AirAsia X Berhad (AAX/AirAsia Group) mencatat babak baru dalam pengembangan armadanya melalui kesepakatan pembelian pasti dengan Airbus untuk 150 unit Airbus A220-300, dengan nilai sekitar US$19 miliar berdasarkan harga katalog.
Kesepakatan ini juga memberikan fleksibilitas bagi AirAsia untuk meningkatkan jumlah pemesanan hingga total 300 unit pesawat dari keluarga A220, seiring dengan kebutuhan pertumbuhan group di masa mendatang.
Pemesanan ini menjadi pesanan pasti terbesar di dunia untuk pesawat tipe A220 yang pernah dilakukan oleh sebuah maskapai.
Langkah tersebut sekaligus menandai arah baru strategi armada AirAsia ke depan, dengan fokus pada efisiensi operasional dan penguatan profitabilitas di tengah dinamika pasar global yang terus berkembang.
Pengumuman pemesanan ini disampaikan dalam acara penandatanganan yang digelar di fasilitas Airbus di Mirabel, Kanada dan dihadiri oleh Chief Executive Officer Capital A, sekaligus Advisor AirAsia Group Tan Sri Tony Fernandes bersama dengan Chief Executive Officer Airbus Commercial Aircraft Lars Wagner.
Acara tersebut turut disaksikan oleh Perdana Menteri Kanada Mark Carney dan Premier (Kepala Pemerintahan) Quebec Christine Frechette.
Melalui pemesanan ini, AirAsia menjadi maskapai pertama di dunia yang mengoperasikan konfigurasi Airbus A220 terbaru berkapasitas 160 kursi.
Varian ini akan menjadi tulang punggung armada generasi berikutnya dengan efisiensi yang lebih optimal, sekaligus menghadirkan kapasitas yang lebih sesuai untuk mendukung profitabilitas pada rute dengan tingkat permintaan menengah.
Keluarga Airbus A220 juga dirancang fleksibel untuk mendukung kebutuhan pengembangan armada AirAsia ke depan, termasuk melalui varian A220-500 yang diproyeksikan menjadi penerus armada A320 dengan kapasitas serupa di atas 180 kursi.
Dengan dukungan teknologi mesin terbaru, Airbus A220 menjadi salah satu pesawat paling efisien di kelasnya dengan kombinasi ideal antara kapasitas dan jangkauan penerbangan.
Dibandingkan dengan A320ceo, pesawat ini 20% lebih hemat bahan bakar serta menghasilkan sekitar 20% emisi lebih rendah.
Airbus A220 menjadi bagian yang tepat dalam strategi armada multi-kapasitas AirAsia Group.
Pesawat ini memberikan fleksibilitas lebih besar bagi AirAsia dalam menyesuaikan kapasitas dengan permintaan pasar, sekaligus memungkinkan peningkatan frekuensi penerbangan di rute – rute yang sudah ada.
Dengan frekuensi yang lebih tinggi, penumpang dapat menikmati lebih banyak pilihan jadwal keberangkatan setiap hari, konektivitas yang lebih baik dan pengalaman perjalanan Fly-Thru yang lebih nyaman.
Selain itu, kapasitas Airbus A220 memungkinkan AirAsia mencapai profitabilitas dengan jumlah penumpang yang lebih sedikit dibandingkan pesawat narrow-body berukuran lebih besar.
Hal ini membuka peluang untuk mengembangkan pasar – pasar berkembang dengan permintaan yang masih kecil serta hub sekunder yang sebelumnya belum layak secara komersial, sejalan dengan misi AirAsia untuk mendekatkan dunia dan menghadirkan kesempatan terbang bagi semua orang.
Menanggapi pemesanan bersejarah ini, Group CEO AirAsia Group Bo Lingam mengatakan, selama lebih dari dua dekade, AirAsia telah mendekatkan berbagai penjuru dunia.
“Kami membangun Malaysia menjadi salah satu pusat maskapai berbiaya hemat terkemuka di dunia, sekaligus membuka akses perjalanan udara bagi jutaan masyarakat di Asia yang sebelumnya belum pernah terbang,” jelasnya.
Pesawat ini memungkinkan kami membangun jaringan yang lebih luas dengan frekuensi penerbangan yang lebih tinggi, sekaligus mendukung efisiensi operasional yang lebih baik.
Dengan jangkauan hingga tujuh jam, kata Bo Lingam, pesawat ini membuka berbagai peluang baru dan memungkinkan untuk menghadirkan kapasitas yang lebih sesuai dengan permintaan pasar, sekaligus memberikan fleksibilitas lebih besar bagi penumpang melalui pilihan jadwal penerbangan yang semakin beragam.
“Kami telah memperluas akses perjalanan udara di Asia dengan membuka rute – rute yang sebelumnya belum memungkinkan untuk dilayani, dan kini kami siap menghadirkan konektivitas tersebut dalam skala yang lebih luas di tingkat global,” tuturnya.
CEO Capital A, sekaligus Advisor AirAsia Group Tony Fernandes menambahkan, di tengah tingginya harga bahan bakar dan ketidakpastian pasar, langkah yang perlu dilakukan bukanlah berhenti, melainkan memperkuat efisiensi.
Menurutnya, pesawat ini akan memberikan peningkatan signifikan dalam efisiensi bahan bakar dan biaya operasional per penerbangan, sehingga membuat AirAsia lebih siap menghadapi berbagai dinamika industri.
“Di AirAsia, setiap tantangan selalu kami jadikan momentum untuk mengambil keputusan berani pada waktu yang tepat, bukan pada saat yang paling mudah. Pemesanan ini mencerminkan disiplin jangka panjang sekaligus besarnya ambisi kami,” ungkapnya.
Pesawat jenis A220 akan menjadi pondasi penting dalam fase pertumbuhan berikutnya dan mendukung visi membangun jaringan maskapai berbiaya hemat pertama yang benar – benar terhubung secara global.
Lebih dari sekadar memperkuat bisnis penerbangan, kesepakatan ini juga akan memperkuat ekosistem Capital A secara keseluruhan, mulai dari kargo, layanan perawatan dan perbaikan pesawat (Maintenance, Repair and Operations/MRO) hingga bisnis digital, sekaligus menciptakan lapangan kerja dan peluang baru di berbagai pasar yang kami layani.
“Kemitraan kami dengan Airbus telah terjalin selama lebih dari dua dekade dan menjadi bagian penting dari berbagai pencapaian AirAsia hingga saat ini. Hari ini menjadi langkah penting berikutnya dalam perjalanan tersebut dan masih banyak pencapaian besar yang akan dating,” ujarnya.
CEO Airbus Commercial Aircraft Lars Wagner menjelaskan, A220 akan menjadi pilihan yang ideal bagi AirAsia dengan memadukan biaya operasional yang rendah dan teknologi terbaru untuk memaksimalkan produktivitas, sekaligus membuka peluang pengembangan rute – rute baru di Asia yang sebelumnya belum memungkinkan untuk dilayani.
“Seluruh tim Airbus menyambut baik kerja sama dengan AirAsia dalam merampungkan kesepakatan ini, yang sepenuhnya sejalan dengan strategi jaringan terbaru maskapai,” katanya.
Seiring dengan dimulainya pengiriman pesawat pada tahun 2028, armada ini akan dioperasikan untuk melayani berbagai destinasi di kawasan ASEAN dan Asia Pasifik.
Kehadiran A220 juga akan memberikan fleksibilitas lebih besar dalam pengelolaan armada, sehingga A320 dan A321 dapat dialokasikan untuk rute jarak menengah di kawasan Asia Pasifik, sedangkan A330 difokuskan untuk penerbangan jarak jauh menuju Eropa, Australia dan Amerika Utara. B




