PT Kereta Api Indonesia (KAI) berencana meningkatkan kapasitas angkutan batu bara.
Guna mendukung target tersebut, KAI melakukan uji coba lokomotif CC205 di lintas Sumatra Selatan pada 12 Mei 2026.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, pengujian dilakukan untuk mengukur kemampuan sarana dalam mendukung peningkatan distribusi logistik energi.
“Untuk meningkatkan kapasitas angkutan batu bara, KAI terus melakukan penguatan sarana dan pengujian operasional. Pengujian dilakukan dengan menarik rangkaian 60 gerbong batu bara pada lintasan menanjak,” katanya.
Pada simulasi tersebut, rangkaian kereta dihentikan di beberapa titik tanjakan.
Rel kemudian disiram air untuk menguji kemampuan adhesi lokomotif saat perjalanan kembali dijalankan pada kondisi lintasan yang lebih berat.
Hasil pengujian menunjukkan lokomotif tetap mampu menarik beban sekitar 4.000 ton di lintasan tersebut.
Pengujian dilakukan untuk mengukur performa lokomotif dalam mendukung peningkatan volume angkutan batu bara yang terus tumbuh.
Menurut Anne, penguatan kapasitas angkutan barang dilakukan secara bertahap karena kebutuhan distribusi logistik nasional terus meningkat.
“Keandalan distribusi logistik akan menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan ketahanan energi nasional. Karena itu, pengembangan kapasitas dilakukan dengan pendekatan yang terukur dan berbasis kebutuhan jangka panjang,” ujar Anne.
Kebutuhan listrik di Jawa dan Bali juga terus meningkat seiring aktivitas ekonomi dan pertumbuhan penduduk.
Sektor pendidikan, layanan kesehatan, transportasi publik, pusat data digital, kawasan industri, hingga layanan pemerintahan membutuhkan pasokan energi yang stabil setiap hari.
Dalam sistem ketenagalistrikan nasional, batu bara masih menjadi sumber energi utama pembangkit listrik.
Oleh karena itu, Anne menambahkan, distribusi batu bara dinilai penting untuk menjaga stabilitas aktivitas ekonomi dan masyarakat.
Pada periode Januari hingga April 2026, KAI mengangkut 1,6 juta ton batu bara. Khusus April 2026, volume angkutan mencapai 4,6 juta ton.
Sebagian besar distribusi tersebut digunakan untuk mendukung kebutuhan pembangkit listrik di Jawa dan Bali.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 mencatat wilayah Jawa dan Bali dihuni lebih dari 163 juta penduduk atau sekitar 58% populasi Indonesia.
“Distribusi energi memiliki keterkaitan langsung dengan aktivitas masyarakat dan produktivitas ekonomi. Karena itu, pola angkut yang stabil menjadi penting agar rantai pasok energi dapat berjalan dengan baik,” tutur Anne.
Dalam sistem logistik nasional, kereta api dinilai cocok untuk mengangkut komoditas massal jarak jauh.
Selain memiliki kapasitas besar, jalur rel yang terpisah dari lalu lintas jalan raya membuat distribusi lebih terukur dari sisi waktu perjalanan dan pola operasi.
Lokomotif CC205 mampu menarik hingga 61 gerbong atau setara sekitar 3.050 ton barang dalam satu perjalanan.
Kapasitas tersebut diperkirakan setara dengan sekitar 120 truk kontainer ukuran 40 kaki.
Menurut KAI, kapasitas besar dalam satu perjalanan turut meningkatkan efisiensi distribusi dan mengurangi pergerakan kendaraan berat di jalan raya.
Pengembangan sarana tersebut menjadi bagian dari investasi KAI senilai US$222,5 juta atau sekitar Rp3,56 triliun.
Investasi tersebut diproyeksikan mendukung target angkutan batu bara sebesar 111,2 juta ton dan angkutan non-batu bara sebesar 10,9 juta ton pada tahun 2029.
KAI juga mendorong penggunaan produk dalam negeri melalui kerja sama dengan PT INKA.
Seluruh gerbong datar BM 54 ton diproduksi di dalam negeri dengan optimalisasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Pengembangan sarana tersebut juga disiapkan untuk mendukung pertumbuhan distribusi barang di Sumatra Selatan, termasuk proyek Tarahan II dan Kertapati.
“Distribusi energi sering kali bekerja di balik aktivitas masyarakat tanpa banyak terlihat, tapi memiliki pengaruh besar terhadap keberlangsungan kehidupan sehari-hari,” ungkap Anne. B




