Kemenhub Tekankan Pentingnya Penguatan SDM Ahli Bandar Udara

Kegiatan Musyawarah Nasional (Munas) Ikatan Ahli Bandar Udara Indonesia (IABI) Tahun 2026. (dok. hubudkemenhub)
Bagikan

Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Lukman F. Laisa membuka Musyawarah Nasional (Munas) Ikatan Ahli Bandar Udara Indonesia (IABI) Tahun 2026 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.

Pembukaan kegiatan tersebut sekaligus menyampaikan sambutan yang menegaskan pentingnya penguatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) kebandarudaraan sebagai fondasi pembangunan bandar udara (bandara) yang aman, modern dan berdaya saing global.

Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pengurus IABI, para akademisi, praktisi, konsultan, kontraktor, operator bandar udara, profesional penerbangan, dan para peserta Munas IABI Tahun 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Lukman menyampaikan apresiasi kepada IABI yang selama ini telah menjadi wadah bagi para profesional, akademisi dan praktisi untuk berkontribusi dalam pengembangan sektor kebandarudaraan nasional.

“Atas nama Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, saya menyampaikan apresiasi kepada Ikatan Ahli Bandar Udara Indonesia atas dedikasi dan kontribusinya dalam mendukung pembangunan kebandarudaraan nasional,” ujarnya.

Menurut Dirjen Lukman, sinergi antara pemerintah, organisasi profesi, akademisi dan industri menjadi modal penting dalam mewujudkan sistem transportasi udara yang semakin maju.

Dia menambahkan, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia membutuhkan jaringan bandara yang andal untuk memperkuat konektivitas antarwilayah, mendorong pertumbuhan ekonomi, mendukung sektor pariwisata, dan memperluas akses masyarakat terhadap layanan transportasi udara.

Saat ini, Indonesia memiliki 257 bandara yang beroperasi. Selain itu, pemerintah juga telah menetapkan 39 lokasi yang direncanakan untuk pembangunan bandara baru sebagaimana tercantum dalam Tatanan Kebandarudaraan Nasional, sehingga total Rencana Induk Bandar Udara Nasional mencakup 296 bandara.

Jaringan tersebut mencerminkan komitmen pemerintah dalam menghadirkan konektivitas yang merata hingga ke wilayah terdepan, terluar dan tertinggal.

Lukman menjelaskan, pembangunan bandar udara di Indonesia telah dilakukan pada berbagai kondisi geografis yang kompleks, mulai dari kawasan rawa, tanah gambut, pesisir pantai, pegunungan hingga pulau – pulau kecil.

Berbagai tantangan tersebut berhasil diatasi melalui penerapan teknologi rekayasa dan inovasi konstruksi yang terus berkembang.

“Pengalaman membangun bandar udara di berbagai karakteristik wilayah telah menjadi modal yang sangat berharga bagi Indonesia. Ke depan, pembangunan bandar udara tidak hanya berorientasi pada infrastruktur fisik, tapi juga harus mengedepankan keselamatan, keberlanjutan, pemanfaatan teknologi, dan ketahanan terhadap perubahan iklim,” tutur Lukman.

Dia menekankan, keberhasilan pembangunan bandar udara tidak terlepas dari peran para ahli di berbagai bidang, mulai dari perencanaan, desain, konstruksi, pengawasan hingga pengoperasian bandar udara.

Oleh karena itu, katanya, peningkatan kompetensi SDM menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung transformasi kebandarudaraan nasional.

Lukman juga mendorong agar IABI terus memperkuat perannya sebagai organisasi profesi yang mampu menjadi pusat pengembangan kompetensi, inovasi dan kolaborasi para ahli bandar udara Indonesia, termasuk mengembangkan sistem sertifikasi profesi yang diakui secara nasional maupun internasional.

“Saya berharap IABI menjadi rumah besar bagi para ahli bandara Indonesia, melahirkan SDM yang profesional, adaptif terhadap perkembangan teknologi, seperti Artificial Intelligence dan mampu berkontribusi tidak hanya dalam pembangunan bandara di Indonesia, tetapi juga pada berbagai proyek kebandarudaraan di tingkat regional maupun global,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (Apjapi) Alvin Lie, yang diundang sebagai narasumber dalam Musyawarah Nasional IABI Tahun 2026, mengatakan forum tersebut menjadi momentum penting untuk mempertemukan para pakar kebandarudaraan dan penerbangan.

“IABI mengumpulkan para pakar untuk berdiskusi tidak hanya mengenai pengembangan bandar udara, tapi juga berbagai dinamika dan tantangan yang dihadapi industri penerbangan saat ini. Kami berharap dari forum ini lahir berbagai gagasan dan solusi yang dapat berkontribusi dalam memperbaiki ekosistem penerbangan Indonesia,” tuturnya.

Melalui penyelenggaraan Munas IABI Tahun 2026, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara berharap kolaborasi antara pemerintah, akademisi, operator bandar udara, industri, dan organisasi profesi semakin erat dalam membangun ekosistem kebandarudaraan yang inovatif, aman, berkelanjutan, serta berdaya saing internasional.

Munas IABI Tahun 2026 juga menjadi momentum peralihan kepengurusan organisasi dari Ketua Umum IABI periode 2016 – 2026 Moh. Iksan Tatang kepada M. Pramintohadi Soekarno sebagai Ketua Umum IABI untuk masa bakti 2026 – 2029.

Turut hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut Wakil Menteri Perhubungan periode 2009 – 2014, Bambang Susantono, yang berbagi pandangan mengenai pentingnya transformasi bandar udara menuju konsep Eco Airport dan Smart Airport. B

Komentar

Bagikan