Perubahan iklim menjadi pemicu meningkatnya frekuensi bencana alam dalam beberapa tahun terkahir, termasuk bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada penghujung tahun 2025 di Pulau Sumatra.
“Bencana alam yang terjadi akhir tahun lalu di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat disebabkan iklim dunia yang terus memanas serta adanya siklon tropis di sekitar Sumatra,” jelas Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Ardhasena Sopaheluwakan.
Penegasan ini disampaikan saat menjadi pembicara pada Diskusi Ilmiah bertajuk Dialektika Sawit Indonesia: Perubahan Iklim Global Sebagai Pemicu Bencana di Sumatra di Kampus USU (Universitas Sumatra Utara) Medan.
Dalam paparannya, Ardhasena menambahkan, ada 10 badai tropis yang awal tumbuhnya di Laut Banda dan jika diperluas sedikit ke arah selatan, ada lebih dari 30 siklon tropis yang tercatat tumbuh di sana. “Wilayah ini sering menjadi titik awal bibit siklon.”
Perubahan iklim yang ditandai cuaca ekstrem, katanya, juga mendorong terjadinya curah hujan ekstrem di Sumatra pada November dan Desember 2024.
Curah hujan yang ekstrem antara lain disebabkan terjadinya pusaran badai, konvergensi yang membentuk awan secara masif pada wilayah pertemuan angin dan konveksi (mekanisme perpindahan panas) akibat pemanasan permukaan air laut yang membentuk awan secara masif.
“Hingga Juni tahun ini akan terjadi curah hujan yang tinggi di kawasan Selatan khatulistiwa. Kondisi tersebut, perlu diantisipasi dengan langkah-langkah yang tepat,” tutur Ardhasena yang juga Ketua Umum Asosiasi Ahli Atmosfer Indonesia (A3I).
Dari data satelit BMKG, siklon tropis Senyar pada November 2025, membuat curah hujan sangat tinggi di Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.
Lima lokasi dengan curah hujan tertinggi, yaitu Singkil Utara (Aceh) dengan curah hujan 225.0 mm dan empat wilayah di Sumbar, yakni Limau Purut 182.0 mm, Ulakan Tapakis 177.0 mm, Staklim Padang Pariaman 167.5 mm, dan Tambang Semen Padang 145.0 mm.
“Tiga wilayah di Kabupaten Langkat Sumatra Utara, yaitu Gebang, Cempa dan Secanggang juga mencatat curah hujan yang sangat tinggi pada akhir November tahun lalu,” katanya.
Menurut Ardhasen, normal curah hujan adalah 474 mm, tapi curah hujan pada November 2025 mencapai 1356 mm dan curah hujan saat terjadi bencana adalah tiga kali dari curah hujan pada November 2025.
“Perubahan iklim adalah perubahan signifikan dalam pola cuaca global atau regional yang terjadi dalam jangka waktu panjang, biasanya puluhan tahun hingga berabad – abad dan tahun 2025 adalah tahun terpanas ketiga dalam pencatatan suhu bumi,” ungkapnya.
Curah hujan maksimum harian, di masa depan semakin meningkat dan kejadian ekstrem makin sering terjadi.
Curah hujan lebih dari 250 mm yang memiliki periode ulang 100 tahun pada periode saat ini, pada masa depan menjadi semakin sering karena memiliki periode ulang yang lebih pendek menjadi di bawah 20 puluh tahun saja.
“Jadi, perubahan iklim global di mana suhu bumi semakin memanas, adalah penyebab utama terjadi bencana, seperti hujan ekstrem sehingga memicu tanah longsor,” tutur Ardhasena. B




