
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Ditjen Hubud Kemenhub) menyampaikan simpati dan keprihatinan yang mendalam atas terjadinya gempa bumi dengan Magnitudo (M) 7,7 pada sejumlah wilayah di Kepulauan Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sebagai langkah mitigasi guna memastikan keselamatan penerbangan, Ditjen Hubud bersama dengan penyelenggara bandar udara (bandara) dan pelayanan navigasi penerbangan terus melakukan pemeriksaan serta pemantauan kondisi fasilitas, personel, serta operasional penerbangan di wilayah terdampak.
Berdasarkan informasi Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) BMKG, gempa utama tercatat dengan Magnitudo 7,0 pada pukul 05.58 Wita sekitar 38 km Timur Laut Mbay, Nagekeo, dengan kedalaman 10 km.
Selain itu, tercatat gempa Magnitudo 6,2 pada pukul 06.13 Wita dengan pusat gempa di laut sekitar 46 km timur laut Labuan Bajo, pada kedalaman 10 km.
Saat ini, terdapat lima bandara yang dilaporkan terdampak, yaitu:
1. Bandar Udara Komodo – Labuan Bajo.
2. Bandar Udara H. Hasan Aroeboesman – Ende.
3. Bandar Udara Umbu Mehang Kunda – Waingapu.
4. Bandar Udara Frans Sales Lega – Ruteng.
5. Bandar Udara Soa – Bajawa.
Kerusakan yang dilaporkan antara lain berupa kerusakan dan retakan pada bangunan terminal, gedung administrasi, gedung PKP-PK, serta fasilitas pendukung lainnya.
Pada Bandara Soa Bajawa, berdasarkan laporan awal, terdapat kerusakan sedang pada runway dan sejumlah bangunan, serta fasilitas pendukung, termasuk adanya retakan baru di beberapa titik.
Sementara itu, pada aspek pelayanan navigasi penerbangan, terdapat unit pelayanan yang terdampak, yaitu Cabang Pembantu Labuan Bajo, Cabang Pembantu Ende, Unit Maumere, Unit Bajawa, dan Unit Ruteng.
Seluruh personel penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan di lokasi yang terdampak dilaporkan dalam kondisi selamat.
Pada sejumlah lokasi, khususnya yang mengalami kerusakan pada gedung tower, pelayanan navigasi untuk sementara dilaksanakan dari lokasi yang dinilai aman.
Contingency plan juga disiapkan untuk memastikan keselamatan dan keberlangsungan pelayanan navigasi penerbangan.
Ditjen Hubud menempatkan aspek keselamatan penerbangan sebagai prioritas utama.
Pemeriksaan kondisi fasilitas dan infrastruktur bandar udara serta fasilitas navigasi penerbangan terus dilakukan.
Mengenai kesiapan pengiriman bantuan ke masyarakat dilakukan dengan skema Get Airport Ready for Disaster (GARD).
Terkait dengan perkembangan operasional penerbangan, masyarakat pengguna jasa transportasi udara di wilayah terdampak diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti informasi resmi dari pengelola bandara, serta maskapai penerbangan.
Ditjen Hubud Kemenhub akan terus memonitor perkembangan situasi dan melakukan koordinasi dengan seluruh pihak terkait.
Informasi mengenai kondisi bandara, pelayanan navigasi penerbangan dan perkembangan operasional penerbangan akan disampaikan lebih lanjut setelah hasil pemeriksaan, serta asesmen terbaru diterima. B



