Transformasi Transportasi Umum Demi Kemandirian Energi Indonesia

Para pengemudi dan angkutan bus listrik Transjakarta. (dok. jakarta.go.id)
Bagikan

Sebesar 91,2% konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional di sektor transportasi, sebanyak 93% penyaluran BBM subsidi digunakan kendaraan pribadi.

Presiden Prabowo Subianto bakal menggencarkan sejumlah program elektrifikasi untuk mewujudkan swasembada energi. Beberapa di antaranya adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dan pembangunan pabrik kendaraan listrik.

Dengan sejumlah program tersebut, diharapkan Indonesia tidak lagi mengimpor bahan bakar minyak dalam dua hingga tiga tahun ke depan (Kompas, 9 April 2026).

Menghadapi krisis energi memerlukan langkah strategis yang tidak hanya bersifat reaktif (jangka pendek), tetapi juga transformatif (jangka panjang).

Pada tahun 2026, ketergantungan pada bahan bakar fosil bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan ancaman serius bagi stabilitas fiskal negara.

Berdasarkan data dari Handbook Statistik Energi dan Ekonomi Indonesia 2024 yang dirilis oleh Kementerian ESDM, konsumsi BBM di Indonesia selama satu dekade terakhir (2014 – 2024) menunjukkan tren yang fluktuatif.

Meski sempat terkontraksi ke angka 65.290 ribu kiloliter pada masa pandemi Covid-19 di tahun 2020, konsumsi segera bangkit dan terus meningkat secara bertahap dari tahun 2021.

Tahun 2021 (69.766 ribu kiloliter), tahun 2022 (77.793 ribu kiloliter), tahun 2023 (79.837 ribu kiloliter) hingga mencapai puncaknya di angka 82.319 ribu kiloliter pada 2024.

Sektor transportasi tetap menjadi pengguna BBM terbesar di Indonesia. Jika menilik satu dekade ke belakang, dominasi sektor ini kian menguat, pada tahun 2014, transportasi menyerap 79,5% dari total konsumsi (setara 56.235 ribu kiloliter).

Angka ini melonjak tajam dalam sepuluh tahun kemudian, tahun 2024 porsinya meningkat menjadi 91,2% atau mencapai 75.098 ribu kiloliter.

Dari porsi itu, transportasi darat 90%, transportasi perairan 6% dan transportasi udara 4%.

Data Kementerian ESDM (2012), BBM subsidi di sektor transportasi darat, sebanyak 93% digunakan kendaraan pribadi (mobil dan sepeda motor), sisanya 4% angkutan barang dan 3% transportasi umum. Sekarang, transportasi umum makin berkurang, bisa jadi kurang 3% BBM subsidi yang digunakannya.

Langkah Strategis

Oleh sebab itu perlu adanya langkah-langkah krusial yang perlu diambil pemerintah Indonesia.

Pertama, percepatan migrasi ke transportasi umum berbasis listrik. Langkah paling efektif untuk mengurangi konsumsi BBM nasional adalah dengan memindahkan pengguna kendaraan pribadi ke transportasi publik.

Melakukan elektrifikasi armada dengan mengganti armada transportasi publik di kota – kota besar lainnya dengan bus listrik secara masif. Di Kota Medan, semua armada Trans Metro Deli sudah menggunakan kendaraan listrik.

Berikutnya, integrasi antarmoda dengan memastikan konektivitas yang mulus antara KRL, MRT, LRT dan pengumpan (feeder) agar masyarakat tidak punya alasan untuk menggunakan kendaraan pribadi.

Kedua, format ulang subsidi energi yang tepat sasaran. Subsidi BBM seringkali dinikmati oleh kalangan menengah ke atas yang memiliki kendaraan pribadi.

Digitalisasi penyaluran menggunakan sistem verifikasi berbasis data (seperti aplikasi atau sensor plat nomor kendaraan) agar BBM bersubsidi benar – benar hanya dikonsumsi oleh angkutan umum dan logistik.

Selain itu, relokasi anggaran dengan mengalihkan sebagian anggaran subsidi BBM untuk membangun infrastruktur pengisian daya listrik (SPKLU), jalur sepeda dan perbaikan trotoar bagi pejalan kaki.

Ketiga, insentif kendaraan listrik (EV) dan Mikro-Mobilitas. Pemerintah perlu mendorong adopsi kendaraan listrik di level individu, terutama motor listrik yang populasi dan konsumsi energinya sangat besar di Indonesia.

Subsidi konversi dengan memberikan bantuan dana yang lebih besar bagi masyarakat yang ingin mengubah motor bensinnya menjadi motor listrik. Namun, harus melihat kondisi daerah, sehingga diperlukan pemetaan wilayah.

Tidak seluruh daerah diberikan, terutama di perkotaan yang sudah berlebihan populasi sepeda motor. Bisa diterapkan di pulau – pulau kecil yang cukup banyak jumlahnya dan daerah 3TP (Terdepan, Terluar, Tertinggal dan Perbatasan).

Selain itu, juga diberikan fasilitas jalur khusus dengan mendorong penggunaan sepeda listrik dan skuter sebagai solusi last-mile dengan membangun jalur yang aman dan nyaman. Kabupaten Asmat sejak 2007 menggunakan kendaraan listrik dan sudah ada regulasinya berupa peraturan daerah.

Keempat, optimalisasi logistik jalur rel. Krisis energi berdampak besar pada harga pangan, karena biaya distribusi menggunakan truk sangat bergantung pada harga solar.

Rel ganda (double track) mempercepat pembangunan rel ganda untuk angkutan barang agar beban logistik berpindah dari jalan raya ke kereta api yang jauh lebih efisien secara energi. Mengaktifkan jalur rel yang pernah beroperasi, baik di Pulau Jawa maupun di Pulau Sumatra.

Kelima, pengembangan bahan bakar nabati (biofuel). Memanfaatkan kekayaan alam Indonesia untuk mengurangi impor energi.

Peningkatan kadar campuran, melanjutkan pengembangan B40 atau B50 (biodiesel) dengan tetap menjaga keseimbangan antara ketahanan pangan dan energi (food vs fuel).

Anggaran Transportasi Umum

Sejak diluncurkan pada tahun 2020, program subsidi layanan transportasi darat kini telah beroperasi di 15 kota. Mengingat pentingnya layanan ini, diperlukan alokasi anggaran yang lebih besar serta pemberian stimulan atau DAK dari Ditjen Perhubungan Darat bagi daerah – daerah baru.

Saat ini, program telah hadir di berbagai wilayah seperti Medan (Trans Metro Deli), Palembang (Trans Musi Jaya), Bogor (Trans Pakuan), Bandung (Trans Metro Jabar), Depok (Trans Depok), Bekasi (Trans Patriot), dan Banyumas (Trans Banyumas).

Selain itu, Yogyakarta (Trans Jogja), Surakarta (Batik Solo Trans), Surabaya (Trans Semanggi Surabaya), Banjarmasin (Trans Banjarbakula), Bali (Trans Metro Dewata), Makassar (Trans Mamminasata), Balikpapan (Balikpapan City Trans) hingga Manado (Trans Manado).

Meskipun pemerintah menargetkan pembenahan angkutan umum di 20 kota dalam RPJMN 2025 – 2029, realisasinya kini diragukan. Hal ini dipicu oleh tren anggaran yang terjun bebas, setelah mencapai puncaknya di angka Rp582,98 miliar pada tahun 2023.

Alokasinya menyusut drastis hingga hanya direncanakan sebesar Rp82,6 miliar pada 2026. Sejauh ini, baru satu kota yang berhasil direalisasikan, yaitu Manado (Trans Manado) pada tahun 2025.

Pengembangan Produksi Nasional

Pengembangan bus listrik nasional yang diinisiasi oleh PT Inka melalui kolaborasi empat perguruan tinggi (UGM, ITS, Universitas Airlangga dan ISI Denpasar), serta industri karoseri lokal Piala Mas telah membuktikan kemampuannya sejak pertemuan G20 Bali 2022.

Saat ini, armada tersebut telah dioperasikan sebagai transportasi publik di Bandung, Surabaya dan kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Mengingat potensinya, pemerintah perlu memberikan dukungan strategis untuk memastikan pengembangan bus listrik produksi PT INKA ini terus berlanjut dan mampu memenuhi kebutuhan transportasi hijau di Indonesia.

Melalui integrasi kebijakan yang komprehensif, mulai dari reformasi subsidi, dukungan terhadap produksi bus listrik nasional, hingga optimalisasi logistik jalur rel, Indonesia memiliki peluang besar untuk keluar dari krisis energi.

Langkah strategis ini bukan sekadar upaya menjaga lingkungan, melainkan investasi jangka panjang demi stabilitas fiskal dan kesejahteraan masyarakat yang lebih berkelanjutan. (Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegjapranata dan Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)

 

Komentar

Bagikan