PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus melakukan inovasi layanan dengan menyiapkan rangkaian kereta berkonsep experience, luxury dan heritage yang saat ini dalam tahap pengerjaan di Balai Yasa Surabaya Gubeng.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin meninjau langsung progres pengembangan sarana tersebut bersama Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad.
Hingga saat ini, progres tahap pertama telah mencapai sekitar 38% dan ditargetkan memasuki tahap uji coba pada Juni 2026 sebelum diluncurkan secara komersial.
Pengembangan konsep ini dilakukan dengan mempertimbangkan pertumbuhan sektor pariwisata di Pulau Jawa.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total perjalanan wisata domestik di Pulau Jawa pada 2024 mencapai 706.472.487 perjalanan.
Pada tahun 2025, angka tersebut meningkat menjadi 777.760.821 perjalanan atau tumbuh sekitar 10,1% dalam satu tahun.
Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) melalui pintu kedatangan bandara di Pulau Jawa juga menunjukkan tren positif.
Pada tahun 2024, total kunjungan wisman tercatat sebanyak 2.962.247 orang, sedangkan pada tahun 2025 jumlah tersebut meningkat menjadi 3.198.593 orang, atau tumbuh sekitar 8%.
Sejalan dengan tren tersebut, jumlah wisman yang menggunakan layanan kereta api jarak jauh juga terus meningkat.
Pada tahun 2022 tercatat 300.708 wisman, meningkat menjadi 580.995 wisman pada 2023, kemudian 669.226 wisman pada tahun 2024 dan kembali naik menjadi 694.123 wisman di tahun 2025.
Pertumbuhan ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan wisatawan global terhadap layanan transportasi berbasis rel di Indonesia.
Secara kumulatif, dalam periode tahun 2022 hingga tahun 2025 terjadi pertumbuhan sebesar sekitar 131%, mencerminkan lonjakan lebih dari dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir.
Angka ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan wisatawan global terhadap layanan transportasi berbasis rel di Indonesia, sekaligus memperkuat posisi kereta api sebagai moda pilihan untuk menjelajahi destinasi wisata di Pulau Jawa.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menjelaskan bahwa pertumbuhan tersebut menjadi momentum strategis bagi KAI untuk menghadirkan layanan perjalanan berbasis rel yang terintegrasi dengan lanskap alam dan kekayaan budaya di Pulau Jawa.
“Kereta api melintasi berbagai wilayah dengan panorama yang kuat secara visual dan historis. Melalui konsep experience, luxury dan heritage ini, KAI menghadirkan perjalanan yang memadukan kenyamanan premium dengan nilai historis dalam satu rangkaian layanan,” tuturnya.
Rangkaian yang tengah dipersiapkan terdiri dari 12 kereta yang mencakup kereta sleeper dengan ruang privat, kereta makan berkonsep fine dining, kereta lounge dengan fasilitas hiburan, serta kereta pendukung operasional.
Seluruhnya dirancang melalui pendekatan revitalisasi sarana era tahun 1980 hingga tahun 1990-an yang dikembangkan ulang dengan standar kenyamanan modern.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari optimalisasi dan peremajaan aset, sekaligus menjaga karakter historis sarana agar tetap relevan dengan kebutuhan pelanggan masa kini.
“Kami merancang ulang kereta heritage dengan sentuhan modern agar tetap mempertahankan nilai sejarahnya dan menghadirkan standar layanan yang semakin meningkat. Inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem pariwisata berbasis kereta api di Indonesia,” jelas Bobby.
Ke depan, operasional akan difokuskan pada perjalanan tematik dengan rute pilihan yang menawarkan panorama terbaik dan terintegrasi dengan destinasi wisata unggulan.
Melalui inovasi ini, KAI optimistis dapat memperluas peran kereta api sebagai bagian penting dari industri pariwisata nasional. B




