Pemerintah Mampu Berikan Subsidi Energi Rp502 Triliun

Presiden Joko Widodo dalam Sidang Tahunan MPR di Kompleks DPR-MPR, Jakarta, Selasa (16/8/2022). (dok. youtubesekretariatpresiden)
Bagikan

Pemerintah masih bisa memberikan subsidi energi sebesar Rp502 triliun pada tahun 2022, karena Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 tercatat surplus hingga Semester I/2022.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, sampai pertengahan tahun 2022 ini, APBN juga surplus Rp106 triliun.

Oleh karena itu, lanjutnya, pemerintah mampu memberikan subsidi BBM, subsidi elpiji, dan subsidi listrik (subdidi energi) sebesar Rp502 triliun di tahun 2022.

“Anggaran besar untuk subsidi energi diberikan pemerintah agar harga energi di dalam negeri tetap terjangkau masyarakat di tengah kenaikan harga energi global,” ujar Presiden Jokowi dalam Sidang Tahunan MPR di Kompleks DPR-MPR, Jakarta, Selasa (16/8/2022).

Baca juga :   Kemenhub Perkuat Armada di Wilayah Timur Indonesia

Menurut presiden, subsidi energi Rp502 triliun diberikan agar harga BBM di masyarakat tidak melambung tinggi.

Jokowi mengklaim upaya pemerintah menjaga harga energi dalam negeri tersebut mampu menekan inflasi di kisaran 4,9%.

“Angka ini jauh di bawah rata-rata inflasi ASEAN yang berada di sekitar 7% dan jauh di bawah inflasi negara-negara maju yang berada di sekitar 9%,” jelasnya.

Selain itu, Presiden Jokowi juga menyebutkan ekonomi Indonesia tumbuh di angka 5,44% pada kuartal II/2022.

Sementara itu, neraca perdagangan juga mencatatkan surplus selama 27 bulan berturut-turut. Jokowi bahkan menyebut neraca perdagangan surplus Rp364 triliun pada semester I/2022.

“Capaian tersebut patut kita syukuri. Fundamental ekonomi Indonesia tetap sangat baik di tengah ekonomi dunia yang sedang bergolak,” tuturnya.

Baca juga :   Grand Mercure Malang Mirama Partisipasi Dalam Gerakan Nasional Laut Bersih Tahun 2022

Namun demikian, Jokowi menambahkan, Indonesia tetap harus waspada dan hati-hati lantaran saat ini seluruh dunia tengah menghadapi krisis yang diperkirakan menyebabkan 553 juta jiwa terancam masuk dalam kemiskinan ekstrem dan 345 juta jiwa terancam kekurangan pangan dan kelaparan.

“Ujian ini tidak mudah bagi dunia dan juga tidak mudah bagi Indonesia. Semua ini harus kita hadapi dengan kehati-hatian, dengan kewaspadaan,” ungkapnya. B

Komentar

Bagikan