Pertamina Pastikan Dua Kapal dan Awaknya Aman saat Terjebak di Selat Hormuz

Bagikan

PT Pertamina (Persero) menyampaikan kabar terkini kondisi dua kapal tanker milik anak usahanya, PT Pertamina International Shipping yang terjebak di selat Hormuz dan memastikan kapal dan para awaknya berada dalam kondisi aman.

Hal ini disampaikan oleh Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron.

Sebelumnya, Selat Hormuz ditutup oleh Iran usai negaranya diserang Amerika Serikat (AS) dan Israel. Kapal yang memaksa melintas terancam ditembak.

“Sampai dengan saat ini kondisi masih aman. Kami berkoordinasi dan berterima kasih kepada seluruh stakeholder, baik dari Kementerian Luar Negeri maupun pihak-pihak terkait yang bisa menyampaikan atau mengamankan aset kami dan para awak yang berada di sana,” kata Baron di kantor pusat Pertamina, Jakarta.

Menurutnya, Kapal Pertamina yang berada di sekitar kawasan Selat Hormuz sebenarnya berjumlah empat, tapi dua kapal tanker lainnya sudah berada di luar selat tersebut.

Baron menyatakan bahwa pihaknya terus terus memantau perkembangan situasi yang terjadi.

Pertamina juga berkomitmen memastikan keselamatan awak kapal, sekaligus menjaga aset mereka yang terjebak di Selat Hormuz.

“Memang benar ada dua kapal Pertamina yang masih berada di sana. Jadi ada empat tapi yang dua berada di luar Selat Hormuz dan saat ini kami terus memantau dan memastikan yang pertama adalah keselamatan dari para kawak kapal, kemudian juga terkait dengan aset kapal yang berada di sana,” jelas Baron.

Selat Hormuz merupakan jalur ekspor minyak terpenting di dunia, yang menghubungkan produsen minyak Teluk terbesar, seperti Arab Saudi, Iran, Irak, dan Uni Emirat Arab, dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Kini jalur tersebut ditutup otoritas Iran di tengah perang yang terjadi dengan AS dan Israel.

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan, saat ini pemerintah menempuh jalur diplomasi agar kedua kapal tersebut bisa keluar dari selat Hormuz.

“Kita lagi upaya diplomasi agar ada cara yang lebih baik untuk mereka bisa dikeluarkan,” tegasnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta.

Bahlil menambahkan, kemungkinan terburuk jika kapal tersebut tak bisa keluar dan bisa mengganggu pasokan minyak Indonesia.

Menurutnya, pemerintah sudah menyiapkan alternatif lainnya dengan mencari pasokan dari luar Selat Hormuz.

“Andaikan pun itu tidak dikeluarkan, kita sudah cari alternatif untuk mencari sumber crude dari yang lain dan sudah dapat. Sudah dapat. Kita sudah dapat. Jadi saya pikir itu tidak menjadi sesuatu yang itu problem, tapi bukan sesuatu itu masalah yang sangat penting,” tutur Bahlil. B

 

Komentar

Bagikan