Pengemudi Betor Beralih ke Becak Listrik di Kawasan Zona Emisi Rendah Malioboro

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menggunakan becak listrik bantuan program CSR dari PT KAI, yang menggantikan becak motor untuk kawasan Malioboro. (dok. jogjakota.go.id)
Bagikan

Sebanyak 50 pengemudi becak motor (betor) di kawasan Malioboro Kota Yogyakarta beralih menggunakan becak listrik.

Para pengemudi beralih setelah mendapat becak listrik program Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daops VI Yogyakarta.

Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta mengapresiasi PT KAI Daops VI, karena becak listrik akan mendukung zona emisi rendah di kawasan Malioboro.

Penyerahan CSR 50 becak listrik dari PT KAI Daop VI Yogyakarta dilakukan oleh Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyerahkan Surat Izin Operasional Kendaraan Tidak Bermotor (SIOKTB) dan Tanda Nomor Kendaraan Tidak Bermotor (TNKTB) kepada pengurus koperasi pengemudi becak.

Dalam kesempatan itu, 50 betor yang selama ini dipakai pengemudi becak dihancurkan karena telah diganti dengan becak listrik.

Penyerahan becak listrik juga menjadi rangkaian kegiatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Pemkot Yogyakarta.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan atas nama Pemkot Yogyakarta mengucapkan terima kasih atas bantuan becak listrik dari CSR PT KAI.

Menurutnya, becak listrik menjadi solusi terbaik dan mendukung lingkungan di kawasan Malioboro tanpa para pengemudi becak kehilangan mata pencaharian dan Pemkot Yogyakarta berkomitmen menciptakan Malioboro sebagai sumbu filosofi yang ramah lingkungan.

“Lambat tapi pasti becak yang konvensional harus habis. Kemudian secara bertahap, becak listrik hadir. Dengan cara begitu maka cita – cita kita mewujudkan minimal di sumbu filosofi itu menggunakan sarana transportasi yang minimal terhadap polutan lingkungan akan tercapai menggunakan becak listrik,” ungkap Hasto.

Pemkot Yogyakarta berharap penggantian ke becak listrik terus berlanjut sampai 900 unit dalam waktu dua tahun.

Hasto menyebutkan, dengan bantuan CSR dan beberapa pihak sebelumnya sampai kini sudah sekitar 260 becak listrik di Yogyakarta.

Sebagian masih ada yang uji coba karena belum kompatibel, tapi nantinya semua becak listrik yang diproduksi akan kompatibel terhadap pengguna dan lingkungan.

Untuk penyediaan charge station bagi becak listrik, Wali Kota berharap dukungan dari PLN dan Pemkot Yogyakarta juga siap bekerja sama dengan PLN agar pengisian daya listrik untuk becak listrik agar biayanya tidak terlalu mahal.

“Syaratnya menerima becak ini asalkan dalam bentuk koperasi, bukan individu – individu. Nah, koperasi inilah yang kontrol, jangan tambah betor. Sudah kita kunci dan secara bertahap, kalau hari ini 50 becak dihancurkan, begitu menerima becak listrik itu dihancurkan, sehingga harapan saya tidak ada orang mau nambah becak baru dalam bentuk yang konvensional,” tuturnya.

Sementara itu, Executive Vice President (EVP) KAI Daop 6 Yogyakarta Bambang Respationo menjelaskan, PT KAI tidak hanya perusahaan jasa transportasi, tapi juga berkomitmen terhadap program di lingkungan.

Salah satunya program CSR becak listrik yang juga mendukung program lingkungan Pemkot Yogyakarta dan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dia menyebutkan bahwa biaya pengadaan 50 becak listrik CSR PT KAI itu hampir mencapai Rp1 miliar.

“Di Yogya punya program untuk menggantikan becak – becak yang motor itu menjadi listrik yang lebih ramah lingkungan. Di KAI pun punya program juga untuk support seluruh kegiatan ramah lingkungan juga,” ujarnya.

Di KAI tidak hanya becak listrik, tapi juga punya solar cell, sehingga ada penggantian beberapa yang semuanya adalah program untuk mendukung ramah lingkungan.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan DIY Chrestina Erni Widyastuti mewakili Sekda DIY menuturkan atas nama Pemprov DIY mengapresiasi PT KAI atas bantuan becak listrik lewat program CSR.

Menurutnya, bantuan itu bukan sekadar bantuan sarana transportasi, tetapi juga bentuk dukungan terhadap pelestarian moda transportasi tradisional Yogyakarta dan bagian dari mewujudkan kawasan rendah emisi di wilayah kawasan sumbu filosofi Yogyakarta.

Penghapusan becak motor yang dilaksanakan bukan semata – mata penggantian alat transportasi, melainkan merupakan bagian dari mengurangi tekanan lingkungan dan mewujudkan kawasan rendah emisi di wilayah kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta.

“Upaya ini diharapkan dapat menurunkan tingkat pencemaran udara, menciptakan lingkungan yang lebih sehat, sekaligus memperkuat citra Yogyakarta sebagai kota budaya,” jelas Erni. B

 

 

 

 

 

 

Komentar

Bagikan