Garuda Indonesia Masih Rugi Rp3,24 Triliun di Kuartal III/2026

Sejumlah pesawat maskapai Garuda Indonesia. (dok. garudaindonesia)
Bagikan

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) masih mencatatkan kerugian sebesar US$181,37 juta atau setara Rp3,24 triliun pada Kuartal III/2026 (kurs Rp17.877 per dolar AS per 30 September 2026).

Namun demikian, kerugian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tersebut turun 5,54% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$192 juta atau setara Rp3,43 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan yang tidak diaudit, Garuda Indonesia membukukan pendapatan usaha sebesar US$2,71 miliar atau setara Rp48,39 triliun pada Kuartal III/2026.

Nilai tersebut meningkat 13,24% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$2,39 miliar atau setara Rp42,73 triliun.

Pendapatan penerbangan berjadwal menjadi kontributor terbesar dengan perolehan US$2,08 miliar atau setara Rp37,15 triliun.

Jumlah tersebut meningkat 12,64% dibandingkan dengan Kuartal III/2025 sebesar US$1,84 miliar atau setara dengan Rp32,98 triliun.

Sementara itu, pendapatan penerbangan tidak berjadwal atau charter tercatat sebesar US$305,83 juta atau setara Rp5,47 triliun.

Jumlah tersebut naik 2,10% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$299,55 juta atau setara Rp5,36 triliun.

Adapun beban usaha Garuda Indonesia mencapai US$2,64 miliar atau setara dengan Rp47,29 triliun pada Kuartal III/2026.

Angka tersebut meningkat 15,70% dibandingkan dengan Kuartal III/2025 sebesar US$2,29 miliar atau setara Rp40,87 triliun.

Dari aspek neraca keuangan, total liabilitas Garuda Indonesia tercatat sebesar US$7,41 miliar atau setara Rp132,47 triliun pada Kuartal III/2026.

Jumlah tersebut turun 2,22% dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2025 sebesar US$7,58 miliar atau setara Rp135,48 triliun.

Liabilitas jangka panjang tercatat sebesar US$5,83 miliar atau setara Rp104,23 triliun, turun 23,07% dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2025 sebesar US$7,58 miliar atau setara Rp135,48 triliun.

Sebaliknya, liabilitas jangka pendek meningkat 14,92% menjadi US$1,57 miliar atau setara Rp28,08 triliun dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2025 sebesar US$1,37 miliar atau setara Rp24,44 triliun.

Sementara itu, ekuitas Garuda Indonesia tercatat negatif atau mengalami defisiensi modal sebesar US$120,79 juta atau setara Rp2,16 triliun pada Kuartal III/2026.

Kondisi tersebut berbalik dibandingkan posisi akhir tahun 2025, ketika perseroan masih membukukan ekuitas positif sebesar US$44,44 juta atau setara Rp794,45 miliar.

Total aset Garuda Indonesia tercatat sebesar US$7,28 miliar atau setara Rp130,15 triliun pada Kuartal III/2026.

Jumlah tersebut turun 4,49% dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2025 sebesar US$7,62 miliar atau setara Rp136,28 triliun.

Sejalan dengan penurunan aset, kas dan setara kas perseroan juga menyusut. Pada Kuartal III/2026, kas dan setara kas Garuda Indonesia tercatat sebesar US$457,36 juta atau setara Rp8,18 triliun, turun 51,52% dibandingkan posisi akhir tahun 2025 sebesar US$943,40 juta atau setara Rp16,87 triliun. B

 

Komentar

Bagikan