Komoditas kacang mete atau kacang mede selama ini lebih dikenal sebagai camilan, tetapi Dosen Agribisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Cahyo Wisnu Rubiyanto tengah mengembangkan perkebunan mete di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Lahan seluas 3.000 hektare akan menjadi penyedia bahan baku (feedstock) biofuel penerbangan.
Dia menjelaskan, proyek ini dalam seminar internasional UMY Summer School 2026 di Yogyakarta berjalan melalui kemitraan dengan perusahaan asal Jepang.
Menurut Cahyo, kacang mete di NTT adalah komoditas strategis dan nilainya jauh lebih tinggi daripada sekadar produk pangan.
Mete berpotensi menjadi bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Saat ini, industri aviasi global sedang fokus pada SAF untuk mengurangi emisi karbon. “Kami saat ini sedang mengembangkan perkebunan mete hingga mencapai 3.000 hektare.”
Dalam pendanaan dan pengembangan proyek, UMY menggandeng Nishihara Soji Holdings.
Perusahaan tersebut berbasis di Jepang dan menjadi pilar utama proyek ini.
Pengembangan komoditas mete tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi.
Proyek ini juga bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal melalui pengelolaan kebun yang berkelanjutan.
Cahyo menggunakan pendekatan Sustainable Livelihood Approach (SLA) untuk proyek ini, dengan menjelaskan faktor keberhasilan proyek dan kolaborasi internasional.
Ada lima jenis modal yang menjadi fondasi penghidupan berkelanjutan:
- Modal manusia (human capital).
- Modal alam (natural capital).
- Modal sosial (social capital).
- Modal finansial (financial capital).
- Modal fisik (physical capital).
Dari kelima modal tersebut, modal sosial sering kali menjadi faktor penentu, tetapi modal ini justru kerap diabaikan.
“Sebelum membangun modal sosial, kita harus membangun diri sendiri terlebih dahulu. Kita harus memiliki modal manusia berupa pengetahuan, keterampilan dan pengalaman. Tanpa modal itu, kita akan sulit membangun kepercayaan dengan pihak lain,” tuturnya.
Keberhasilan kolaborasi internasional tidak hanya bergantung pada dana atau teknologi.
Kunci utamanya adalah kemampuan membangun hubungan yang berlandaskan kepercayaan dan modal finansial tidak akan berjalan optimal tanpa modal sosial.
Selain mengembangkan proyek mete di NTT, Cahyo juga aktif sebagai konsultan bagi Nikko, perusahaan cokelat asal Jepang.
Dia membantu pengembangan biji kakao Indonesia untuk pasar internasional dan berdasarkan pengalaman tersebut, Cahyo merumuskan prinsip Five C dalam kolaborasi internasional:
- Curiosity(rasa ingin tahu).
- Communication(komunikasi).
- Consistency (konsistensi).
- Contribution(kontribusi).
- Collaboration(kolaborasi).
Bagi Cahyo, keberhasilan global tidak lagi ditentukan oleh indeks prestasi akademik semata. Kemampuan teknis juga bukan satu – satunya penentu.
“Yang benar – benar dibutuhkan saat ini adalah jaringan global dan komunikasi lintas budaya,” tegasnya. B




