Kaum Perempuan Sudah Menduduki Posisi Puncak di Kemenhub

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi dalam seminar Peran Perempuan Penghubung di Sektor Transportasi yang diselenggarakan AirNav Indonesia di SMMILE Center, Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Ttangerang pada Kamis (29/9/2022). (dok. bandara)
Bagikan

Banyak kaum perempuan yang menduduki posisi puncak jabatan di Kementerian Perhubungan (Kemenhub), sehingga bisa berperan dalam sektor transportasi dan juga dalam keluarga.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menyatakan bahwa kaum perempuan di sektor transportasi sudah tidak asing lagi, bahkan sekarang posisi jabatan kaum pria dan perempuan sudah setara.

“Kaum perempuan di sektor transportasi sama baiknya dengan kaum pria, terbukti di sektor transportasi ada sedikitnya empat posisi puncak sudah di jabat oleh kaum perempuan,” katanya dalam sambutan seminar Peran Perempuan Penghubung di Sektor Transportasi yang diadakan AirNav Indonesia di SMMILE Center, Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang pada Kamis (29/9/2022).

Perempuan-perempuan di jajaran Insan Transportasi di antaranya ada Direktur Utama AirNav Indonesia Polana Banguningsih Pramesti, Direktur Utama PT Pelni Tri Andayani dan Direktur Konstruksi PT Mass Rapid Transit Jakarta (PT MRT) Silvia Halim.

“Sudah terbukti kaum perempuan mampu memimpin di berbagai sektor penunjang transportasi, sehingga sektor ini menampilkan sisi feminin dari perempuannya. Selain handal, berdaya saing, memiliki kemampuan dan mampu menginspirasi dalam lingkungan kecil maupun besar,” jelas Menhub.

Kaum perempuan, lanjutnya, juga dapat menghasilan inovasi tanpa mengurangi kodratnya dalam kehidupan dan memiliki kapasitas sebagai profesional untuk menciptakan inovasi dan mampu ikut serta memajukan sektor transportasi di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut Direktur Utama AirNav Indonesia Polana Banguningsih Pramesti memberi sambutan bahwa perempuan sektor transportasi mampu menumbuhkan mental mindset, bahkan kaum perempuan mempunyai peran penting.

“Banyak bukti bahwa kaum perempuan di sektor transportasi mampu memimpin dan memiliki kapasitas profesional, sehingga dibuat seminar Peran Perempuan Penghubung di Sektor Transportasi,” tuturnya.

Pada seminar tersebut tampil beberapa puncak pimpinan di sektor transportasi dari kaum perempuan dan juga perempuan yang bekerja di sektor tersebut.

Baca juga :   Jalan Tol Akses Bandara Kertajati Beroperasi
Direktur Utama AirNav Indonesia Polana Banguningsih Pramesti dalam seminar Peran Perempuan Penghubung di Sektor Transportasi. (dok. bandara)

Para pembicara tersebut adalah Vice President Corporate Secretary PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter) Anne Purba, Ketua Umum Organisasi Pengusaha Perusahaan Pelayaran Angkutan Niaga (Indonesia National Shipowners’ Association/INSA) Carmelita Hartoto.

Selain itu, Direktur Pemasaran dan Pelayanan PT Angkasa Pura I Devy Suradji Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Angkasa Pura II Hilda Savitri, pilot Capt. Sarah dan Masinis PT Mass Rapid Transit (MRT) Railway Manajemen Tiara Alinsia.

Pada kesempatan sesi pertama, Anne Purba sebagai Vice President Corporate Secretary PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter) menyatakan tentang cara mengubah budaya berkereta api, dari hasil kerja sama antara Kemenhub dan PT Kereta Api Indonesia (KAI).

“Awal-awalnya adalah mengubah culture dan mengedukasi penumpang untuk ikut melakukan perubahan dan mengajak stakeholder untuk melihat langsung aktivitas karyawan kereta api,” ungkapnya.

Menurut Anne, menumbuhkan leadership juga sebagai perubahan budaya dan komunikasi sekarang ini di perkeretaapian harus dari semua lini, sehingga transportasi menjadi rumah untuk semua komunitas.

Sementara itu, Ketua Umum Organisasi Pengusaha Perusahaan Pelayaran Angkutan Niaga (Indonesia National Shipowners’ Association/INSA) Carmelita Hartoto menuturkan, pertama kali untuk mengurus organisasi adalah perhatian pada mayoritas pemilik kapal yang dari kaum pria.

“Setidaknya harus bisa sama dengan saat kaum pria dalam menduduki jabatan ketua umum organisasi INSA. Saya sudah tiga periode dan hal ini menjadi tantangan tersendiri,” tuturnya.

Carmelita menilai perempuan di sektor pelayaran harus saling mendukung, karena tidak bersaing dengan kaum pria, tapi bersaingnya dengan kaum perempuan. “Jadi, yang penting itu bagi saya, sporting women, sporting each other.”

Untuk itu, lanjutnya, pihaknya mengajak kamu perempuan atau memberikan tempat bagi teman-teman dan adik-adik perempuan yang memiliki potensi, serta memberikan jalan bagi mereka untuk mengembangka sektor pelayaran.

Baca juga :   Pelabuhan Patimban Jelang Peralihan Operator

Sementara itu, Direktur Pemasaran dan Pelayanan PT Angkasa Pura I (Angkasa Pura Airport) Devy Suradji berupaya untuk menyeimbangkan peran ganda agar sukses dalam karir dan keluarga.

“Kaum perempuan berkarir itu harus bebas dari rasa tertekan, karena tantangannya berat, apalagi karyawan kaum perempuan di Angkasa Pura Airports baru 25%, selebihnya yang 75% adalah pria,” ujarnya.

Devy menjelaskan tentang strategi untuk mengembangkan potensi kepemimpinan kaum perempuan, di antaranya Srikandi Angkasa Pura I  pada 21 April 2021.

“Perkumpulan itu merupakan wadah bagi kaum perempuan di BUMN ini untuk meningkatkan kemampuan diri, mewujudkan kesetaraan genderdan membawa nilai kemajuan bagi perusahaan, serta masyarakat,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Angkasa Pura II Hilda Savitri mengungkapkan bahwa seringkali orang tidak percaya kaum perempuan Indonesia mampu dalam pekerjaannya.

“Bahkan, seringkali orang-orang berbicara atau bertanya tentang pekerjaan untuk tes kemampuan kami, kaum perempuan, apalagi di skala internasional. Maka dari itu, kaum perempuan harus memiliki kompetensi jika memang ingin berkarir,” ungkapnya.

Pada seminar itu juga disampaikan tentang hasil Indonesia Transport Safety Assistance Package (ITSAP) oleh Gena Lisistrasa yang merupakan Prospera Kemitraan Australia dan Indonesia.

Hasil penelitian itu di antaranya menunjukkan bahwa perempuan Indonesia di bidang publik dan politik, karena kondisi sudah semakin terbuka.

Bahkan, sudah ada ketentuan 30% keterlibatan perempuan di parlemen dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menetapkan keterlibatan perempuan sebesar 15% di posisi kepemimpinan pada tahun 2021 dan sebesar 20% pada tahun 2023. B

 

 

 

Komentar

Bagikan