Layanan Berlapis Petugas Haji di Bandara Bandara Pangeran Mohammad bin Abdulaziz

Petugas tengah membantu jemaah haji naik angkutan bus di Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdulaziz, Madinah, Arab Saudi. (dok. haji.go.id)
Bagikan

Kedatangan jemaah haji Indonesia di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah tidak hanya ditandai dengan proses turun dari pesawat dan pengambilan barang bawaan.

Pada setiap kedatangan, ada rangkaian layanan yang disiapkan secara berlapis oleh petugas haji Daerah Kerja (Daker) Bandara, mulai dari penyambutan, pendampingan lansia dan disabilitas, pengawasan bagasi hingga koordinasi kesehatan jemaah.

Kepala Daerah Kerja Bandara Abdul Basir menjelaskan bahwa pelayanan di Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdulaziz Madinah merupakan wajah pertama layanan haji Indonesia di Arab Saudi.

Oleh karena itu, lanjutnya, seluruh petugas diminta bekerja tidak hanya cepat dan tertib, tetapi juga dengan kepekaan terhadap kondisi jemaah yang baru menempuh perjalanan panjang.

“Bandara adalah titik awal jemaah merasakan pelayanan di tanah suci. Maka, sejak mereka turun dari pesawat, petugas harus hadir. Bukan hanya mengarahkan, tetapi juga menenangkan, membantu dan memastikan tidak ada jemaah yang merasa sendirian,” ujar Abdul Basir.

Menurutnya, sebagian besar jemaah tiba di Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdulaziz Madinah, dalam kondisi lelah setelah menempuh penerbangan berjam – jam dan tidak sedikit pula jemaah lansia yang membutuhkan pendampingan khusus, baik saat keluar dari pesawat, menuju area imigrasi, menunggu bagasi maupun saat diarahkan menuju bus keberangkatan ke hotel.

“Bagi kita mungkin proses bandara terlihat biasa. Tetapi bagi jemaah, terutama lansia, ini perjalanan besar dalam hidup mereka. Ada yang baru pertama kali naik pesawat, ada yang kelelahan, ada yang cemas mencari rombongan atau barangnya. Di situlah petugas harus bekerja dengan hati,” jelasnya.

Abdul Basir menambahkan, pelayanan bandara dilakukan melalui koordinasi sejumlah unsur, mulai dari petugas sektor bandara, petugas kesehatan, petugas perlindungan jemaah, hingga pihak otoritas terkait.

Setiap alur kedatangan dipantau agar jemaah dapat bergerak secara tertib, aman dan tidak mengalami penumpukan di area layanan.

“Tugas tersebut tidak ringan. Para petugas bekerja di area luar ruangan, menghadapi panas terik pada siang hari, dingin yang menusuk pada malam hari, angin kencang dan debu yang kerap beterbangan,” tuturnya.

Namun, Abdul Basir menekankan bahwa ketelitian tetap menjadi kunci utama, bahkan barang bawaan jemaah itu bagian dari kenyamanan mereka dan ketika koper ditemukan, kursi roda tidak tertukar atau tongkat bisa kembali kepada pemiliknya.

“Itu mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi jemaah haji, hal tersebut sangat berarti,” tegasnya.

Selain aspek bagasi dan mobilitas, Daker Bandara juga memberi perhatian serius terhadap kondisi kesehatan jemaah.

Hal ini sejalan dengan penegasan PPIH Pusat bahwa pemeriksaan kesehatan pada masa embarkasi harus diperketat dan tidak boleh menjadi formalitas, serta status istitaah kesehatan merupakan syarat mutlak keberangkatan jemaah haji.

Abdul Basir menyampaikan bahwa setibanya di Arab Saudi, petugas bandara tetap melakukan pengamatan terhadap kondisi jemaah, terutama yang terlihat lemah, mengalami kelelahan berlebih, atau membutuhkan bantuan medis.

Bila ditemukan jemaah yang memerlukan penanganan, petugas segera berkoordinasi dengan tim kesehatan.

“Kami tidak ingin ada jemaah yang terlewat dari perhatian. Kalau ada yang tampak lemah, kebingungan, atau butuh bantuan, petugas harus responsive,” ungkapnya.

Dia menambahkan, keberhasilan pelayanan di bandara sangat bergantung pada kekompakan petugas di lapangan.

Setiap orang memiliki peran masing – masing, tetapi semuanya bermuara pada tujuan yang sama, memastikan jemaah tiba, bergerak dan melanjutkan perjalanan ke hotel dengan baik.

“Petugas mungkin bekerja di belakang layar, tetapi dampaknya langsung dirasakan jemaah. Senyum jemaah ketika dibantu, rasa lega ketika barangnya ditemukan atau ketenangan ketika diarahkan menuju bus, itu menjadi energi bagi kami untuk terus melayani,” kata Abdul Basir.

Dia Basir berharap seluruh petugas Daker Bandara terus menjaga stamina, disiplin dan empati selama masa operasional haji.

Menurutnya, pelayanan yang baik tidak hanya lahir dari sistem yang rapi, tetapi juga dari kesabaran dan kepedulian petugas dalam menghadapi berbagai kondisi jemaah.

“Kita melayani tamu Allah. Maka tugas ini harus dijalankan dengan tanggung jawab, ketelitian dan hati yang lapang. Semoga setiap bantuan kecil yang kita berikan menjadi bagian dari kelancaran ibadah jemaah,” ujarnya. B

 

Komentar

Bagikan