Pariwisata Berkelanjutan Jadi Fondasi Daya Saing Global

Pengembangan destinasi wisata kawasan hutan mangrove untuk pariwisata berkelanjutan. (dok. kemenpar)
Bagikan

Transformasi menuju pariwisata berkelanjutan bukan lagi sekadar tren global, melainkan kebutuhan strategis agar Indonesia tetap kompetitif di tengah persaingan destinasi dunia.

Menurut Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa, transformasi menuju pariwisata berkelanjutan bukan lagi sekadar tren global, melainkan kebutuhan strategis agar Indonesia tetap kompetitif di tengah persaingan destinasi dunia.

“Sejalan dengan itu, Kementerian Pariwisata memandang kepariwisataan berkelanjutan sebagai fondasi utama pembangunan pariwisata Indonesia ke depan. Pendekatan ini selaras dengan arah kebijakan pembangunan nasional serta dinamika pariwisata global,” katanya saat membuka Forum STDev Circle bertema Gerakan dan Aksi Kepariwisataan Berkelanjutan secara daring.

Dia menuturkan, lanskap perjalanan dunia telah berubah signifikan, apalagi wisatawan kini semakin sadar terhadap isu lingkungan, pelestarian budaya dan dampak sosial ekonomi sebelum menentukan destinasi tujuan.

Untuk itu, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendorong lima program unggulan sebagai penguatan ekosistem nasional, yakni Peningkatan Keselamatan Berwisata, Desa Wisata, Pariwisata Berkualitas, Event by Indonesia, dan Tourism 5.0.

Kelima program tersebut dirancang untuk menciptakan ekosistem yang tangguh, inklusif, adaptif terhadap teknologi dan berorientasi pada pengalaman wisatawan yang lebih bermakna.

Capaian sektor pariwisata sepanjang tahun 2025 turut menunjukkan arah kebijakan yang berada pada jalur tepat.

Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mencapai 15,39 juta atau tumbuh 10,80%.

Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) menembus 1,20 miliar perjalanan atau meningkat 17,55%.

Pertumbuhan ini mencerminkan optimisme dan kepercayaan pasar terhadap pariwisata Indonesia yang terus bertransformasi.

Pengakuan internasional juga menguatkan posisi Indonesia sebagai destinasi yang semakin diperhitungkan.

Desa Wisata Pemuteran dan Desa Wisata Osing Kemiren menerima penghargaan dari UN Tourism.

Selain itu, sebanyak 33 hotel dan resort di Indonesia memperoleh pengakuan MICHELIN Keys, yang menandai peningkatan kualitas layanan dan pengalaman menginap berstandar global.

“Pada 2026, kami menargetkan penguatan kinerja yang berfokus pada kualitas dan daya saing. Target kunjungan wisman diproyeksikan berada pada kisaran 16,0 hingga 17,6 juta,” jelas Wamenpar.

Dia menekankan, pencapaian tersebut hanya dapat diraih melalui kolaborasi yang kuat antar pemangku kepentingan.

Forum STDev Circle dinilai strategis karena mempertemukan berbagai elemen pendukung dari kelima program unggulan, mulai dari perumus kebijakan, pelaku usaha, akademisi, komunitas hingga generasi muda.

Forum ini juga membahas penguatan green financing, inovasi teknologi, gerakan komunitas dan kontribusi perguruan tinggi dalam membangun ekosistem pariwisata berkelanjutan yang terintegrasi.

Sinergi lintas sektor menjadi kunci untuk memastikan bahwa pertumbuhan pariwisata berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Saya berharap forum ini menjadi titik awal lahirnya kolaborasi konkret dan aksi nyata dalam memperkuat ekosistem kepariwisataan yang inklusif, berkeadilan, serta berkelanjutan di Indonesia,” katanya.

Forum STDev Circle dimoderatori oleh Staf Ahli Bidang Pembangunan Berkelanjutan dan Konservasi Kementerian Pariwisata Frans Teguh.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Mari Elka Pangestu selaku Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Perdagangan dan Kerja Sama Multilateral, sekaligus Ketua Indonesia Sustainable Tourism Council.

Selain itu, hadir juga Guru Besar Universitas Pelita Harapan dan juga Ketua Umum Hildiktipari Diena M. Lemy, lalu Co-founder and COO Atourin Indonesia Reza Permadi, Manager Manajemen Operasional DTW Jatiluwih Ketut Purna, serta Leader World Cleanup Day Andy Bahari. B

 

 

Komentar

Bagikan