Kemenhub Subsidi Tarif Kereta Api bagi 155 Juta Penumpang

Kereta Api Bandara saat menurunkan penumpang. (dok. kai.id)
Bagikan

Sebanyak 155.809.294 pelanggan memanfaatkan program subsidi tarif dari Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) pada berbagai layanan PT Kereta Api Indonesia (KAI) selama periode Januari hingga April 2026.

Volume tersebut mencakup 6.221.378 pengguna layanan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) dan KA Lokal bersubsidi dengan skema Public Service Obligation (PSO).

Pemerintah juga mengucurkan subsidi untuk seluruh perjalanan Commuter Line dan LRT Jabodebek, serta sebagian rute KAI Bandara.

Data operasional menunjukkan Commuter Line mengangkut 136.585.949 penumpang, sedangkan LRT Jabodebek melayani 10.667.038 orang.

Sementara itu, angkutan bersubsidi KAI Bandara mencatat 2.334.929 pelanggan melalui KA Yogyakartra International Airport (YIA) Reguler dan KA Srilelawangsa relasi Medan – Kualanamu, serta Medan – Binjai.

“Bagi sebagian masyarakat Indonesia, kereta api telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari – hari. Ada pekerja yang berangkat sebelum matahari terbit demi mencari nafkah untuk keluarga,” jelas Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba.

Pergerakan masyarakat urban ini juga terlihat dari kepadatan antrean di Stasiun Bogor, Jawa Barat pada Senin (30/3/2026), saat pekerja kembali bermobilitas pascalibur Lebaran.

Ketersediaan tarif murah ini diakui berdampak langsung pada sektor pendidikan dan perniagaan kecil antarwilayah.

“Ada pelajar dan mahasiswa yang menempuh perjalanan jauh untuk mengejar pendidikan. Ada pedagang kecil yang membawa barang dagangan agar usaha tetap berjalan dari satu kota ke kota lainnya,” ungkapnya.

Kehadiran skema PSO dari pemerintah melalui DJKA ini dinilai menjadi pilar utama dalam menjaga keterhubungan antardaerah.

Transportasi massal berbasis rel tersebut terus tumbuh sebagai sarana mobilisasi yang aman dan efisien di berbagai wilayah yang telah terhubung jaringan rel.

“Di dalam satu perjalanan kereta api, ada harapan masyarakat yang sedang bergerak. Ada orang tua yang bekerja demi keluarga, ada anak muda yang mengejar pendidikan, ada pedagang yang menjaga usahanya tetap berjalan. Oleh karena itu, layanan PSO memiliki arti penting dalam menjaga ruang mobilitas masyarakat tetap terbuka dan terjangkau,” kata Anne.

Lonjakan jumlah penumpang ini merefleksikan peningkatan kepercayaan publik terhadap angkutan rel untuk pemenuhan kebutuhan harian.

Keberlanjutan dukungan anggaran dari pemerintah dinilai krusial agar manfaat keterjangkauan tarif dapat terus dinikmati secara luas.

“Kereta api menjadi bagian dari ruang gerak masyarakat sehari – hari. Ketika layanan yang aman dan terjangkau dapat diakses masyarakat, aktivitas ekonomi, pendidikan, serta sosial dapat terus berjalan dengan baik,” ungkap Anne.

Ketersediaan akses yang andal ini secara langsung menopang produktivitas harian dan menjaga roda perekonomian masyarakat tetap berputar.

“Oleh karena itu, keberlanjutan layanan transportasi publik berbasis rel menjadi hal penting bagi mobilitas masyarakat Indonesia,” tegasnya. B

 

Komentar

Bagikan