ASDP Kerahkan 26 Kapal Urai Antrean Ketapang – Gilimanuk Sepanjang 17 Km

Kapal penyeberangan di Pelabuhan Gilimanuk, Bali. (dok. kemenpar)
Bagikan

PT Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry (Persero) mengambil langkah cepat untuk mengurai kemacetan parah di lintasan penyeberangan Ketapang – Gilimanuk.

Mengantisipasi penumpukan kendaraan yang sempat mengular hingga 17 kilometer (km) di sisi Ketapang, ASDP mengoperasikan total 26 kapal secara massif, sekaligus merombak pola bongkar muat di dermaga secara dinamis.

Upaya tersebut dilakukan, menyusul akumulasi antrean kendaraan mayoritas armada logistik selama tiga hari terakhir akibat gangguan operasional sebelumnya dan tingginya volume muatan Over Dimension Over Load (ODOL).

Menurut Direktur Utama PT ASDP Indonesia Heru Widodo, percepatan siklus pelayanan menjadi kunci utama agar arus mobilitas Jawa – Bali kembali lancar tanpa mengabaikan faktor keselamatan pelayaran.

“ASDP memaksimalkan pembagian dermaga agar proses sandar, bongkar hingga keberangkatan kapal berlangsung presisi,” ujarnya.

Menurut Heru, seluruh sumber daya yang tersedia terus dioptimalkan untuk mempercepat pemulihan layanan.

“Pengaturan kapal, dermaga dan distribusi muatan dilakukan secara dinamis sesuai kapasitas dan karakteristik masing – masing kapal, serta kondisi operasional di lapangan. Fokus kami adalah mempercepat penguraian antrean secara aman dan terukur,” tuturnya.

Guna memangkas waktu tunggu atau durasi turn around time, ASDP membagi operasional 26 armada ke beberapa titik dermaga vital di Ketapang dan Gilimanuk.

Dermaga I Reguler sebanyak 5 unit kapal, Dermaga MB III Reguler 5 unit kapal, Dermaga IV 4 unit kapal, Dermaga LCM 8 unit kapal, dan Dermaga Perbantuan (LCM dan MB IV Tanjung Balai Gilimanuk) ada 4 unit kapal perbantuan.

“Pola operasi ini dipadukan dengan percepatan proses bongkar muat di setiap dermaga,” tegas Heru.

Petugas gabungan dari ASDP, Kepolisian dan regulator memperketat penyaringan muatan sejak area penampungan antrean (buffer zone) hingga rampdoor kapal.

Sementara itu, General Manager ASDP Cabang Ketapang Media Syahrianto menilai bahwa karakteristik kendaraan logistik yang beragam membutuhkan penataan ruang muat kapal (stowage plan) yang sangat terukur.

“Antrean yang terbentuk merupakan akumulasi dari kondisi operasional sebelumnya. Kami memahami kondisi ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat dan pengguna jasa,” ungkapnya.

Oleh karena itu, dia menambahkan, seluruh kapal dan fasilitas yang tersedia terus kami optimalkan untuk mempercepat penguraian antrean, dengan tetap memastikan pelayanan berjalan aman dan terkendali.

ASDP mengimbau para pengemudi dan pengguna jasa, khususnya armada logistik, untuk tertib mematuhi arahan petugas di lapangan guna mempercepat proses muat ke dalam kapal, sehingga penyeberangan Jawa – Bali dapat kembali normal sepenuhnya. B

 

Komentar

Bagikan