Kemenpar Akselerasi Lima Program Unggulan

Rangkaian Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kementerian Pariwisata (Kemenpar) berlanjut dengan dialog interaktif bersama unsur Pentahelix. (dok. kemenpar)
Bagikan

Rangkaian Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kementerian Pariwisata (Kemenpar) berlanjut dengan dialog interaktif bersama unsur pentahelix sebagai langkah memperkuat kolaborasi antara pemerintah, industri, komunitas, akademisi, dan media dalam mengakselerasi lima program unggulan sektor pariwisata.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang berlangsung di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta menjadi bagian dari Rakornas bertema Transformasi Ekosistem Kepariwisataan Nasional Menuju Pencapaian Tahun 2026.

Melalui Sesi 6: Panel Industri dan Masyarakat bertajuk Perspektif Industri dalam Kolaborasi Mendukung Akselerasi 5 Program Unggulan, forum ini menjadi ruang strategis untuk merumuskan langkah – langkah taktis dalam mengintegrasikan program pemerintah dengan kebutuhan dan arah pengembangan industri pariwisata nasional.

Direktur Sistem dan Layanan Integrasi Transportasi Antarmoda Kementerian Perhubungan Amirullah menjelaskan, pemerintah terus memperkuat integrasi transportasi publik guna mendukung kemudahan mobilitas wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.

Menurutnya, sejumlah daerah mulai menghadirkan sistem transportasi yang lebih terintegrasi dan ramah wisatawan.

Dia mencontohkan, di Balikpapan misalnya, angkutan umum telah terhubung langsung dengan terminal kedatangan bandara dan tersedia layanan menuju IKN dengan tarif terjangkau.

Sementara itu, di Purwokerto, akses bus saat ini semakin dekat dengan area stasiun kereta.

Amirullah menjelaskan, pemerintah terus mempermudah akses pembayaran transportasi umum bagi wisatawan mancanegara (wisman) yang belum memiliki uang elektronik lokal.

Saat ini, wisatawan sudah dapat menggunakan kartu Visa maupun Mastercard untuk memperoleh barcode pembayaran transportasi umum seperti kereta dan layanan trans.

“Harapannya para wisatawan tidak lagi bergantung pada kendaraan pribadi. Karena itu, kami mengajak seluruh pelaku industri pariwisata untuk bersama-sama memastikan penggunaan kendaraan wisata yang resmi dan laik jalan,” ujarnya.

Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi DPP GIPI Maulana Yusran menekankan, pentingnya membangun ketahanan industri pariwisata nasional agar mampu beradaptasi terhadap perubahan tren pasar dan dinamika global.

Dia menuturkan, penguatan ekosistem industri melalui inovasi model bisnis dan kolaborasi lintas pelaku usaha menjadi fondasi penting dalam menciptakan sektor pariwisata yang kompetitif, inklusif, serta berkelanjutan.

“Penguatan ekosistem asosiasi industri melalui inovasi model bisnis dan kolaborasi lintas pelaku usaha adalah fondasi utama untuk menciptakan pariwisata yang kompetitif dan inklusif dalam jangka panjang,” tutur Maulana.

Dia juga mengingatkan pentingnya penyusunan cetak biru pembangunan destinasi agar pengembangan pariwisata tetap menjaga keberlanjutan budaya lokal sebagai daya tarik utama Indonesia.

Sementara itu, Direktur SDM dan Digital InJourney Herdy Harman menilai, sektor pariwisata kini menjadi fokus utama banyak negara, karena kontribusinya terhadap ekonomi nasional.

Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat daya saing pariwisata di tingkat global dan berdasarkan hasil riset, setiap tambahan satu juta kunjungan wisman dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 1%.

Herdy menambahkan, persaingan dengan negara-negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia dan Tailan hanya dapat dimenangkan melalui kolaborasi berbasis ekosistem antarpemangku kepentingan. “Ekosistem dan kolaborasi adalah rumus utama pariwisata.”

Dari sisi dunia usaha, Vice President Corporate Social Responsibility PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) Nona Faletta Aryuni Sumanang menjelaskan, transformasi program CSR Bakti BCA yang kini berfokus pada penguatan sistem dan peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia.

“Kami percaya bahwa individu yang berdaya akan membentuk komunitas yang mandiri dan berkelanjutan. Ketika fondasi ekonominya kuat, kesadaran menjaga lingkungan dan budaya akan tumbuh secara alami,” ungkapnya.

Founder Desa Wisata Institute Hannif Andy Al Anshori mengatakan, tantangan pengembangan desa wisata di Indonesia.

Meski jumlah desa wisata yang tercatat di platform Jadesta telah mencapai 6.201 desa pada tahun 2026, lanjutnya, hampir 80% masih berada pada tahap rintisan, sedangkan desa wisata mandiri jumlahnya belum mencapai 1%.

“Masa depan pariwisata Indonesia berada di tangan desa – desa yang adaptif, berkualitas dan berkelanjutan,” ujar Hannif.

Creative Director NAVA+ Stevie Sulaiman menambahkan bahwa kekuatan pariwisata Indonesia tidak hanya terletak pada keindahan alam, tetapi juga pada keunikan cerita dan identitas setiap daerah.

Menurutnya, penguatan branding berbasis cerita lokal akan memperkuat pengalaman wisatawan, sekaligus membangun citra pariwisata Indonesia yang semakin berkelas.

“Jika setiap daerah mampu menggali dan mengangkat cerita uniknya sendiri, maka seluruhnya akan menyatu menjadi kekuatan besar bagi pariwisata Indonesia,” kata Stevie.

Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan turut memaparkan kebijakan visa terbaru yang dirancang untuk mempermudah akses wisatawan, sekaligus menjaga keamanan lalu lintas orang yang masuk ke Indonesia. B

 

Komentar

Bagikan