Kemenpar Perkuat Sumbar Jadi Destinasi Gastronomi dan Wisata Ramah Muslim

Kunjungan Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana didampingi oleh Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi Ansharullah ke salah satu destinasi wisata Sumatra Barat. (dok. kemenpar)
Bagikan

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendorong penguatan kolaborasi lintas pemangku kepentingan dalam mengembangkan Sumatra Barat (Sumbar) sebagai destinasi unggulan wisata ramah Muslim dan gastronomi.

Upaya tersebut, kata Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana, sebagai salah satu upaya menghadirkan pengalaman wisata yang berkualitas, sekaligus memperkuat daya saing pariwisata nasional.

Dalam kunjungan kerjanya ke Sumatra Barat, Menpar menegaskan provinsi ini telah lama dikenal memiliki kekayaan daya tarik wisata yang kuat, baik dari sisi budaya, religi, maupun kuliner.

Salah satu destinasi yang dikunjungi Menpar adalah Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang menjadi icon wisata ramah Muslim di daerah tersebut.

Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol kekayaan budaya Minangkabau.

Arsitekturnya yang unik tanpa kubah, dengan bentuk gonjong khas rumah adat, serta ornamen ukiran dan kaligrafi, menjadikannya daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Padang sudah sangat dikenal sebagai destinasi wisata ramah Muslim. Saat kami mengikuti pameran pariwisata internasional di ITB Berlin, foto masjid ini menarik perhatian banyak pengunjung. Ini menunjukkan potensi besar yang perlu terus diperkuat melalui kolaborasi,” jelas Menpar.

Dalam pengembangan wisata ramah muslim, Kemenpar terus menjalankan berbagai program strategis.

Salah satunya melalui peluncuran Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2025 yang menjadi tolok ukur kesiapan destinasi dalam memenuhi standar Global Muslim Travel Index (GMTI).

Berdasarkan penilaian tersebut, Sumatra Barat masuk dalam lima besar provinsi terbaik dari 15 provinsi yang dinilai.

Selain itu, Kemenpar juga mendorong penguatan rantai nilai melalui program sertifikasi halal bagi pengusaha UMKM bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

Hingga saat ini, telah difasilitasi penerbitan 14.694 sertifikat halal di 391 desa wisata yang tersebar di 33 provinsi.

Upaya lain dilakukan melalui penyusunan standar nasional layanan pariwisata ramah muslim bersama Bappenas dan Bank Indonesia guna menjamin konsistensi kualitas layanan di seluruh destinasi Indonesia.

Kemenpar juga menghadirkan halaman khusus pariwisata ramah muslim dan mendorong industri pariwisata untuk menyediakan paket wisata ramah muslim, termasuk sebagai syarat partisipasi dalam berbagai pameran internasional.

Dalam kunjungan tersebut, Menpar didampingi Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi Ansharullah dan anggota DPD RI Irman Gusman.

Dia juga meninjau potensi wisata gastronomi dengan mengunjungi Sate Mak Syukur, salah satu ikon kuliner daerah.

Menpar menegaskan Sumatra Barat memiliki kekuatan besar di sektor gastronomi, dengan ragam kuliner ikonis, seperti rendang yang telah dikenal dunia.

Untuk itu, Kemenpar akan terus mendorong pengembangan wisata gastronomi, termasuk mendukung upaya Pemerintah Kota Padang untuk meraih pengakuan UNESCO Creative Cities Network di bidang gastronomi.

“Kami bersama industri dan dinas pariwisata akan mengembangkan paket wisata yang mengangkat kekuatan gastronomi Kota Padang dan Sumatra Barat secara keseluruhan,” tuturnya.

Sebagai bagian dari penguatan promosi, Kemenpar juga mendorong penyelenggaraan Wonderful Indonesia Gastronomi di Sumatra Barat pada tahun 2027, melanjutkan kesuksesan penyelenggaraan di Bali, Yogyakarta dan Solo.

Menpar kemudian melanjutkan kunjungan ke Jam Gadang dan kawasan Pasar Ateh di Bukittinggi yang dikenal sebagai pusat wisata belanja dan kuliner lokal.

Melalui kunjungan ini, Menpar juga menyerap berbagai aspirasi dari pemangku kepentingan daerah terkait pengembangan pariwisata, mulai dari kebutuhan investasi, infrastruktur dasar, penyelenggaraan event, hingga penguatan promosi dan paket wisata.

Salah satu aspirasi yang mencuat adalah kebutuhan perpanjangan landasan bandara di Mentawai untuk mendukung aksesibilitas destinasi.

“Kami ingin memastikan kebutuhan di destinasi dapat terpenuhi, baik dari sisi infrastruktur, investasi maupun penguatan promosi, sehingga pariwisata dapat berkembang secara optimal,” kata Menpar.

Kunjungan kerja ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat posisi Sumatra Barat sebagai destinasi unggulan nasional yang mampu menghadirkan pengalaman wisata berkualitas, berbasis budaya, religi dan gastronomi, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, serta kesejahteraan masyarakat. B

 

Komentar

Bagikan