Empat Mesin Pertumbuhan KAI Disiapkan Menuju Tahun 2045

Layanan Access by KAI menghadirkan kemudahan akses perkeretaapian. (dok. kai)
Bagikan

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Bobby Rasyidin menjelaskan, arah transformasi KAI dalam SBM ITB Industrial Summit 2026 di Hotel Ayana Midplaza Jakarta.

Forum yang diselenggarakan School of Business and Management Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) bekerja sama dengan Adam Smith Business School, University of Glasgow tersebut mempertemukan pemimpin industri, regulator, investor dan akademisi untuk membahas transformasi industri serta daya saing ekonomi Indonesia.

Bobby hadir sebagai pembicara pada Parallel Session Transportation Sector yang dalam paparannya bertajuk Growth Beyond the Limits: Transforming Railways for Indonesia’s Economic Future, menegaskan bahwa pertumbuhan KAI ke depan perlu dibangun dengan memperluas sumber nilai perusahaan.

Pada 2025, KAI Group mencatat volume 503,5 juta pelanggan, meningkat 8,52 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 464 juta pelanggan.

KAI juga mencatat sekitar 2,8 juta interaksi pelanggan per hari.

“Skala KAI sudah sangat besar. Tantangan, sekaligus peluang berikutnya adalah meningkatkan kontribusi aset, teknologi, keahlian dan basis pelanggan sebagai sumber pertumbuhan baru yang memberi nilai lebih besar bagi perusahaan dan perekonomian,” ujarnya.

Saat ini, sekitar 94% pendapatan KAI masih berasal dari bisnis transportasi, sedangkan kontribusi bisnis non-farebox berada di kisaran 6%.

Kondisi tersebut menjadi ruang bagi KAI untuk membangun empat mesin pertumbuhan, yakni aset operasional, aset berwujud, aset berbasis kapabilitas, dan aset teknologi.

Kekuatan tersebut didukung sekitar 327,8 juta meter persegi aset lahan perkeretaapian dan basis pelanggan yang besar.

KAI melihat ruang pengembangan melalui optimalisasi kawasan dan properti, Transit-Oriented Development (TOD), layanan digital, Maintenance, Repair and Overhaul (MRO), manufaktur, serta pengembangan keahlian perkeretaapian.

“Pertumbuhan ke depan harus lebih produktif. KAI perlu semakin kuat dalam operasi, semakin optimal dalam mengelola aset dan semakin cepat memanfaatkan teknologi,” jelas Bobby.

Menurutnya, transformasi tersebut juga diarahkan untuk memperbesar kontribusi kereta api terhadap efisiensi transportasi dan logistik nasional.

Dia menilai Bobby menilai peningkatan peran kereta api dapat membantu memperkuat daya saing industri melalui mobilitas orang dan barang yang semakin efisien.

KAI juga mulai mendorong pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dan teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas operasi serta mengoptimalkan kapasitas jaringan yang tersedia.

Dalam peta jalan menuju tahun 2045, volume pelanggan diarahkan mencapai sekitar 1,4 miliar pelanggan per tahun, dengan kontribusi bisnis non-farebox pada kisaran 20% hingga 25%.

“Kita perlu bergerak dari menunggu permintaan menjadi menciptakan peluang. Industri yang maju membangun kesempatan, lalu pertumbuhan mengikuti,” ungkap Bobby.

Dia menambahkan, transformasi menuju tahun 2045 membutuhkan kemampuan perusahaan dalam membaca perubahan, memperkuat sumber pertumbuhan dan membangun kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, industri, serta masyarakat.

“Menuju 2045, KAI menargetkan posisi sebagai world-class railway operator. Untuk mencapainya, kami harus memperkuat produktivitas, memperluas sumber pertumbuhan dan memastikan perkeretaapian memberi kontribusi yang semakin besar terhadap konektivitas, serta daya saing Indonesia,” tutur Bobby. B

 

Komentar

Bagikan