Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) mendorong Bandara Internasional Lombok untuk dikembangkan menjadi pusat transit atau hub-and-spoke penerbangan di wilayah Indonesia bagian Timur.
Menurut Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, upaya tersebut membutuhkan pembenahan desain bandara dan penambahan rute penerbangan internasional, karena arah pengembangan Provinsi NTB ke depan semakin menguat sebagai hub penerbangan.
Saat ini, dia menambahkan, pemerintah daerah (pemda) telah menambah sejumlah rute baru dan tengah menyiapkan pembukaan penerbangan internasional.
“Sekarang NTB sudah hampir pasti arahnya adalah jadi hub. Kita sudah nambah tujuh penerbangan domestik baru. Insyaallah bulan depan dua rute internasional kita akan buka dan setelahnya akan ada lagi satu internasional,” jelas Iqbal usai rapat bersama Injourney dan PT Injourney Tourism Development Corporation (ITDC) di Hotel Lombok Astoria.
Dia menjelaskan bahwa Bandara Lombok berpotensi menjadi fifth freedom, yakni lokasi singgah pesawat berbadan lebar dengan jarak tempuh penerbangan jauh.
“Jadi, bisa lewat sini mampir menuju ke Australia. Kemudian, kita juga ada seaplane. Ini akan diintegrasikan nanti dengan airport kita,” ujarnya.
Namun, Gubernur Iqbal mengakui ada tantangan utama pengembangan Bandara Lombok sebagai hub-and-spoke, yakni terletak pada desain bandara yang sejak awal tidak dirancang untuk fungsi tersebut.
“Dulu didesain tidak jadi hub. Jadi, ini perlu perubahan desain, perlu modifikasi dan sebagainya, tadi langsung diakomodir oleh Injourney,” katanya.
Gubernur Iqbal mendukung rencana modifikasi Bandara Lombok agar lalu lintas udara dan kenyamanan penumpang transit dapat ditingkatkan. “Ruang tunggu, sistem bagasinya harus lebih baik dan sebagainya.”
Selain pengembangan bandara, dia juga membuka peluang kerja sama pengelolaan layanan Very Important Person (VIP) Airport dengan pihak swasta untuk melayani tamu-tamu penting, termasuk investor dan delegasi internasional.
“Bandara VIP bisa kita kerjasamakan dengan pihak swasta untuk melayani tamu – tamu penting mereka. Bahkan, saya sudah menyiapkan satu unit mobil listrik di sana sebagai bagian dari layanan ramah lingkungan,” jelasnya.
Dalam masterplan terbaru, kawasan Mandalika dikembangkan ke dalam sejumlah distrik tematik, mulai dari Kuta District, Circuit District, Marina West, West Lagoon, Golf Resort Community hingga Merese Sunset Hill District.
Berbagai fasilitas unggulan juga disiapkan, seperti sirkuit internasional Mandalika beserta ekosistem otomotifnya, kawasan MICE, hotel dan resort bintang lima, marina, lapangan golf 27-hole, pusat budaya, hingga Mandalika Central Park sebagai ruang publik utama.
Sementara itu, Direktur Utama InJourney Maya Watono menyatakan dukungan terhadap pengembangan Bandara Lombok dan Mandalika sebagai gerbang pariwisata dan penerbangan kelas dunia.
Dia mendorong transformasi sektor penerbangan dan pariwisata nasional melalui penguatan konektivitas internasional dan pengembangan destinasi unggulan.
“InJourney tidak hanya mengelola bandara, tetapi membangun ekosistem pariwisata terpadu dari hulu ke hilir. Karena itu, penguatan bandara, destinasi, hingga layanan pendukung harus berjalan selaras agar manfaat ekonomi dan sosialnya benar-benar dirasakan masyarakat,” tutur Maya.
Saat ini, InJourney mengelola 37 bandara dengan layanan lebih dari 156 juta penumpang per tahun dan mengembangkan destinasi prioritas nasional seperti Mandalika, Nusa Dua, serta Golo Mori.
Melalui Enam Pilar Bisnis, yakni Bandara, Layanan Aviasi, Pengembangan Pariwisata, Manajemen Destinasi, Perhotelan, dan Ritel, InJourney mendorong pertumbuhan investasi, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan Usaha Menengah, Kecil dan Mikro (UMKM).
“Bandara Lombok menegaskan kesiapannya menjadi hub baru pariwisata dan logistik Indonesia Timur,” ungkapnya.
Maya menambahkan, Bandara Lombok memiliki kapasitas terminal hingga 7 juta penumpang per tahun serta fasilitas airside yang mampu melayani pesawat wide body hingga Boeing 777.
Kondisi ini dinilai siap menangkap peluang pasar baru pascapandemi, apalagi sepanjang tahun 2025, kinerja Bandara Lombok menunjukkan pemulihan signifikan.
Pergerakan penumpang dan pesawat telah melampaui 80% dibandingkan periode sebelum pandemi, sedangkan sektor kargo tumbuh lebih dari 130%, didorong e-commerce domestik, logistik event internasional, dan komoditas perikanan.
Dari sisi konektivitas, Bandara Lombok melayani 15 rute domestik dan rute internasional ke Singapura, serta Malaysia, dengan rencana pembukaan rute baru ke Darwin, Australia.
Penguatan slot penerbangan pada Summer 2026 semakin menegaskan peran Lombok sebagai penghubung Bali, NTB, Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga pasar global.
“Tidak hanya sebagai simpul transportasi, Bandara Lombok juga diposisikan sebagai face and pride of Indonesia,” katanya.
InJourney juga menyiapkan investasi landside dan airside senilai lebih dari Rp130 miliar untuk meningkatkan keamanan, kenyamanan, estetika terminal, serta menonjolkan identitas budaya NTB melalui konsep Dress Up NTB dan icon baru Mayung Lombok.
“Ke depan, kawasan bandara Lombok Selaparang Area akan dikembangkan sebagai pusat kreatif, sportainment, logistik dan UMKM guna membangun ekosistem bandara terpadu yang berkelanjutan, serta memberikan nilai tambah bagi masyarakat daerah,” ujarnya. B




