Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memperkuat sinergi di antara Politeknik Pariwisata (Poltekpar) untuk mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) pariwisata yang unggul dan berdaya saing melalui Rapat Koordinasi Politeknik Pariwisata.
Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenpar Martini M. Paham menjelaskan, rapat koordinasi yang digelar secara daring dan luring di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat sinergi pembangunan SDM di antara Poltekpar.
“Rapat ini juga memastikan berbagai rekomendasi strategis dapat diimplementasikan secara terarah dan terukur dalam periode pembangunan 2025 – 2029, yang merupakan momentum penting dalam meletakkan fondasi menuju Indonesia Emas 2045.” jelasnya.
Dalam konteks tersebut, Poltekpar memiliki peran strategis sebagai lokomotif pendidikan vokasi pariwisata yang inovatif, inklusif dan berdaya saing global.
“Penguatan SDM pariwisata perlu dilakukan secara komprehensif melalui penyelarasan kebijakan, tata kelola yang adaptif dan peningkatan kualitas pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat yang lebih aplikatif dan berdampak,” tutur Diah.
Dia menambahkan, penguatan tersebut dilakukan melalui penyelarasan kebijakan dengan kebutuhan industri, penguatan tata kelola yang lincah dan pengembangan perencanaan, penelitian, serta pengabdian yang lebih aplikatif dan berdampak nyata.
SDM juga menjadi kunci dalam optimalisasi kebijakan karier dosen, lanjutnya, bahkan sebagai pembentukan task force dan percepatan profesionalisme tenaga pendidik.
“Kolaborasi dengan berbagai pihak perlu diperluas untuk memperkuat sinergi antara pendidikan, industri, dan pemberdayaan ekonomi. Melalui rapat koordinasi ini diharapkan lahir langkah konkret, terukur dan implementatif, dengan mengurangi hambatan administratif, serta mendorong inovasi yang berdampak nyata,” ungkapnya.
Pada hari pertama, pembahasan difokuskan pada penguatan kelembagaan pendidikan vokasi, penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Poltekpar dan penataan organisasi, serta tata kelola.
Fokus utama diarahkan pada revitalisasi pendidikan vokasi yang selaras dengan kebutuhan industri melalui pendekatan job matching dan penguatan kurikulum berbasis industri.
“Pendidikan vokasi harus mampu menjawab kebutuhan dunia kerja secara nyata. Keterkaitan antara lulusan dan industri menjadi kunci utama,” kata Diah.
Memasuki hari kedua, pembahasan diarahkan pada penguatan kerja sama internasional dengan Swisscontact, pengembangan kurikulum berbasis industri dan penyusunan pedoman penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.
Program Sustainable Tourism Education Development (STED) yang dijalankan bersama Swisscontact sejak 2018 terus diperluas di berbagai Poltekpar, dengan fokus pada penerapan Industry – Based Curriculum (IBC), structured internship dan peningkatan kualitas pengajaran melalui SVEB dan project – based learning.
Program ini mulai menunjukkan dampak terhadap peningkatan kompetensi lulusan dan keterhubungan dengan industri.
Pada hari ketiga, agenda diawali dengan sosialisasi Permendikti Saintek Nomor 52 Tahun 2025 tentang Profesi, Karier dan Penghasilan Dosen.
Regulasi ini menekankan penguatan kompetensi, kinerja dan sistem karier dosen yang lebih terstruktur.
Selain itu, peran dosen dalam pelaksanaan Tri Dharma juga diperkuat secara kolaboratif, termasuk mekanisme sertifikasi, promosi dan tunjangan berbasis kinerja, meski masih menghadapi tantangan dalam integrasi penilaian kinerja dan pengelolaan beban kerja.
Diah mengungkapkan rapat ini juga membahas rencana pembentukan task force percepatan karier dosen Poltekpar guna mendorong peningkatan jabatan akademik secara sistematis, tidak hanya melalui pemenuhan angka kredit, tetapi juga melalui penguatan ekosistem Tri Dharma.
“Kemenpar juga membahas rencana kerja sama dengan Kementerian UMKM dalam pengembangan kewirausahaan pariwisata. Poltekpar didorong menjadi hub kewirausahaan melalui co-incubation, living lab dan business matching guna melahirkan wirausaha yang inovatif dan berdaya saing,” katanya.
Rapat koordinasi ini menghadirkan narasumber dari lintas kementerian, akademisi dan mitra internasional antara lain perwakilan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, serta Teknologi (Kemendiktisaintek), Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian PANRB, Kementerian UMKM, akademisi Universitas Gadjah Mada, dan Swisscontact Indonesia. B




