
PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menjadikan Bandara Kertajati Majalengka sebagai tempat peningkatan produksi pesawat CN235 dan N219 dengan target 110 unit.
Ekspansi bisnis produksi pesawat dilakukan PTDI dengan bermitra Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB) pada sisi Barat Bandara Kertajati.
Bandara ini tidak hanya diproyeksikan sebagai pusat transportasi udara. Ke depan, kawasan ini juga akan dikembangkan menjadi basis industri dirgantara nasional yang mencakup manufaktur pesawat, pusat perawatan pesawat (Maintenance, Repair and Overhaul/MRO), aerostructure hingga pengembangan pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial System (UAS).
Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (Perseroda) atau BIJB mengenai pengembangan kawasan sisi Barat Bandara Kertajati sebagai kawasan industri kedirgantaraan.
Nota Kesepahaman ditandatangani Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan dan Pelaksana Tugas Direktur BIJB Ronald H. Sinaga di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Jakarta, baru – baru ini.
Penandatanganan tersebut disaksikan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (Menko AHY), Wakil Menteri Perhubungan Suntana, serta Bupati Majalengka Eman Suherman.
Menurut Menko AHY, kerja sama tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah menjadikan Bandara Kertajati sebagai salah satu pusat industri dirgantara nasional.
“Pemerintah tidak hanya terus mengupayakan peningkatan aktivitas penerbangan di Bandara Kertajati, tetapi juga mendorong lahirnya ekosistem industri dirgantara yang terintegrasi. Tinggal bagaimana kita menciptakan pasarnya,” ujarnya.
Dalam tahap awal, PTDI dan BIJB akan mengoptimalkan fasilitas yang telah tersedia, termasuk landasan pacu (runway) Bandara Kertajati, untuk mendukung uji terbang berbagai produk PTDI.
Produk tersebut meliputi pesawat sayap tetap (fixed wing), helikopter (rotary wing) hingga pesawat tanpa awak (UAS) untuk kebutuhan pertahanan maupun komersial.
Pengembangan kawasan industri ini juga menjadi bagian dari strategi PTDI dalam memperkuat layanan kedirgantaraan secara menyeluruh, mulai dari pengujian, sertifikasi, pemeliharaan, dukungan purna jual hingga layanan sepanjang siklus operasional pesawat (life cycle support).
Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan, saat membacakan sambutan Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), menuturkan, optimistis Kertajati akan berkembang menjadi pusat industri dirgantara nasional.
“Kami sangat yakin di Kertajati ini bisa dibangun suatu industri kedirgantaraan nasional yang tangguh. Di sana ada manufaktur, ada MRO, ada aerostructure dan tentunya ini akan menjadi suatu kolaborasi antara industri, pemerintah, pemerintah daerah, serta global partner,” jelasnya.
Pengembangan kawasan industri di Bandara Kertajati juga menjadi langkah strategis PTDI untuk meningkatkan kapasitas produksi perusahaan.
Hal itu sejalan dengan penugasan pengadaan 80 unit pesawat CN235 dan 30 unit pesawat N219, sehingga total mencapai 110 unit pesawat.
Selain mendukung peningkatan kapasitas produksi, kawasan industri tersebut diharapkan dapat mempercepat komersialisasi pesawat N219, sekaligus memperkuat kesiapan sarana dan prasarana produksi PTDI dalam memenuhi kebutuhan industri kedirgantaraan nasional.
Dengan sinergi tersebut, Bandara Kertajati diharapkan tidak hanya menjadi gerbang transportasi udara di Jawa Barat, tetapi juga berkembang sebagai pusat manufaktur dan layanan industri dirgantara yang mampu memperkuat daya saing Indonesia di sektor penerbangan. B



