PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. (GMFI) mencatatkan laba bersih sebesar US$6,75 juta pada Kuartal I/2026.
Angka tersebut melonjak 78,36% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$3,79 juta.
Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh peningkatan pendapatan sebesar 20,57% secara tahunan menjadi US$114,94 juta hingga Maret 2026.
Sumber pendapatan Perseroan pada Kuartal I/2026 didominasi oleh bisnis perawatan pesawat (aircraft maintenance), khususnya dari segmen airframe senilai US$89,5 juta.
Kontribusi berikutnya berasal dari segmen line maintenance sebesar US$20,3 juta, disusul oleh segmen component dan engine yang masing – masing mencatat pendapatan setara US$19,1 juta.
Selain itu, proyek dari sektor pemerintah (government) turut menyumbang pendapatan sebesar US$8,8 juta, sedangkan lini power services memberikan kontribusi sebesar US$3,3 juta.
Dari sisi pelanggan, pendapatan Perseroan masih sangat bergantung pada Garuda Indonesia Group (GA) yang menyumbang 75,4% dari total pendapatan.
Sementara itu, pelanggan Non-Garuda Indonesia Group (NGA) berkontribusi 20,9%, dan sisanya 3,6% berasal dari sektor pemerintah.
Menurut Direktur Keuangan GMFI Tri Hartono, capaian tersebut menunjukkan keberhasilan perusahaan dalam menerjemahkan pertumbuhan bisnis menjadi peningkatan profitabilitas yang lebih kuat.
“Kinerja ini menunjukkan kemampuan perseroan untuk mengonversi pertumbuhan bisnis menjadi peningkatan profitabilitas yang lebih kuat,” katanya dalam penjelasan publik melalui online.
Dia menambahkan bahwa Perseroan terus memperkuat strategi pertumbuhan jangka panjang dengan mengembangkan segmen pertahanan sebagai salah satu pilar bisnis utama.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama GMFI Andi Fahrurrozi menuturkan, kontribusi bisnis pertahanan ditargetkan mencapai minimal 10% dari total pendapatan perusahaan pada tahun 2026 atau setara lebih dari US$50 juta.
“Untuk segmen defense tahun ini target kita 10% dari total revenue, minimal 10%, jadi di atas US$50 juta. Ke depannya di tahun 2030 kita targetkan bahwa dari segmen defense itu menyumbang 20% total revenue,” ujarnya.
Menurut Andi, peluang bisnis pertahanan akan semakin besar seiring program modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) nasional, termasuk pengadaan pesawat militer baru yang membutuhkan layanan perawatan dan perbaikan secara berkelanjutan.
Selain memperkuat pasar domestik, Perseroan juga memperluas jangkauan internasional melalui ekspansi ke kawasan Timur Tengah.
Perseroan menargetkan pendapatan sekitar US$16 juta tahun 2026 dari fasilitas hanggar yang dioperasikan bersama mitra lokal di wilayah tersebut.
“Kami memanfaatkan peluang pasar Timur Tengah melalui fasilitas hanggar yang dioperasikan bersama mitra lokal. Hasilkan pendapatan sekitar US$16 juta tahun ini dengan potensi pertumbuhan 2,5 hingga 3,5 kali dalam tiga tahun ke depan,” ungkapnya.
Fasilitas hanggar tersebut dijadwalkan mulai beroperasi dalam waktu dekat dan diharapkan menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru yang mendukung ekspansi bisnis GMF di pasar global.
Pada perdagangan saham Sesi I hingga pukul 10.38 WIB, harga saham GMFI tertahan di Rp50 per lembar.
Dalam sebulan terakhir saja, saham GMFI turun 13,79% dan sejak awal tahun merosot hingga 32,43%. B




