
PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo terus memperkuat integrasi infrastruktur kepelabuhanan dengan kawasan industri, jaringan transportasi dan ekosistem digital agar pengembangan pelabuhan mampu menciptakan traffic, meningkatkan efisiensi logistik, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah.
Upaya tersebut sejalan dengan arah transformasi Badan Usaha Milik negara (BUMN) yang didorong Danantara Indonesia melalui konsolidasi, penguatan tata kelola dan investasi yang lebih terukur.
Menurut Chief Operating Officer (COO) Danantara, sekaligus Kepala Badan Pengatur (BP) BUMN Dony Oskaria menekankan bahwa transformasi pengelolaan BUMN menjadi bagian penting dalam membangun fundamental ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.
“Danantara diharapkan menjadi engine of growth, mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan pekerjaan sebanyak mungkin, sekaligus membawa transformasi yang fundamental dalam pengelolaan BUMN – BUMN kita,” katanya.
Menurut Dony, transformasi tersebut dilakukan dengan menata kembali portofolio BUMN secara menyeluruh.
Dari lebih dari seribu perusahaan yang berada dalam ekosistem BUMN, evaluasi dilakukan berdasarkan karakteristik industri, global benchmark, model bisnis, struktur biaya, kondisi pasar, kemampuan finansial hingga kapasitas organisasi.
Hasil evaluasi menjadi dasar untuk menentukan perusahaan yang perlu diperkuat, dikonsolidasikan, diivestasikan maupun dilikuidasi, sedangkan penguatan tata kelola juga menjadi bagian penting dalam transformasi tersebut.
Danantara Indonesia mendorong disiplin investasi dengan memastikan setiap investasi BUMN memiliki dasar keekonomian yang memadai dan sejalan dengan strategi perusahaan.
Menurut Donny, langkah tersebut diperlukan agar BUMN memiliki fundamental yang lebih kuat, sekaligus mampu menghasilkan nilai yang dapat kembali digunakan untuk mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi.
Sejalan dengan arah tersebut, Direktur Utama Pelindo Achmad Muchtasyar menilai, integrasi menjadi faktor utama agar pembangunan infrastruktur tidak berhenti pada masing – masing sektor.
Menurutnya, pelabuhan, jalan, kawasan industri dan infrastruktur pendukung perlu direncanakan sebagai satu ekosistem yang saling terhubung.
“Integrasi adalah satu hal yang paling penting dalam bagaimana kita menurunkan biaya logistik. Kita perlu mengintegrasikan berbagai bidang yang berkaitan dengan logistik agar infrastruktur yang dibangun dapat saling mendukung dan memberikan manfaat yang optimal,” ungkap Muchtasyar.
Pembangunan infrastruktur yang dilakukan secara terpisah berpotensi membuat aset tidak termanfaatkan secara optimal.
Di Pelabuhan, misalnya, membutuhkan konektivitas dengan hinterland, akses jalan dan aktivitas ekonomi di sekitarnya agar mampu menciptakan traffic secara berkelanjutan.
Pentingnya integrasi konektivitas juga tercermin dalam pengembangan Pelabuhan Kijing di Mempawah yang semakin relevan seiring dengan berkembangnya kawasan hilirisasi dan aktivitas industri di wilayah tersebut.
Pendekatan tersebut sejalan dengan arah pengembangan Pelindo yang telah berkembang dari operator pelabuhan menjadi penyedia layanan end-to-end dan penggerak ekosistem.
Pelindo mendorong integrasi pelabuhan dengan port-associated industries, kawasan industri dan jaringan transportasi untuk menciptakan efisiensi, serta menstimulasi pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar pelabuhan.
Muchtasyar menambahkan, integrasi fisik perlu berjalan beriringan dengan integrasi digital.
“Arus barang di pelabuhan tidak dapat dipisahkan dari arus dokumen dan informasi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari operator terminal, perusahaan pelayaran, pemilik barang, perusahaan logistik hingga regulator,” ujarnya.
Maka dari itu, Pelindo mengembangkan ADHARA, platform digital yang menghubungkan berbagai sistem dalam ekosistem logistik maritim.
Platform tersebut diarahkan untuk memperkuat interoperabilitas data dan mendukung National Logistics Ecosystem, serta Satu Data Indonesia.
“Arus barang bisa berjalan dengan baik apabila layanan pelabuhan berjalan baik, sementara arus dokumen membutuhkan sistem yang juga terintegrasi. Melalui ADHARA, kami berupaya menghubungkan berbagai pelaku dan platform dalam ekosistem logistik, sehingga prosesnya menjadi lebih efisien,” kata Muchtasyar.
Dia menjelaskan bahwa efisiensi logistik tidak hanya ditentukan oleh kecepatan pergerakan barang, tetapi juga oleh kelancaran arus informasi dan dokumen.
Melalui integrasi digital, lanjutnya, berbagai proses yang sebelumnya berjalan secara terpisah diharapkan dapat terkoneksi, sehingga meningkatkan efisiensi dan mendukung pengurangan dwelling time.
Ke depan, Pelindo akan terus memperkuat perannya dalam membangun konektivitas dan integrasi rantai logistik nasional melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, sinergi di antara BUMN, pengembangan infrastruktur, serta pemanfaatan teknologi digital.
“Integrasi adalah satu hal yang paling penting. Bagaimana kita menurunkan biaya logistik. Integrasi segala bidang yang berkaitan dengan kelogistikan,” tutur Muchtasyar. B



