Jalan Tol Baru 80 Km akan Dibangun di Sumatra

Salah satu ruas Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), yaitu Jalan Tol Indralaya - Prabumulih di Sumatra Selatan. (dok. hutamakarya)
Bagikan

Pemerintah berencana membangun ruas tol baru di Sumatra Selatan untuk mendukung konektivitas menuju Pelabuhan Tanjung Carat, yang diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp26 triliun.

Menurut Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu, kehadiran proyek ini diharapkan dapat meningkatkan konektivitas logistik di Sumatra Selatan.

Proyek jalan tol dan proyek pelabuhan Tanjung Carat ditargetkan mulai konstruksi tahun ini.

Dia menuturkan, ruas tol baru itu akan tersambung dengan backbone Tol Trans Sumatra yang sudah beroperasi.

Nantinya dari pintu Tol Betung akan dibangun tol baru menuju Pelabuhan Tanjung Carat sepanjang sekitar 80 kilometer (km).

“Jadi, ini dari nanti backbone Tol Sumatra itu rencananya di pintu Tol Betung, itu akan ada interline lagi tol yang menuju ke Tanjung Carat itu kurang lebih sekitar 80 kilometer,” ujarnya dalam konferensi pers Penandatangan MoU Rencana Kerja Sama Integrasi Pembangunan Tol Menuju Pelabuhan Tanjung Carat.

Selain itu, juga yang existing sekarang itu yang Palembang – Prabumulih akan didorong lagi sekitar 37 km sampai kepada Muara Enim.

“Kenapa? Ini juga kita dorong sehingga dia lebih mendekatkan kepada potensi sumber daya alam yang ada di sana. Kalau mengenai total angkanya kurang lebih sekitar Rp26 triliun untuk pembangunan tol ini sendiri,” jelas Todotua.

Menurutnya, proyek tol dan pembangunan pelabuhan ini akan menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) membantu proses pengadaan lahan, sementara untuk konstruksi jalan tol akan dikerjakan Hutama Karya (HK).

“Jadi, nanti itu Kementerian PU bisa support dalam rangka setidaknya mengenai lahan. Sisanya konstruksinya dari HK dan pendanaannya itu nanti kita juga minta support dari Danantara, karena kita sih pemikirannya kalau boleh kita bisa mengkonsolidasikan saja kekuatan perbankan nasional,” ujarnya.

Todotua menilai, proyek ini akan memberikan dampak ekonomi besar bagi Sumatra Selatan dan wilayah sekitarnya seperti Jambi.

Keberadaan tol dan pelabuhan baru diyakini dapat meningkatkan volume distribusi berbagai komoditas unggulan.

Beberapa komoditas yang diproyeksikan terdorong antara lain batu bara, kopi, karet hingga sawit, salah satu BUMN yang akan memanfaatkan infrastruktur tersebut adalah PT Bukit Asam Tbk. (PTBA).

Menurutnya, selama ini kenaikan volume distribusi komoditas masih terkendala jalur logistik.

Dengan adanya tol dan pelabuhan baru, lanjut Todotua, biaya logistik diharapkan turun sehingga daya saing komoditas Sumatra Selatan meningkat.

“Salah satunya di sini yang ikut tanda tangan itu adalah Bukit Asam, di mana memang saat ini kalau kita lihat dalam beberapa tahun itu BUMN Bukit Asam itu volumenya itu memang relatif sulit untuk naik karena memang alur keluarnya ini yang memang cukup menjadi tantangan. Harapannya ini dengan adanya tol ini maka pertama volumenya akan naik,” jelasnya.

Dalam proyek ini, Hutama Karya akan menjadi pengelola pembangunan jalan tol, sedangkan Pelindo disiapkan menjadi operator pengembangan Pelabuhan Tanjung Carat.

“Pembagian tugas tentunya kalau di tol ini nanti yang akan dari frontier adalah Hutama Karya, kemudian di pelabuhan itu adalah Pelindo, BUMN – BUMN ini adalah salah satu BUMN yang akan menjadi tenant atau sebagai pengguna daripada jasa tol maupun pelabuhan,” tutur Todotua. B

Komentar

Bagikan