Indonesia dan Inggris Sepakati Kerja Sama Program Transportasi Rendah Karbon

Pemerintah Indonesia dan Inggris menyepakati program Future Cities: UK-Indonesia Low Carbon Partnership. (dephub.go.id)
Bagikan

Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Inggris menyepakati kerja sama program pengembangan transportasi rendah karbon di Indonesia dengan telah dilakukan seremonial peluncuran program Future Cities: UK-Indonesia Low Carbon Partnership.

Program ini merupakan langkah awal dari komitmen kedua negara untuk memitigasi dampak perubahan iklim melalui pengembangan transportasi publik perkotaan yang ramah lingkungan.

Hadir dalam seremonial peluncuran program kerja sama kedua negara, Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Dirjen Hubdar Kemenhub) Hendro Sugiatno. Sebelumnya, penandatanganan kesepakatan (Implementing Agreement) untuk memulai kerjassama telah dilakukan oleh Sekretaris Jenderal Kemenhub Novie Riyanto dan Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste Owen Jenkins.

Penandatanganan tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman yang telah ditandatangani oleh Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi dengan Menteri Perhubungan Inggris Wendy Morton MP pada Juni 2022.

Dirjen Hubdar Hendro menyatakan, Pemerintah Indonesia melalui Kemhub menyambut baik pelaksanaan program kerja sama ini dengan harapan dapat membantu pengembangan sistem transportasi perkotaan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan di Indonesia.

“Upaya peningkatan kualitas transportasi sejalan dengan upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mitigasi dampak perubahan iklim,” katanya, Selasa (5/7/2022).

Baca juga :   Kemenhub Raih Opini Wajar Tanpa Pengecualian Sebanyak Sembilan Kali

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, Kemenhub memiliki tugas tidak hanya untuk meningkatkan konektivitas perkotaan melalui penyediaan angkutan umum massal, tapi juga berkontribusi pada penurunan emisi (dekarbonisasi) di sektor transportasi.

“Kami tengah mengembangkan sejumlah angkutan umum massal perkotaan baik dalam bentuk Bus Rapid Transit (BRT) maupun di sektor perkeretaapian yang berbasis rel, yang terintegrasi dan juga menggunakan energi listrik,” ungkapnya.

Melalui kerja sama ini, Hendro berharap upaya tersebut dapat dilakukan dengan lebih terukur, terstruktur, terakselerasi dan lebih andal dalam merencanakan dan mengimplementasikan sistem transportasi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Pada kesempatan yang sama, Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste Owen Jenkins menyambut baik adanya kerja sama ini. Menurutnya, kemitraan di bidang transportasi sangat penting, agar lebih percaya diri untuk menjalankan komitmen dari konferensi di Glasgow dan juga dalam rangka mewujudkan transisi menuju kendaraan nol emisi (zero emission).

“Kami berupaya untuk menegakkan Perjanjian Paris untuk menekan kenaikan suhu bumi di bawah 1,5 °C dan berupaya melaksanakan dekarbonisasi di sektor transportasi, karena 25% emisi GRK dihasilkan dari sektor transportasi,” tuturnya.

Baca juga :   Bandara Komodo Antisipasi Wisatawan Ke Labuan Bajo dan Ende

Pemerintah Inggris melalui UK Partnering for Accelerated Climate Transition (UK PACT) memberikan dukungan pendanaan sebesar sembilan juta Poundsterling atau sekitar Rp162 miliar untuk pengembangan transportasi perkotaan yang ramah lingkungan di sejumlah provinsi di Indonesia.

Wilayah-wilayah tersebut adalah Sumatra Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

Melalui program ini, kedua negara bersama-sama ingin menangkap peluang besar, seperti pengembangan peta jalan untuk elektrifikasi kendaraan umum secara efisien, pengintegrasian solusi ramah iklim ke dalam perencanaan pembangunan nasional dan daerah, serta perancangan proyek transportasi rendah karbon yang mampu menarik investasi.

Kelima proyek dalam program Future Cities ini adalah integrasi pengembangan LRT dan transit-oriented development dan land value capture di Metropolitan Semarang.

Selain itu, program transisi menuju transportasi rendah karbon yang inklusif melalui perbaikan aspek keselamatan bagi kaum rentan, kemudian program penguatan transportasi kota berkelanjutan di kota pesisir, lalu dekarbonisasi transportasi yang inklusif di Indonesia dan program mobilitas bersih untuk area metropolitan Jakarta. B

 


Bagikan