Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia atau Indonesian National Air Carriers Association (INACA) menyebutkan pasar domestik menjadi kekuatan utama pengembangan industri penerbangan nasional, sekaligus peluang strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Indonesia, kata Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja, memiliki posisi strategis dalam pengembangan industri penerbangan nasional, karena didukung jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa dan kebutuhan mobilitas yang terus meningkat setiap tahun.
“Market domestik, selain sebagai alat penunjang pertumbuhan ekonomi nasional kita, maka ini adalah market yang menjadi opportunity peluang untuk pelaku industri khususnya operator penerbangan berjadwal maupun tidak berjadwal,” jelasnya saat peluncuran buku Indonesia Aviation Outlook 2026 di Jakarta.
Dia menyatakan, Indonesia masih menjadi salah satu pasar penerbangan paling potensial di kawasan, sehingga menarik perhatian pelaku industri transportasi udara global.
Menurut Denon, sebelum pandemi Covid-19 jumlah perjalanan penumpang udara nasional mencapai sekitar 190 juta perjalanan dengan sekitar 80% berasal dari pasar domestik Indonesia.
Besarnya pasar domestik tersebut menunjukkan sektor penerbangan memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas masyarakat, sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi di berbagai wilayah Indonesia.
Dia menilai pasar domestik yang besar juga membuka peluang luas bagi maskapai berjadwal maupun tidak berjadwal untuk mengembangkan layanan dan memperluas jangkauan operasionalnya.
Selain mendukung konektivitas nasional, industri penerbangan juga berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja dan memberikan nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
“Lebih dari 6 juta lapangan kerja, kemudian kontribusi sekitar US$62,6 juta kepada PDB (Produk Domestik Bruto) kita. Ini memberikan gambaran pentingnya tata kelola industri penerbangan nasional kita di Indonesia,” ungkap Denon.
Dia menjelaskan, Indonesia memiliki berbagai keunggulan yang dapat menjadi modal penting dalam membangun industri penerbangan yang sehat, kuat dan mampu bersaing di tingkat global.
Menurutnya, potensi tersebut perlu dimanfaatkan melalui strategi pengembangan yang terintegrasi agar sektor transportasi udara semakin berkontribusi terhadap pembangunan nasional di masa mendatang.
Melalui penguatan pasar domestik dan kolaborasi seluruh pelaku industri, INACA optimistis penerbangan nasional akan terus tumbuh dan menjadi penggerak penting perekonomian menyambut Indonesia Emas 2045.
INACA juga mendorong adanya insentif perpajakan nol persen untuk impor suku cadang (spare part) pesawat guna meningkatkan efisiensi operasional maskapai dan memperkuat daya saing industri penerbangan nasional.
Selain itu, INACA terus mengusulkan berbagai langkah strategis itu untuk meningkatkan efisiensi industri penerbangan nasional, termasuk mendorong kebijakan fiskal yang mendukung operasional maskapai di Indonesia.
Denon mengatakan, pembahasan mengenai insentif tersebut telah menjadi agenda yang konsisten diperjuangkan INACA selama lebih dari satu dekade bersama berbagai pihak terkait.
Dia menilai efisiensi biaya operasional akan memberikan ruang yang lebih besar bagi maskapai untuk meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperkuat kinerja usaha secara berkelanjutan.
Baginya upaya tersebut juga memerlukan dukungan lintas kementerian, termasuk Kementerian Perhubungan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Keuangan dalam penyusunan kebijakan. B




