Pelindo Dukung Pengembangan Dryport di Kawasan Industri Batang

Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang di Provinsi Jawa Tengah (Jateng). (dok. youtubebkpm)
Bagikan

PT Pelabuhan Indonesia (Persero) bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (Perseroda) dan Perumda Aneka Usaha Kabupaten Batang secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman terkait pengembangan Dryoport di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB).

Penandatanganan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem logistik nasional, khususnya di kawasan industripolis Batang.

Kerja sama ini bertujuan untuk mendorong pengembangan sistem logistik yang terintegrasi, efisien dan berdaya saing tinggi, sekaligus menjawab kebutuhan konektivitas kawasan industri dengan pelabuhan dan jaringan distribusi nasional.

Pengembangan dryport berbasis rel ini akan menjadi tulang punggung logistik yang menghubungkan kawasan industri dengan pelabuhan laut secara lebih efektif dan berkelanjutan.

Dryport Industropolis Batang dirancang sebagai gerbang ekspor dan impor bagi tenant industry, sekaligus pusat konsolidasi logistik regional.

Fasilitas ini diharapkan mampu menekan biaya logistik nasional dan memangkas waktu distribusi secara signifikan melalui integrasi moda transportasi berbasis kereta api dan jaringan pelabuhan.

Pengembangan dryport ini akan dibangun di atas lahan sekitar 30 hektare dengan kapasitas awal mencapai 600.000 hingga 650.000 TEUs per tahun dan berpotensi meningkat hingga 1 juta TEUs seiring dengan pertumbuhan kawasan.

Kehadiran fasilitas ini akan memperkuat konektivitas logistik di Jawa Tengah dan mendukung jaringan perdagangan domestik maupun global.

Kolaborasi lintas sektor antara BUMN, pemerintah daerah, dan pengelola kawasan industri ini menjadi wujud nyata sinergi dalam mendorong integrasi logistik nasional.

Penguatan konektivitas berbasis rel yang terhubung langsung dengan pelabuhan dinilai sebagai solusi strategis untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok dan menekan biaya logistik nasional.

Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ali Murtopo Simbolon menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin dalam pengembangan dryport ini.

Dia menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan langkah awal yang penting dalam memperkuat sistem logistik nasional.

“Penguatan konektivitas berbasis rel dan integrasi dengan pelabuhan menjadi kunci untuk menurunkan biaya logistik nasional. Inisiatif seperti di Industropolis Batang ini adalah contoh konkret bagaimana kolaborasi dapat menghadirkan solusi nyata bagi efisiensi dan daya saing ekonomi Indonesia,” ujarnya.

Dia juga berharap pembangunan dryport ini dapat berjalan sesuai rencana dan menjadi model pengembangan logistic terintegrasi di berbagai kawasan industri lainnya di Indonesia.

Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Achmad Muchtasyar menyampaikan bahwa pengembangan dryport ini akan menjadi perpanjangan layanan pelabuhan yang mendekatkan proses logistik ke kawasan industri.

Hal ini diyakini mampu meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat arus barang, serta memperkuat konektivitas dengan jaringan pelabuhan global.

“Kami sudah menyiapkan Pelabuhan Batang sebagai penompang dan pintu masuk logistik di KITB, dengan adanya dryport ini akan menjadi penguat layanan kepelabuhanan dan konektovitas logistik yang cepat dan efisien,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin menegaskan komitmennya dalam menyediakan layanan angkutan barang berbasis rel yang andal dan berkelanjutan, yang diharapkan menjadi game changer dalam sistem distribusi logistik nasional.

Pengembangan dryport ini akan dilaksanakan secara bertahap, dimulai dari tahap perencanaan dan studi kelayakan pada tahun 2026, dilanjutkan dengan pembangunan infrastruktur pada periode 2027 – 2028 hingga tahap operasional dan pengembangan lanjutan sesuai kebutuhan pasar.

Melalui kolaborasi strategis ini, para pihak berkomitmen untuk mendorong peningkatan daya saing industri nasional, memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global dan menciptakan sistem logistik yang lebih efisien, terintegrasi, serta berkelanjutan. B

 

Komentar

Bagikan