Ekspor Produk Alumina Kembali Berjalan melalui Pelabuhan Pontianak

Pelepasan ekspor produk alumina melalui Pelabuhan Dwikora Pontianak. (dok. pelindo)
Bagikan

Kantor Staf Presiden (KSP) mengawal bergulirnya kembali ekspor produk hilirisasi bauksit dari Kalimantan Barat sebagai bagian dari upaya pemerintah memperkuat implementasi program hilirisasi nasional.

Langkah tersebut ditandai dengan kunjungan kerja Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Prof. Dudung Abdurachman, ke Pelabuhan Dwikora Pontianak untuk memastikan proses ekspor dapat kembali berjalan lancar setelah penyelesaian berbagai proses administrasi dan penyesuaian regulasi.

Dalam momentum tersebut, PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) kembali melaksanakan ekspor produk alumina melalui Pelabuhan Dwikora Pontianak.

Pada pengiriman tahap awal, sebanyak 40 kontainer berisi Alumina Hydroxide dan Alumina Oxide diberangkatkan menuju pasar ekspor, menandai kembali berjalannya aktivitas ekspor perusahaan, sekaligus mendukung keberlanjutan industri hilirisasi bauksit di Kalimantan Barat.

Dalam kunjungan tersebut, Dudung didampingi jajaran kementerian dan lembaga, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Danantara Indonesia beserta BUMN terkait, seperti PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, MIND ID, ANTAM, INALUM, BAI, Sucofindo, dan pemangku kepentingan lainnya.

Dalam sambutannya, Dudung menegaskan bahwa pemerintah akan terus mengawal implementasi program hilirisasi agar investasi dan aktivitas industri tidak terhambat oleh persoalan administratif maupun regulasi.

“Pemerintah melalui program Asta Cita berkomitmen mendorong hilirisasi industri yang berdaya saing tinggi. Kantor Staf Presiden hadir untuk memastikan berbagai hambatan regulasi maupun administrasi dapat diselesaikan, sehingga kepastian usaha dan kontribusi ekspor hasil hilirisasi bauksit PT ICA dapat berjalan optimal,” ujarnya.

Menurut Dudung, kehadiran pemerintah di lapangan merupakan bentuk komitmen untuk memastikan investasi strategis nasional berjalan berkesinambungan, sehingga mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia dan memperkuat daya saing produk nasional di pasar internasional.

Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan menyampaikan apresiasi atas sinergi pemerintah pusat dan seluruh pemangku kepentingan dalam menyelesaikan kendala yang sempat menghambat kegiatan ekspor alumina.

“Kembalinya ekspor alumina ini bukan hanya menjadi keberhasilan program hilirisasi, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi perekonomian Kalimantan Barat melalui peningkatan aktivitas industri, lapangan kerja, dan penerimaan daerah,” ujarnya.

Direktur PT Indonesia Chemical Alumina Arief Abidin menambahkan, seluruh proses administrasi ekspor telah diselesaikan, sehingga perusahaan dapat kembali menjalankan kegiatan ekspor secara normal.

“Hari ini ekspor PT ICA kembali berjalan. Pengiriman tahap awal sebanyak 44 kontainer akan kami lanjutkan secara bertahap hingga sekitar 200 kontainer dalam satu pekan. Ini menjadi momentum penting bagi keberlangsungan operasional perusahaan dan kepastian bagi seluruh rantai bisnis kami,” tuturnya.

Sebagai operator pelabuhan, Pelindo memastikan kesiapan layanan kepelabuhanan untuk mendukung kelancaran ekspor hasil hilirisasi tersebut.

Direktur Komersial Pelindo Farid Padang menegaskan bahwa Pelindo telah menyiapkan dukungan operasional dan layanan kepelabuhanan guna memastikan kegiatan ekspor dapat berjalan dengan lancar.

“Kami siap memberikan layanan kepelabuhanan yang dibutuhkan untuk mendukung kelancaran ekspor PT ICA. Kami memastikan kesiapan fasilitas, peralatan dan layanan operasional agar arus barang dapat berjalan dengan aman, lancar, serta efisien,” ungkapnya.

Sebagai langkah lanjutan, Pelindo juga tengah menyiapkan skema pengalihan secara bertahap aktivitas ekspor menuju Terminal Kijing.

Terminal tersebut memiliki kapasitas pelayanan yang lebih besar dan mampu melayani kapal berukuran lebih besar sehingga dapat mendukung peningkatan efisiensi rantai logistik.

Farid menjelaskan, Pelindo telah mempersiapkan tambahan peralatan bongkar muat, termasuk rencana kedatangan crane baru pada akhir Agustus 2026 dan berkoordinasi dengan berbagai perusahaan pelayaran, seperti Samudera Indonesia, TEMAS, SPIL dan operator lainnya guna memastikan kesiapan operasional terminal.

“Ke depan, aktivitas ekspor komoditas strategis akan diarahkan secara bertahap ke Terminal Kijing. Dengan kapasitas terminal yang lebih besar dan dukungan infrastruktur yang terus kami perkuat, langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi logistik, sekaligus mendukung pertumbuhan ekspor dan pengembangan industri hilirisasi di Kalimantan Barat,” jelasnya.

Selain mendukung ekspor PT ICA, Pelindo menyatakan kesiapannya dalam menyediakan layanan kepelabuhanan bagi pengembangan industri hilirisasi bauksit di Kalimantan Barat, termasuk untuk mendukung pengembangan smelter maupun infrastruktur pendukung lainnya ke depan.

Kembalinya ekspor produk alumina PT ICA menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan program hilirisasi nasional.

Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, regulator, BUMN, operator pelabuhan, dan pelaku usaha diharapkan semakin memperkuat ekosistem industri pengolahan mineral dalam negeri, meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat. B

 

Komentar

Bagikan