AirNav Indonesia Perkuat Koordinasi Pelayanan Navigasi dengan Malaysia

Kunjungan delegasi Civil Aviation Authority of Malaysia (CAAM) di Kantor Pusat AirNav Indonesia di Tangerang. (dok. airnavindonesia)
Bagikan

AirNav Indonesia memperkuat koordinasi pelayanan navigasi penerbangan dengan Malaysia melalui pembahasan pertukaran data penerbangan, penyelarasan prosedur operasional dan rencana penataan ruang udara, serta pengembangan rute langsung.

Pembahasan tersebut berlangsung dalam pertemuan ke-13 Air Navigation Services Consultative Committee (ACC/13) Indonesia – Malaysia di Bandung pada 21 – 22 Oktober 2026.

Menurut Direktur Utama AirNav Indonesia Capt. Avirianto Suratno, koordinasi antarpusat pengendalian menjadi bagian penting dalam pelayanan penerbangan yang berpindah dari wilayah pelayanan satu negara ke negara lainnya.

Hal tersebut, lanjutnya, dikarenakan pemandu lalu lintas udara kedua negara membutuhkan pertukaran data dan prosedur koordinasi yang selaras.

“Pembahasan bersama ini diarahkan untuk memastikan proses koordinasi berjalan dengan baik dan mendukung kesinambungan pelayanan penerbangan,” jelas Capt. Avirianto saat menerima kunjungan delegasi Civil Aviation Authority of Malaysia (CAAM) di Kantor Pusat AirNav Indonesia di Tangerang.

Dia menjelaskan, kunjungan delegasi CAAM ke kantor AirNav Indonesia tersebut merupakan bagian dari rangkaian agenda bilateral antara Indonesia dan Malaysia.

Dalam kunjungannya, Capt. Avirianto menambahkan, para delegasi meninjau langsung fasilitas Indonesia Network Management Center (INMC) dan New Jakarta Air Traffic Services Centre (New JATSC), serta berdiskusi dengan personel AirNav Indonesia mengenai pelayanan navigasi penerbangan.

Sebagai informasi, pertemuan ACC/13 merupakan forum bilateral Indonesia – Malaysia yang membahas pengelolaan ruang udara dan pelayanan navigasi penerbangan.

Dalam forum tersebut, AirNav Indonesia terlibat dalam pembahasan teknis dan operasional sebagai penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan Indonesia.

Direktur Operasi AirNav Indonesia Setio Anggoro yang turut menerima kunjungan tersebut menegaskan, salah satu progres yang dibahas dalam forum tersebut adalah uji teknis Air Traffic Services Interfacility Data Communication (AIDC).

“Ini adalah sistem pertukaran data penerbangan antarpusat pengendalian antara Ujung Pandang dan Kota Kinabalu,” ungkapnya.

Menurut Setio, hasil uji mencatat tingkat keberhasilan pengiriman pesan sebesar 100% dari Ujung Pandang ke Kota Kinabalu dan 97% pada arah sebaliknya.

“Hasil tersebut menjadi dasar pembahasan lanjutan mengenai parameter teknis dan persiapan uji operasional. Implementasi penuh ditargetkan pada Februari 2027, bergantung pada kesepakatan kedua pihak,” jelasnya.

Pada aspek pengelolaan ruang udara, kata Setio, kedua negara menyepakati usulan penataan ruang udara di wilayah Balikpapan – Tarakan dengan target implementasi 21 Januari 2027.

“Persiapan penerapannya mencakup penyusunan pengaturan koordinasi dan pelayanan antarpihak terkait,” ujarnya.

Selain itu, forum juga membahas perubahan Rute A576 dan N563 yang akan diajukan kepada International Civil Aviation Organization (ICAO), serta pengembangan rute langsung yang masih memerlukan koordinasi teknis dan persetujuan lebih lanjut.

Pembahasan operasional lainnya mencakup peningkatan prosedur koordinasi antarwilayah pelayanan di perbatasan, termasuk Tarakan – Tawau dan penyelarasan publikasi informasi penerbangan.

Peningkatan prosedur tersebut diarahkan untuk mengurangi potensi hazard dalam proses koordinasi dan peralihan pelayanan penerbangan antarkedua negara.

Kemudian, pada aspek keselamatan, kedua negara menyepakati penguatan koordinasi melalui penunjukan penghubung keselamatan pada masing – masing wilayah informasi penerbangan serta rekonsiliasi data kejadian di batas wilayah pelayanan.

Pencocokan data kedua pihak menjadi dasar untuk menentukan tindak lanjut perbaikan pada lokasi prioritas.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Keselamatan, Keamanan dan Standardisasi AirNav Indonesia Capt. Nurcahyo Utomo menambahkan, Indonesia dan Malaysia juga menyepakati pengembangan kerangka kontingensi pelayanan lalu lintas penerbangan, yaitu pengaturan untuk menjaga kesinambungan pelayanan ketika terjadi gangguan, termasuk akibat keadaan kahar.

Sebagai tindak lanjut, dia mengatakan, kedua pihak merencanakan latihan bersama berbasis skenario pada 2027 sebelum pertemuan ACC berikutnya.

“Tindak lanjut pertemuan ini harus menjawab kebutuhan operasional. AirNav akan terus berkoordinasi dengan pihak Malaysia untuk menyiapkan penerapan hasil pembahasan sesuai persyaratan teknis dan keselamatan,” jelas Nurcahyo.

Menurutnya, kerja sama peningkatan kapasitas personel turut menjadi perhatian melalui kesepakatan untuk melanjutkan dan meningkatkan program pertukaran personel operasional antara AirNav Indonesia dan CAAM.

Program tersebut diarahkan untuk memperkuat pemahaman terhadap praktik pelayanan masing – masing pihak.

Melalui koordinasi bilateral dan kerja sama operasional tersebut, AirNav Indonesia terus mendukung keselamatan dan kelancaran pelayanan navigasi penerbangan antara wilayah pelayanan Indonesia dan Malaysia. B

 

Komentar

Bagikan