masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebab kematian.
“Namun sekali lagi, demi objektivitas dan untuk menghormati proses pemeriksaan yang sedang berjalan, kami mengajak semua pihak untuk menunggu keseluruhan hasil pemeriksaan dari pihak yang berwenang,” tutur Andi.
Lebih lanjut, dia menambahkan bahwa pihaknya sepenuhnya mendukung upaya pihak berwenang dalam mengungkap penyebab kematian.
“Kami selalu siap memberikan keterangan maupun data yang diperlukan apabila diminta oleh pihak kepolisian,” jelasnya.
Sejauh ini, Poltekpel Malahayati telah melakukan penelusuran internal, menelaah dokumen dan rekaman yang relevan, serta berkoordinasi dengan rumah sakit untuk memastikan kesiapan data dan keterangan yang diperlukan dalam proses pemeriksaan maupun penyelidikan.
Poltekpel Malahayati berkomitmen untuk bersikap terbuka, transparan dan kooperatif.
Apabila dalam proses pemeriksaan ditemukan adanya pelanggaran disiplin maupun tindak kekerasan oleh pihak mana pun, Poltekpel Malahayati akan mendukung penanganannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Kami meminta agar seluruh pihak memberikan ruang bagi proses pemeriksaan medis dan penyelidikan untuk berjalan secara objektif. Perkembangan lebih lanjut akan disampaikan melalui saluran resmi berdasarkan informasi yang telah terverifikasi,” ungkap Andi. B




