
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan berbagai teknologi kereta api nasional, mulai dari sistem pemantauan jembatan secara real-time hingga bantalan rel berbahan karet yang lebih aman dan tahan lama.
Langkah ini dinilai dapat menjadi modal penting bagi pengembangan transportasi berbasis rel di Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi pada masa mendatang.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (Menko AHY) menyatakan, pengembangan jaringan perkeretaapian kini difokuskan di luar Pulau Jawa.
Menurutnya, langkah tersebut merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto yang masuk dalam Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN).
“Visi besar Bapak Presiden, kita ingin memastikan Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi tidak tertinggal terlalu jauh. Dengan membangun jaringan kereta api yang terintegrasi, kita bisa menekan biaya logistik secara signifikan dan meningkatkan daya saing,” ujar Menko AHY.
Wilayah lain, dia menambahkan, seperti Kalimantan yang selama ini belum memiliki jaringan kereta api umum, berpotensi menjadi bagian dari pengembangan transportasi berbasis rel di masa depan.
Seiring dengan rencana tersebut, BRIN juga terus mengembangkan berbagai riset dan inovasi di bidang perkeretaapian.
Menurut Kepala BRIN Arif Satria, penelitian yang dilakukan tidak hanya berfokus pada aspek teknis seperti mesin atau gerbong kereta, tetapi juga menyentuh aspek sosial, kelembagaan dan lingkungan.
“Paling tidak, ada tiga riset yang ada, yang pertama adalah riset aspek sosial kelembagaan. Kemudian, kedua riset penumpang dan yang ketiga berkaitan dengan lingkungan,” tuturnya.
Dia menjelaskan, saat ini juga mendorong peningkatan kemampuan engineering nasional, baik pada mesin maupun gerbong kereta api.
Upaya tersebut dilakukan agar proses alih teknologi berlangsung lebih cepat, kata Arif, sehingga Indonesia memiliki kemampuan yang lebih mandiri dalam mengembangkan industri perkeretaapian.
Dia menilai, keberhasilan sejumlah negara dalam mengembangkan teknologi kereta api modern tidak lepas dari investasi besar di bidang engineering dan penguasaan teknologi.
Tidak hanya mengembangkan sarana, BRIN juga melakukan inovasi pada sektor prasarana.
Salah satu teknologi yang sedang dikembangkan adalah Structural Health Monitoring System atau sistem pemantauan kesehatan struktur jembatan kereta api.
Teknologi ini memungkinkan kondisi jembatan dipantau secara berkala dan real time sehingga kerusakan dapat dideteksi lebih dini sebelum membahayakan operasional.
Inovasi tersebut dinilai penting karena banyak jembatan kereta api di Indonesia yang telah berusia puluhan tahun dan membutuhkan sistem pengawasan yang lebih modern.
Selain itu, BRIN juga mengembangkan material baru berupa bantalan rel berbasis karet.
Material tersebut telah melalui berbagai pengujian teknis dan diharapkan mampu meningkatkan stabilitas lintasan, serta mengurangi getaran saat kereta melintas.
“Penggunaan material inovatif juga berpotensi memperpanjang usia infrastruktur, sekaligus menekan biaya perawatan dalam jangka panjang,” ungka[p Arif.
Meskipun hingga kini Kalimantan belum memiliki jaringan kereta api umum seperti di Jawa dan Sumatra, berbagai rencana pembangunan rel di Pulau Kalimantan terus bermunculan, terutama untuk mendukung logistik dan konektivitas kawasan.
Keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN), pertumbuhan kawasan industry dan meningkatnya kebutuhan distribusi barang membuat kebutuhan terhadap sistem transportasi yang efisien semakin besar.
Pada sisi lain, pengembangan teknologi yang dilakukan BRIN dapat menjadi modal penting apabila pembangunan jaringan kereta api di Kalimantan benar – benar direalisasikan pada masa depan.
“Pasalnya, pembangunan kereta api tidak hanya membutuhkan rel dan stasiun, tetapi juga dukungan riset, inovasi teknologi, sumber daya manusia, serta kemampuan industri nasional yang kuat,” jelas Arif. B



