Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengoptimalkan potensi pasar wisatawan domestik berdaya beli tinggi (affluent travelers) melalui penyelenggaraan Nusantara Luxury Exchange: Premium Business Matching di Hotel Majapahit, Surabaya.
Forum bisnis tersebut mempertemukan 12 penyedia layanan pariwisata premium Indonesia (sellers) dengan agen perjalanan, luxury concierge, priority banking, dan corporate planners (buyers).
Wisatawan affluent merupakan segmen wisatawan berdaya beli tinggi yang mengutamakan kenyamanan dan pengalaman perjalanan eksklusif.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini mengatakan, Nusantara Luxury Exchange tidak sekadar bertujuan meningkatkan jumlah perjalanan wisata, tetapi juga nilai belanja wisatawan domestik.
“Fokus utama kami bukan lagi sekadar mengejar volume perjalanan, melainkan meningkatkan nilai belanja wisatawan nusantara per perjalanan. Melalui Nusantara Luxury Exchange, kami ingin mengalihkan sebagian belanja leisure outbound dari pasar affluent menjadi belanja pariwisata domestic,” ujarnya.
Indonesia memiliki kekayaan destinasi kelas dunia yang sangat luar biasa, dia menambahkan, kini tugas bersama adalah mengemas dan menyajikannya sebagai produk eksklusif berkualitas tinggi yang mudah dipilih dan dibeli.
Made menjelaskan, kegiatan tersebut dirancang untuk menangkap peluang dari besarnya pasar wisatawan Indonesia yang bepergian ke luar negeri.
Berdasarkan data BPS tahun 2025, tercatat 9,16 juta perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri dengan rata-rata pengeluaran mencapai US$1.875 per perjalanan. Lebih dari 50% perjalanan tersebut bertujuan untuk berlibur.
Pemilihan Surabaya sebagai tuan rumah penyelenggaraan kali ini mempertimbangkan pertumbuhan ekonominya yang mencapai 5,87% pada tahun 2025, melampaui rata – rata nasional.
Surabaya juga memiliki posisi strategis dengan dukungan Bandara Internasional Juanda sebagai pintu gerbang perjalanan wisatawan menuju berbagai destinasi nusantara.
Dalam forum tersebut, sebanyak 12 penyedia layanan pariwisata eksklusif, mulai dari luxury resort, operator kapal pinisi, hingga penyedia pengalaman gastronomi premium, memperkenalkan produk unggulan yang berfokus pada tiga pilar utama, yakni Marine, Wellness dan Gastronomy.
Penawaran tersebut mengedepankan keistimewaan (privilege), keaslian budaya (authenticity) dan privasi bagi wisatawan.
Made menuturkan, segmen luxury tourism memiliki potensi besar dalam meningkatkan kontribusi ekonomi local, sekaligus mendukung kampanye nasional #DiIndonesiaAja. Melalui sesi Exclusive B2B Table Top, forum ini diharapkan menghasilkan penawaran harga (quotation), pemesanan langsung (booking), hingga kemitraan berkelanjutan yang memberikan manfaat ekonomi bagi industri pariwisata nasional.
Saat ini, luxury tourism telah mengalami redefinisi dan kemewahan bukan lagi sebatas fasilitas megah, melainkan keunikan pengalaman yang personal (bespoke), privasi, serta keterikatan dengan budaya dan ekonomi lokal.
“Kami optimistis forum business matching ini tidak hanya melahirkan transaksi konkret dan kemitraan jangka panjang, tapi juga mengukuhkan persepsi bahwa pengalaman wisata kelas dunia berskala internasional sepenuhnya dapat dinikmati di dalam negeri,” ungkap Made. B




