Kemenhaj Siapkan Layanan Konsumsi Siap Santap untuk Jemaah Indonesia Jelang Armuzna

Layanan konsumsi bagi jemaah haji Indonesia tahun 2026. (dok. haji.go.id)
Bagikan

Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memastikan layanan konsumsi bagi jemaah haji Indonesia jelang fase puncak haji atau Armuzna disiapkan secara optimal.

Penguatan layanan ini dilakukan untuk menjaga stamina, kesehatan, dan kenyamanan jemaah selama menjalani rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah dan Mina.

Apalagi, berdasarkan data terakhir, sebanyak 464 kelompok terbang (kloter) haji dengan 179.463 jemaah dan 1.851 petugas telah diberangkatkan dari tanah air menuju Arab Saudi.

Sementara itu, sebanyak 455 kloter dengan 175.682 jemaah dan 1.820 petugas telah tiba di Makkah.

Mengenai kedatangan jemaah haji gelombang kedua melalui Bandara King Abdul Aziz International Airport, Jeddah telah tiba 190 kloter dengan 72.904 jemaah dan 759 petugas.

Selain itu, sebanyak 12.180 jemaah haji khusus juga telah tiba di Arab Saudi dan mulai menjalani rangkaian ibadah sesuai jadwal yang ditetapkan.

Menurut Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaff, operasional penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi hingga hari ke-28 berjalan baik dengan pendampingan petugas di seluruh titik layanan.

“Hingga hari ke-28 operasional haji, layanan bagi jemaah terus berjalan baik. Fokus kami saat ini adalah memperkuat kesiapan menjelang Armuzna, termasuk layanan konsumsi yang menjadi bagian penting dalam menjaga stamina dan kesehatan jemaah,” ujar Maria di Jakarta.

Fase Armuzna adalah puncak rangkaian ibadah haji yang menjadi titik penentu sah atau tidaknya ibadah tersebut.

Istilah ini merupakan akronim dari tiga lokasi utama tempat pelaksanaan rukun dan wajib haji, yakni Arafah, Muzdalifah dan Mina.

Maria menjelaskan, fase Armuzna merupakan periode yang sangat padat dan membutuhkan kesiapan layanan yang cepat, aman dan terukur, termasuk dalam penyediaan makanan bagi jemaah.

“Fase Armuzna adalah fase yang sangat padat dan kompleks. Oleh karena itu, layanan konsumsi harus dipastikan berjalan baik. Bagi kami, konsumsi bukan sekadar penyediaan makanan, tetapi bagian penting dari ikhtiar menjaga kesehatan dan stamina jemaah agar dapat beribadah dengan tenang dan khusyuk,” tuturnya.

Pemerintah menyiapkan skema katering Ready to Eat atau makanan siap santap untuk mendukung layanan konsumsi jelang, selama hingga pascapuncak haji.

Skema ini dipilih dengan mempertimbangkan kecepatan distribusi, kemudahan konsumsi bagi jemaah, daya tahan makanan di tengah mobilitas tinggi, dan pemenuhan standar gizi, kebersihan, serta keamanan pangan.

“Makanan siap santap ini disiapkan dengan cita rasa nusantara agar lebih sesuai dengan selera jemaah Indonesia. Selain aman dan higienis, kami ingin makanan yang diterima jemaah juga familiar dan nyaman dikonsumsi,” jelas Maria.

Selama fase Armuzna, jemaah haji Indonesia akan memperoleh total 15 porsi makanan dengan cita rasa nusantara yang disediakan oleh pihak syarikah.

Selain itu, disiapkan enam porsi makanan pada fase pra-Armuzna pada 7 dan 8 Dzulhijjah, serta pascaArmuzna pada 13 Dzulhijjah, atau bertepatan dengan 24, 25 dan 30 Mei 2026.

Kemenhaj juga telah melakukan pengecekan rutin dan koordinasi intensif untuk memastikan seluruh makanan siap santap dapat terdistribusi ke hotel – hotel jemaah Indonesia pada 6 Dzulhijjah 1447 Hijriah atau 23 Mei 2026, sebelum pergerakan jemaah menuju Armuzna dimulai.

“Pengawasan dilakukan sejak proses produksi, pengemasan hingga distribusi. Kami memastikan makanan yang diterima jemaah layak, higienis, aman dikonsumsi dan mendukung kebutuhan fisik jemaah selama fase puncak haji,” tutur Maria.

Dia mengimbau jemaah untuk menjaga pola makan, memperbanyak konsumsi air putih, makan tepat waktu dan mengurangi aktivitas fisik yang tidak mendesak menjelang puncak haji.

“Jaga kesehatan, hemat tenaga, makan tepat waktu dan ikuti arahan petugas. Semoga seluruh jemaah haji Indonesia diberikan kesehatan, kemudahan, serta kelancaran dalam menjalani puncak ibadah haji,” katanya. B

Komentar

Bagikan