
Sektor pariwisata Indonesia hingga Juli 2026 mencatatkan pertumbuhan positif dan daya tahan yang kuat di berbagai indikator utama pariwisata nasional yang tercermin dari peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara, perjalanan wisatawan nusantara hingga tingkat okupansi hotel.
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana yang didampingi Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa mengatakan, berbagai capaian hingga saat ini memberikan alasan bagi kita untuk tetap optimistis di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian dan juga tantangan di dalam negeri sendiri.
“Capaian ini tentu patut kita syukuri. Namun pada saat yang sama, situasi global masih sangat dinamis. Karena itu, Kementerian Pariwisata terus melakukan mitigasi, memperkuat strategi pasar, dan memastikan agar momentum pertumbuhan ini dapat terus dijaga hingga akhir tahun,” kata Menpar saat menyampaikan Laporan Bulanan Kinerja Kemenpar di Gedung Sapta Pesona, Jakarta.
Pertumbuhan positif ini mempertegas peran pariwisata dalam memberikan manfaat serta berkontribusi dalam menggerakkan perekonomian di berbagai daerah dan membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai 8,98 juta kunjungan atau tumbuh 5,23% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dari jumlah tersebut, kunjungan wisatawan dari kawasan Asia lainnya tumbuh 8,69%, Asia Tenggara 7,32% dan Oseania 7,26%.
Seiring dengan membaiknya situasi di Timur Tengah, kunjungan wisatawan dari kawasan tersebut juga kembali mencatat pertumbuhan positif.
Sementara itu, pasar Eropa, meskipun masih mengalami kontraksi, juga mulai menunjukkan perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Hal ini menunjukkan bahwa strategi diversifikasi pasar yang dilakukan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) bersama berbagai pemangku kepentingan berjalan secara efektif.
Menpar menambahkan, pertumbuhan pariwisata memberikan dampak berganda terhadap perekonomian nasional.
Pada Semester I/2026, devisa pariwisata berhasil menembus US$8,43 miliar atau setara dengan Rp145,13 triliun.
Angka ini tumbuh 2,88% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar US$8,20 miliar atau setara dengan Rp134,68 triliun.
Capaian ini melanjutkan tren positif devisa pariwisata Indonesia. Pada Triwulan II/2026, devisa pariwisata mencapai US$4,39 miliar atau setara dengan Rp76,99 triliun. Relatif stabil dibandingkan Triwulan II/2025.
“Artinya, di tengah dinamika geopolotik, ketidakpastian dan perlambatan ekonomi global, pariwisata Indonesia tetap menunjukkan ketahanan,” ungkap Menpar.
Dia menjelaskan, setiap transaksi wisatawan, mulai dari akomodasi, kuliner, hingga belanja produk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) turut menggerakkan roda ekonomi lokal.
Menurutnya, devisa yang masuk kemudian menggerakkan rantai ekonomi hingga ke masyarakat, sehingga pertumbuhan devisa semakin menguatkan arah pembangunan pariwisata berkualitas.
“Bagi kami, angka ini penting. Karena pariwisata bukan hanya tentang berapa banyak wisatawan yang datang, tetapi seberapa besar nilai ekonomi yang mereka tinggalkan di Indonesia dan seberapa luas manfaatnya dirasakan masyarakat,” kata Menpar.
Dia juga menyampaikan perhitungan Tourism Satellite Account yang disusun Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan kontribusi langsung pariwisata terhadap Produk Domestik PDB pada tahun 2025 mencapai 4,78% atau sekitar Rp1,139 triliun, meningkat dari Rp1,057 triliun di tahun 2024.
Pertumbuhan tersebut ditopang dari mobilitas wisatawan nusantara yang tetap tinggi, peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara, membaiknya konektivitas dan semakin banyaknya penyelenggaraan event nasional dan internasional.
“Angka ini mencerminkan nilai ekonomi yang tercipta dari aktivitas wisata yang menggerakan usaha, membuka peluang kerja dan memperluas manfaat bagi masyarakat di berbagai daerah,” tutur Menpar.
Sementara itu, Wamenpar Ni Luh Puspa menambahkan pertumbuhan utama sektor pariwisata salah satunya juga ditopang oleh perjalanan wisatawan nusantara.
Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga Juli 2026, tercatat 737,85 juta perjalanan wisatawan nusantara, tumbuh 3,34% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, jumlah perjalanan masyarakat Indonesia ke luar negeri secara kumulatif periode Januari hingga Juli 2026 mencapai 5,26 juta perjalanan, turun 3,25% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang menunjukkan bahwa Indonesia surplus mencapai 3,71 juta.
Peningkatan aktivitas sektor pariwisata juga tercermin dari kinerja industri akomodasi, pada periode Januari hingga Juli 2026, tingkat okupansi hotel berada pada 49,13% atau meningkat 2,36% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan ini menjadi indikasi semakin stabilnya industri perhotelan setelah pada tahun 2025 sempat mengalami penurunan selama beberapa bulan.
“Hal ini penting, karena pertumbuhan pariwisata tidak cukup hanya diukur dari jumlah orang yang melakukan perjalanan. Yang ingin kita dorong adalah bagaimana perjalanan tersebut menghasilkan lama tinggal, belanja wisatawan, aktivitas usaha dan manfaat ekonomi di destinasi,” ungkap Wamenpar.
Selain menjaga kinerja sektor pariwisata, Kemenpar juga terlibat aktif dalam berbagai program lainnya. Pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Indonesia, Kempar menghadirkan aktivasi digital Pesona Panjat Pinang melalui semangat Merdeka Berwisata #DiIndonesiaAja.
Kempar juga berpartisipasi dalam Pesta Rakyat yang diperkirakan dipadati 600.000 pengunjung dengan tambahan output nasional sebesar Rp748,25 miliar.
Selain itu, Kemenpar turut memeriahkan Karnaval Kemerdekaan di kawasan Monas dengan mengusung tema Rumah Gadang yang merepresentasikan pariwisata Sumatra Barat, Puteri Indonesia sebagai duta pariwisata.
Program lainnya yang terus didukung oleh Kementerian Pariwisata adalah S’RASA (Rasa Rempah Indonesia).
Program kolaborasi enam kementerian dan lembaga ini hadir untuk memperkuat ekspor rempah, sekaligus meningkatkan citra Indonesia di dunia melalui gastrodiplomasi.
Sepanjang satu tahun pelaksanaannya, melalui business matching pada Trade Expo Indonesia telah menghasilkan kesepakatan pembukaan restoran Indonesia di Australia, Belanda, Italia dan Malaysia.
Kemenpar juga terus memperkuat ekosistem restoran Indonesia di luar negeri melalui fasilitasi akses pembiayaan dan peningkatan kapasitas pelaku usaha.
Pertumbuhan kepariwisataan Indonesia harus beriringan dengan aspek kualitas dan keselamatan.
Oleh karena itu, Kemenpar terus memperkuat Program Peningkatan Keselamatan Berwisata melalui Pelatihan Peningkatan Keselamatan Wisata Bahari sebagai bagian dari tugas pembantuan bersama pemerintah daerah.
Penguatan kapasitas ini dilakukan di delapan provinsi, melibatkan pengelola destinasi, kelompok sadar wisatawa, pemandu wisata, pelaku usaha pariwisata, masyarakat pesisir, dan berbagai pemangku kepentingan.
Pelatihan mencakup identifikasi potensi bahaya, pemanfaatan informasi cuaca, prosedur tanggap darurat, teknik penyelamatan dasar hingga simulasi kondisi darurat.
“Bagi kami, keselamatan bukan sekadar pelengkap. Keselamatan adalah fondasi dari pariwisata yang berkualitas,” kata Wamenpar.
Kemenpar juga mulai mempersiapkan Karisma Event Nusantara (KEN) 2027, dengan target dukungan kembali terhadap 125 event.
Sosialisasi kurasi KEN 2027 telah dilaksanakan sejak Agustus, sehingga pemerintah daerah memiliki waktu yang cukup untuk menyiapkan event – event terbaiknya.
“Event bukan sekadar menghadirkan keramaian, tetapi mampu memperkuat identitas destinasi, menarik kunjungan wisatawan, melibatkan UMKM dan pekerja seni, serta menghasilkan dampak ekonomi bagi masyarakat,” tuturnya.
Selain event daerah, Kemenpar juga terus mendukung penyelenggaraan event internasional berkualitas.
Salah satunya adalah konser Andrea Bocelli: Romanza 30th Anniversary World Tour, yang berlangsung pada 31 Oktober 2026 di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah dan 3 November 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Konser di Borobudur dan Jakarta diperkirakan berpotensi menghasilkan dampak ekonomi sekitar US$44 juta atau setara Rp 792 miliar. “Ini menjadi kesempatan baik untuk memperkenalkan destinasi Indonesia kepada audiens internasional.”
Program unggulan lainnya adalah Desa Wisata yang sampai dengan 1 September 2026 Indonesia telah memiliki 6.400 desa wisata.
Pengembangan desa wisata penting, karena membawa pertumbuhan pariwisata langsung ke tingkat masyarakat.
Pada Agustus, Kempar bersama Bank Indonesia menyelenggarakan Bootcamp Peningkatan Kapasitas Desa Wisata Unggulan Ramah Muslim, yang diikuti 25 desa wisata dari lima provinsi.
Kemenpar juga mendukung Karya Kreatif Indonesia 2026, yang menghadirkan enam desa wisata unggulan dengan tema Area Jelajah Pesona Nusantara yang membuka akses pemesanan paket wisata.
Pertumbuhan sektor pariwisata juga dilakukan melalui penguatan promosi pariwisata Indonesia, baik untuk pasar domestik maupun internasional.
Sepanjang Agustus 2026, kegiatan promosi dilakukan melalui pameran wisata, sales mission dan business networking, seperti Sales Mission Autralia, BBWI Travel Fair Merdeka Berwisata, Sales Mission Edutrip School Gathering hingga Luxury Business Networking.
Rangkaian kegiatan tersebut menghasilkan potensi perjalanan sebanyak 16,877 orang.
Strategi promosinya juga dilakukan sesuai dengan segmentasi pasar, mulai dari wisata edukasi, marine tourism, wellness, gastronomi, pasar domestik hingga wisatawan premium.
Dengan cara ini, promosi tidak hanya bertujuan membangun awareness tentang Indonesia, tetapi semakin diarahkan untuk menghasilkan perjalanan dan transaksi nyata bagi industri pariwisata.
Di tengah pertumbuhan yang terus dijaga, sektor pariwisata Indonesia menghadapi sejumlah tantangan dalam negeri, yakni bencana alam yang berdampak terhadap destinasi dan juga masyarakat.
“Oleh karena itu, keselamatan wisawatan, kejelasan informasi dan percepatan pemulihan destinasi menjadi prioritas kami,” ujar Wamenpar.
Salah satunya kebakaran hutan yang terjadi di kawasan Bromo – Tengger – Semeru yang menyebabkan penutupan aktivitas wisata.
Kemenpar terus berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan sebagai pengelola kawasan, sekaligus memastikan wisatawan memperoleh informasi yang jelas terkait kondisi destinasi, termasuk mekanisme refund maupun rescheduling selama masa penutupan.
Setelah penanganan dilakukan, kawasan wisata Bromo telah kembali di buka.
“Bagi kami, pembukaan kembali destinasi harus selalu mempertimbangkan kesiapan kawasan dan keselamatan wisatawan. Ke depan, koordinasi lintas kementerian dan pengelola destinasi perlu terus diperkuat, termasuk mitigasi kebakaran dan pengelolaan risiko pada musim kering,” jelasnya.
Pengembangan, sekaligus penguatan ketahanan destinasi pariwisata prioritas juga menjadi perhatian Kemenpar, termasuk Labuan Bajo dan wilayah Flores.
Gempa bumi sebesar 7,7 magnitudo yang mengguncang wilayah memberikan dampak bagi sektor pariwisata.
Sejumlah destinasi sempat ditutup, sementara daya tarik wisata, akomodasi, aksesibilitas dan desa wisata mengalami kerusakan. Beberapa event juga harus ditunda maupun dibatalkan.
Kemenpar dipimpin oleh Menpar, melakukan koordinasi bersama pemerintah daerah, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo dan Flores, asosiasi, serta pelaku industri untuk memastikan langkah pemulihan berjalan terarah.
Dalam pertemuan tersebut, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melaporkan bahwa aktivitas pariwisata di Labuan Bako telah berjalan dan dapat menerima kunjungan wisatawan secara normal. Arus kunjungan wisatawan relatif terjaga pascagempa.
Taman Nasional Komodo dan Pulau Padar juga telah kembali di buka setelah sempat mengalami penutupan sementara pada periode tertentu untuk kepentingan keselamatan wisatawan.
Sejumlah atraksi wisata darat juga tetap beroperasi. Tentunya keselamatan wisatawan tetap terjaga tanpa menimbulkan persepsi bahwa seluruh Flores terdampak dengan tingkat yang sama.
Selain itu, peristiwa kebakaran melanda Desa Adat Ende, di Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Menpar bergegas meninjau lokasi kejadian dan melakukan rapat koordinasi dengan pemangku kepentingan untuk menyusun langkah janga pendek dan jangka panjang.
Berdasarkan data pada 27 Agustus 2026, sebanyak 75 hunian rusak total, 20 hunian lain terdampak di luar Dusun Sade dan 11 tempat pertemuan dan berbagai fasilitas pendukung mengalami kerugian yang diperkirakan mencapai Rp33,84 miliar.
Mengenai jangka pendek, Kemenpar memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi melalui dukungan makanan dan logistik, dapur umum, trauma healing, bimbingan teknis, serta pemberdayaan pokdarwis.
Sementara itu, untuk jangka panjang, Kemenpar mendorong rencana aksi lintas kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, mitra, serta masyarakat adat dalam menyusun Master Plan Rekonstruksi Desa Adat Sade, pengumpulan dukungan rekonstruksi melalui satu pintu dan pembangunan rumah layak tinggal.
“Yang sangat penting, proses pembangunan kembali Sade harus dilakukan bersama masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk tetap mempertahankan karakter serta identitas budaya Suku Sasak,” ungkap Menpar.
Dalam koordinasi tersebut, dia bersama dengan pemangku kepentingan juga membahas pengembangan Lombok – Gili Tramena dengan arah pembangunan pariwisata yang semakin berkualitas dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Kemudian, di Lampung, Banten, Jakarta, dan Jawa Barat, dihadapkan pada bencana vulkanologi, yakni erupsi gunung Anak Krakatau yang berdampak terhadap pembatalan 4.132 penerbangan dan 450.000 penumpang.
Dalam hal ini, Menpar telah mengimbau kepada Online Travel Agent (OTA) dan Biro Perjalanan untuk memberlakukan keadaan force majeur, sehingga semua biaya tiket dapat dikembalikan 100% dan mempermudah proses reschedule tanpa tambahan biaya apapun.
“Bencana dan musibah yang terjadi ini, mengingatkan kita bahwa, ketahanan harus menjadi bagian dari pembangunan pariwisata Indonesia. Bagi kami, prinsipnya jelas melindungi manusia terlebih dahulu, mempercepat pemulihan destinasi dan mata pencaharian masyarakat, menjaga kepercayaan wisatawan, serta membangun kembali dengan lebih aman dan tangguh,” jelas Menpar.
Dia menyampaikan sederet capaian ini perlu dijaga dengan kerja keras dan kolaborasi, karena perjalanan tahun 2026 masih berlanjut.
“Kita harus menjaga pertumbuhan wisatawan, memperkuat daya saing destinasi, meningkatkan keselamatan dan paling penting memastikan pertumbuhan pariwisata memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Menpar. B
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana yang didampingi Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa mengatakan, berbagai capaian hingga saat ini memberikan alasan bagi kita untuk tetap optimistis di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian dan juga tantangan di dalam negeri sendiri.
“Capaian ini tentu patut kita syukuri. Namun pada saat yang sama, situasi global masih sangat dinamis. Karena itu, Kementerian Pariwisata terus melakukan mitigasi, memperkuat strategi pasar, dan memastikan agar momentum pertumbuhan ini dapat terus dijaga hingga akhir tahun,” kata Menpar saat menyampaikan Laporan Bulanan Kinerja Kemenpar di Gedung Sapta Pesona, Jakarta.
Pertumbuhan positif ini mempertegas peran pariwisata dalam memberikan manfaat serta berkontribusi dalam menggerakkan perekonomian di berbagai daerah dan membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai 8,98 juta kunjungan atau tumbuh 5,23% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dari jumlah tersebut, kunjungan wisatawan dari kawasan Asia lainnya tumbuh 8,69%, Asia Tenggara 7,32% dan Oseania 7,26%.
Seiring dengan membaiknya situasi di Timur Tengah, kunjungan wisatawan dari kawasan tersebut juga kembali mencatat pertumbuhan positif.
Sementara itu, pasar Eropa, meskipun masih mengalami kontraksi, juga mulai menunjukkan perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Hal ini menunjukkan bahwa strategi diversifikasi pasar yang dilakukan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) bersama berbagai pemangku kepentingan berjalan secara efektif.
Menpar menambahkan, pertumbuhan pariwisata memberikan dampak berganda terhadap perekonomian nasional.
Pada Semester I/2026, devisa pariwisata berhasil menembus US$8,43 miliar atau setara dengan Rp145,13 triliun.
Angka ini tumbuh 2,88% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar US$8,20 miliar atau setara dengan Rp134,68 triliun.
Capaian ini melanjutkan tren positif devisa pariwisata Indonesia. Pada Triwulan II/2026, devisa pariwisata mencapai US$4,39 miliar atau setara dengan Rp76,99 triliun. Relatif stabil dibandingkan Triwulan II/2025.
“Artinya, di tengah dinamika geopolotik, ketidakpastian dan perlambatan ekonomi global, pariwisata Indonesia tetap menunjukkan ketahanan,” ungkap Menpar.
Dia menjelaskan, setiap transaksi wisatawan, mulai dari akomodasi, kuliner, hingga belanja produk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) turut menggerakkan roda ekonomi lokal.
Menurutnya, devisa yang masuk kemudian menggerakkan rantai ekonomi hingga ke masyarakat, sehingga pertumbuhan devisa semakin menguatkan arah pembangunan pariwisata berkualitas.
“Bagi kami, angka ini penting. Karena pariwisata bukan hanya tentang berapa banyak wisatawan yang datang, tetapi seberapa besar nilai ekonomi yang mereka tinggalkan di Indonesia dan seberapa luas manfaatnya dirasakan masyarakat,” kata Menpar.
Dia juga menyampaikan perhitungan Tourism Satellite Account yang disusun Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan kontribusi langsung pariwisata terhadap Produk Domestik PDB pada tahun 2025 mencapai 4,78% atau sekitar Rp1,139 triliun, meningkat dari Rp1,057 triliun di tahun 2024.
Pertumbuhan tersebut ditopang dari mobilitas wisatawan nusantara yang tetap tinggi, peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara, membaiknya konektivitas dan semakin banyaknya penyelenggaraan event nasional dan internasional.
“Angka ini mencerminkan nilai ekonomi yang tercipta dari aktivitas wisata yang menggerakan usaha, membuka peluang kerja dan memperluas manfaat bagi masyarakat di berbagai daerah,” tutur Menpar.
Sementara itu, Wamenpar Ni Luh Puspa menambahkan pertumbuhan utama sektor pariwisata salah satunya juga ditopang oleh perjalanan wisatawan nusantara.
Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga Juli 2026, tercatat 737,85 juta perjalanan wisatawan nusantara, tumbuh 3,34% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, jumlah perjalanan masyarakat Indonesia ke luar negeri secara kumulatif periode Januari hingga Juli 2026 mencapai 5,26 juta perjalanan, turun 3,25% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang menunjukkan bahwa Indonesia surplus mencapai 3,71 juta.
Peningkatan aktivitas sektor pariwisata juga tercermin dari kinerja industri akomodasi, pada periode Januari hingga Juli 2026, tingkat okupansi hotel berada pada 49,13% atau meningkat 2,36% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan ini menjadi indikasi semakin stabilnya industri perhotelan setelah pada tahun 2025 sempat mengalami penurunan selama beberapa bulan.
“Hal ini penting, karena pertumbuhan pariwisata tidak cukup hanya diukur dari jumlah orang yang melakukan perjalanan. Yang ingin kita dorong adalah bagaimana perjalanan tersebut menghasilkan lama tinggal, belanja wisatawan, aktivitas usaha dan manfaat ekonomi di destinasi,” ungkap Wamenpar.
Selain menjaga kinerja sektor pariwisata, Kemenpar juga terlibat aktif dalam berbagai program lainnya. Pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Indonesia, Kempar menghadirkan aktivasi digital Pesona Panjat Pinang melalui semangat Merdeka Berwisata #DiIndonesiaAja.
Kempar juga berpartisipasi dalam Pesta Rakyat yang diperkirakan dipadati 600.000 pengunjung dengan tambahan output nasional sebesar Rp748,25 miliar.
Selain itu, Kemenpar turut memeriahkan Karnaval Kemerdekaan di kawasan Monas dengan mengusung tema Rumah Gadang yang merepresentasikan pariwisata Sumatra Barat, Puteri Indonesia sebagai duta pariwisata.
Program lainnya yang terus didukung oleh Kementerian Pariwisata adalah S’RASA (Rasa Rempah Indonesia).
Program kolaborasi enam kementerian dan lembaga ini hadir untuk memperkuat ekspor rempah, sekaligus meningkatkan citra Indonesia di dunia melalui gastrodiplomasi.
Sepanjang satu tahun pelaksanaannya, melalui business matching pada Trade Expo Indonesia telah menghasilkan kesepakatan pembukaan restoran Indonesia di Australia, Belanda, Italia dan Malaysia.
Kemenpar juga terus memperkuat ekosistem restoran Indonesia di luar negeri melalui fasilitasi akses pembiayaan dan peningkatan kapasitas pelaku usaha.
Pertumbuhan kepariwisataan Indonesia harus beriringan dengan aspek kualitas dan keselamatan.
Oleh karena itu, Kemenpar terus memperkuat Program Peningkatan Keselamatan Berwisata melalui Pelatihan Peningkatan Keselamatan Wisata Bahari sebagai bagian dari tugas pembantuan bersama pemerintah daerah.
Penguatan kapasitas ini dilakukan di delapan provinsi, melibatkan pengelola destinasi, kelompok sadar wisatawa, pemandu wisata, pelaku usaha pariwisata, masyarakat pesisir, dan berbagai pemangku kepentingan.
Pelatihan mencakup identifikasi potensi bahaya, pemanfaatan informasi cuaca, prosedur tanggap darurat, teknik penyelamatan dasar hingga simulasi kondisi darurat.
“Bagi kami, keselamatan bukan sekadar pelengkap. Keselamatan adalah fondasi dari pariwisata yang berkualitas,” kata Wamenpar.
Kemenpar juga mulai mempersiapkan Karisma Event Nusantara (KEN) 2027, dengan target dukungan kembali terhadap 125 event.
Sosialisasi kurasi KEN 2027 telah dilaksanakan sejak Agustus, sehingga pemerintah daerah memiliki waktu yang cukup untuk menyiapkan event – event terbaiknya.
“Event bukan sekadar menghadirkan keramaian, tetapi mampu memperkuat identitas destinasi, menarik kunjungan wisatawan, melibatkan UMKM dan pekerja seni, serta menghasilkan dampak ekonomi bagi masyarakat,” tuturnya.
Selain event daerah, Kemenpar juga terus mendukung penyelenggaraan event internasional berkualitas.
Salah satunya adalah konser Andrea Bocelli: Romanza 30th Anniversary World Tour, yang berlangsung pada 31 Oktober 2026 di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah dan 3 November 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Konser di Borobudur dan Jakarta diperkirakan berpotensi menghasilkan dampak ekonomi sekitar US$44 juta atau setara Rp 792 miliar. “Ini menjadi kesempatan baik untuk memperkenalkan destinasi Indonesia kepada audiens internasional.”
Program unggulan lainnya adalah Desa Wisata yang sampai dengan 1 September 2026 Indonesia telah memiliki 6.400 desa wisata.
Pengembangan desa wisata penting, karena membawa pertumbuhan pariwisata langsung ke tingkat masyarakat.
Pada Agustus, Kempar bersama Bank Indonesia menyelenggarakan Bootcamp Peningkatan Kapasitas Desa Wisata Unggulan Ramah Muslim, yang diikuti 25 desa wisata dari lima provinsi.
Kemenpar juga mendukung Karya Kreatif Indonesia 2026, yang menghadirkan enam desa wisata unggulan dengan tema Area Jelajah Pesona Nusantara yang membuka akses pemesanan paket wisata.
Pertumbuhan sektor pariwisata juga dilakukan melalui penguatan promosi pariwisata Indonesia, baik untuk pasar domestik maupun internasional.
Sepanjang Agustus 2026, kegiatan promosi dilakukan melalui pameran wisata, sales mission dan business networking, seperti Sales Mission Autralia, BBWI Travel Fair Merdeka Berwisata, Sales Mission Edutrip School Gathering hingga Luxury Business Networking.
Rangkaian kegiatan tersebut menghasilkan potensi perjalanan sebanyak 16,877 orang.
Strategi promosinya juga dilakukan sesuai dengan segmentasi pasar, mulai dari wisata edukasi, marine tourism, wellness, gastronomi, pasar domestik hingga wisatawan premium.
Dengan cara ini, promosi tidak hanya bertujuan membangun awareness tentang Indonesia, tetapi semakin diarahkan untuk menghasilkan perjalanan dan transaksi nyata bagi industri pariwisata.
Di tengah pertumbuhan yang terus dijaga, sektor pariwisata Indonesia menghadapi sejumlah tantangan dalam negeri, yakni bencana alam yang berdampak terhadap destinasi dan juga masyarakat.
“Oleh karena itu, keselamatan wisawatan, kejelasan informasi dan percepatan pemulihan destinasi menjadi prioritas kami,” ujar Wamenpar.
Salah satunya kebakaran hutan yang terjadi di kawasan Bromo – Tengger – Semeru yang menyebabkan penutupan aktivitas wisata.
Kemenpar terus berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan sebagai pengelola kawasan, sekaligus memastikan wisatawan memperoleh informasi yang jelas terkait kondisi destinasi, termasuk mekanisme refund maupun rescheduling selama masa penutupan.
Setelah penanganan dilakukan, kawasan wisata Bromo telah kembali di buka.
“Bagi kami, pembukaan kembali destinasi harus selalu mempertimbangkan kesiapan kawasan dan keselamatan wisatawan. Ke depan, koordinasi lintas kementerian dan pengelola destinasi perlu terus diperkuat, termasuk mitigasi kebakaran dan pengelolaan risiko pada musim kering,” jelasnya.
Pengembangan, sekaligus penguatan ketahanan destinasi pariwisata prioritas juga menjadi perhatian Kemenpar, termasuk Labuan Bajo dan wilayah Flores.
Gempa bumi sebesar 7,7 magnitudo yang mengguncang wilayah memberikan dampak bagi sektor pariwisata.
Sejumlah destinasi sempat ditutup, sementara daya tarik wisata, akomodasi, aksesibilitas dan desa wisata mengalami kerusakan. Beberapa event juga harus ditunda maupun dibatalkan.
Kemenpar dipimpin oleh Menpar, melakukan koordinasi bersama pemerintah daerah, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo dan Flores, asosiasi, serta pelaku industri untuk memastikan langkah pemulihan berjalan terarah.
Dalam pertemuan tersebut, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melaporkan bahwa aktivitas pariwisata di Labuan Bako telah berjalan dan dapat menerima kunjungan wisatawan secara normal. Arus kunjungan wisatawan relatif terjaga pascagempa.
Taman Nasional Komodo dan Pulau Padar juga telah kembali di buka setelah sempat mengalami penutupan sementara pada periode tertentu untuk kepentingan keselamatan wisatawan.
Sejumlah atraksi wisata darat juga tetap beroperasi. Tentunya keselamatan wisatawan tetap terjaga tanpa menimbulkan persepsi bahwa seluruh Flores terdampak dengan tingkat yang sama.
Selain itu, peristiwa kebakaran melanda Desa Adat Ende, di Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Menpar bergegas meninjau lokasi kejadian dan melakukan rapat koordinasi dengan pemangku kepentingan untuk menyusun langkah janga pendek dan jangka panjang.
Berdasarkan data pada 27 Agustus 2026, sebanyak 75 hunian rusak total, 20 hunian lain terdampak di luar Dusun Sade dan 11 tempat pertemuan dan berbagai fasilitas pendukung mengalami kerugian yang diperkirakan mencapai Rp33,84 miliar.
Mengenai jangka pendek, Kemenpar memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi melalui dukungan makanan dan logistik, dapur umum, trauma healing, bimbingan teknis, serta pemberdayaan pokdarwis.
Sementara itu, untuk jangka panjang, Kemenpar mendorong rencana aksi lintas kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, mitra, serta masyarakat adat dalam menyusun Master Plan Rekonstruksi Desa Adat Sade, pengumpulan dukungan rekonstruksi melalui satu pintu dan pembangunan rumah layak tinggal.
“Yang sangat penting, proses pembangunan kembali Sade harus dilakukan bersama masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk tetap mempertahankan karakter serta identitas budaya Suku Sasak,” ungkap Menpar.
Dalam koordinasi tersebut, dia bersama dengan pemangku kepentingan juga membahas pengembangan Lombok – Gili Tramena dengan arah pembangunan pariwisata yang semakin berkualitas dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Kemudian, di Lampung, Banten, Jakarta, dan Jawa Barat, dihadapkan pada bencana vulkanologi, yakni erupsi gunung Anak Krakatau yang berdampak terhadap pembatalan 4.132 penerbangan dan 450.000 penumpang.
Dalam hal ini, Menpar telah mengimbau kepada Online Travel Agent (OTA) dan Biro Perjalanan untuk memberlakukan keadaan force majeur, sehingga semua biaya tiket dapat dikembalikan 100% dan mempermudah proses reschedule tanpa tambahan biaya apapun.
“Bencana dan musibah yang terjadi ini, mengingatkan kita bahwa, ketahanan harus menjadi bagian dari pembangunan pariwisata Indonesia. Bagi kami, prinsipnya jelas melindungi manusia terlebih dahulu, mempercepat pemulihan destinasi dan mata pencaharian masyarakat, menjaga kepercayaan wisatawan, serta membangun kembali dengan lebih aman dan tangguh,” jelas Menpar.
Dia menyampaikan sederet capaian ini perlu dijaga dengan kerja keras dan kolaborasi, karena perjalanan tahun 2026 masih berlanjut.
“Kita harus menjaga pertumbuhan wisatawan, memperkuat daya saing destinasi, meningkatkan keselamatan dan paling penting memastikan pertumbuhan pariwisata memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Menpar. B



