PT Kereta Api Indonesia (KAI) menegaskan bahwa akuisisi PT INKA diharapkan dapat selesai pada November 2026, seiring adanya dukungan Danantara Indonesia terhadap proses integrasi kedua perusahaan.
Menurut Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI I Gede Darmayusa, penandatanganan akuisisi INKA diharapkan sudah terjadi pada November 2026, sehingga tahun 2027 roadmap yang sudah dibuat bersama – sama bisa mulai dikerjakan.
“Roadmap tersebut termasuk engagement dengan technology partner atau principal, plus juga persiapan untuk bisnis MRO,” katanya dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR di Jakarta.
Gede menjelaskan, Danantara Indonesia telah memberikan mandat kepada KAI dan INKA pada 18 Mei 2026 untuk melakukan uji tuntas (due diligence) dan kajian komprehensif terkait integrasi kedua perusahaan.
Kajian tersebut ditujukan untuk memperkuat kepastian pasokan sarana perkeretaapian, meningkatkan efisiensi operasional, membangun sinergi jangka panjang dan mendukung penyehatan fundamental bisnis INKA.
Menurutnya, kebutuhan sarana KAI dalam lima tahun ke depan telah terpetakan secara jelas, mencakup sekitar 2.000 gerbong bottom dump, 1.200 gerbong datar, 652 kereta penumpang dan 30 rangkaian kereta rel listrik (KRL) untuk wilayah Jabodetabek.
Selain untuk memenuhi kebutuhan sarana, rencana integrasi tersebut juga dilatarbelakangi sejumlah tantangan yang selama ini dihadapi dalam pengadaan kereta dari INKA.
Dalam hal ini, integrasi KAI dan INKA didorong oleh kebutuhan untuk meningkatkan ketepatan pengiriman dan kualitas sarana perkeretaapian yang selama ini masih menjadi tantangan bagi kedua perusahaan.
“Dengan adanya integrasi KAI dan INKA, kita harapkan KAI dan INKA bisa membuat roadmap kerja sama pengadaan sarana jangka panjang, bukan hanya per tahun atau jangka pendek, sehingga semua persiapan R&D maupun manufaktur INKA itu bisa direncanakan dari awal sampai akhir,” jelas Gede.
Dia menambahkan, integrasi KAI dan INKA diharapkan dapat memberikan kepastian order jangka panjang yang memungkinkan INKA memperkuat investasi manufaktur dan rantai pasok.
Selain itu, integrasi diharapkan dapat memperbaiki kondisi keuangan INKA melalui pengembangan bisnis manufaktur dan Maintenance, Repair and Overhaul (MRO).
“Dari kondisi yang ada, order yang kira – kira sudah kita amankan buat INKA lima tahun ke depan itu sekitar Rp18,9 triliun, sedangkan bisnis MRO atau recurring income itu sekitar Rp3 triliun per tahun, sehingga dalam lima tahun ke depan itu sekitar Rp15 triliun,” tuturnya.
Dia juga menyampaikan, KAI berharap bahwa pada tahun 2029 INKA dapat berkembang menjadi perusahaan manufaktur kereta api yang lebih sehat secara finansial sekaligus memiliki bisnis MRO yang kuat dan berkelanjutan.
Dalam menyusun rencana integrasi tersebut, Gede menegaskan, pihaknya melakukan benchmarking terhadap sejumlah model integrasi operator dan manufaktur kereta api di berbagai negara, antara lain Rusia dan Jepang.
Di Rusia, operator kereta nasional Russian Railways mengakuisisi perusahaan manufaktur Transmashholding untuk menyelaraskan pengembangan produk dan roadmap riset.
Sementara itu, di Jepang, Japan Railways (JR) mengakuisisi penuh Japan Transport Engineering Company (J-TREC), sehingga memungkinkan pengendalian desain sarana sejak tahap awal dan penerapan konsep design for maintenance.
Gede mencatat bahwa model integrasi tersebut menghasilkan efisiensi biaya pengadaan, kepastian perencanaan jangka panjang dan arah riset, serta pengembangan yang lebih sesuai dengan kebutuhan operator.
“Dari kondisi Rusia dan Jepang sendiri, kita yakin bahwa integrasi KAI dan INKA itu akan bisa memberikan manfaat positif bagi kedua belah pihak,” ujarnya.
Dia juga menyoroti pengalaman China dalam membangun industri perkeretaapian nasional.
Menurut Gede, keberhasilan CRRC Group tidak terlepas dari kebijakan yang mewajibkan produsen global atau prinsipal menjalin kemitraan dengan perusahaan lokal.
“Jadi, kami harapkan dengan adanya integrasi KAI dan INKA, diikuti juga oleh support dari principal – principal kuat yang kita syaratkan jika ingin menyuplai sarana ke KAI harus membuat kerja sama strategis. Bukan hanya kerja sama pengadaan, jadi transfer teknologi, transfer fasilitas dan lain sebagainya dengan INKA,” tuturnya. B




