Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bersama dengan manajemen Airbus membahas penguatan kemitraan strategis dan peluang pengembangan industri dirgantara nasional secara berkelanjutan.
Pertemuan tersebut dilakukan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy dengan Presiden Airbus Asia-Pacific Anand Stanley.
Pembahasan itu menjadi langkah awal dalam memperkuat kolaborasi strategis Indonesia dan mendorong transformasi sektor transportasi udara, serta pengembangan industri dirgantara nasional yang berdaya saing global.
“Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat bergantung pada konektivitas udara untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan dan mobilitas masyarakat,” ujar Pambudy dalam keterangan resminya di Jakarta.
Dia menegaskan bahwa inovasi teknologi dan efisiensi operasional pesawat menjadi faktor penting dalam menjawab kebutuhan pengembangan industri dirgantara nasional.
“Airbus bukan hanya mitra strategis bagi Indonesia, tetapi memiliki sejarah panjang dalam industri dirgantara, bahkan memuji komitmen Airbus untuk terus memperbaharui pesawat tahun ini yang dinilai sangat mengesankan,” jelasnya.
Terkait dengan kebutuhan armada nasional, Airbus menyampaikan kesiapan untuk mempercepat proses pengiriman pesawat, yakni sekitar 24 bulan sejak penandatanganan kontrak.
Manajemen Airbus juga menawarkan opsi pesawat berbadan lebar untuk penerbangan ultra-jarak jauh yang mampu menghubungkan Indonesia secara langsung ke berbagai destinasi global seperti New York dan London, dengan kapasitas hingga 480 kursi tergantung konfigurasi.
Selain itu, perusahaan tersebut turut membuka peluang menjadikan Indonesia sebagai pusat Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) untuk kawasan Asia-Pasifik untuk kebutuhan komersial maupun pertahanan.
Menanggapi hal tersebut, Menteri PPN menegaskan bahwa kerja sama antara pemerintah dengan Airbus harus melampaui aspek pengadaan pesawat semata.
“Penguatan ekosistem dirgantara nasional mencakup pengembangan sumber daya manusia, sistem perawatan dan pemeliharaan, serta peningkatan kapasitas industri dalam negeri agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pusat pertumbuhan industri dirgantara kawasan,” ungkapnya.
Secara global, Airbus mengalokasikan sekitar US$6 miliar per tahun untuk desain dan ekspansi manufaktur.
Di kawasan Asia, Airbus juga menginvestasikan sekitar US$4 miliar per tahun untuk pengembangan riset, taman industri dan fasilitas produksi, dengan dukungan sekitar 10.000 karyawan dari 70 kewarganegaraan. B




