Keuangan Garuda Indonesia dan Citilink Positif Kuartal I/2026

Pesawat maskapai penerbangan Citilink. (dok. majalahbandara)
Bagikan

Peluang kinerja keuangan grup PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) mencatatkan kinerja positif pada Kuartal I/2026.

Suntikan dana yang diberikan Daya Anagata Nusantara (Danantara) dan proses transformasi disebut menjadi faktor pendorongnya.

Menurut Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria, anak usaha GIAA, maskapai Citilink dipastikan mencatatkan kinerja positif pada Kuartal I/2026, termasuk dampak dari suntikan dana yang diberikan oleh Danantara.

“Intervensi yang kita lakukan itu baru dicairkan di akhir. Nanti akan terlihat performa di awal 2026. Kita akan keluarkan di Kuartal 1 dan Kuartal 2. Quarter 1, sebagai gambaran buat tema sekalian, Kuartal I itu Citilink itu udah positif,” jelasnya.

Dony menyatakan, suntikan modal dari Danantara ke Grup Garuda Indonesia bisa membantu perbaikan armada pesawat yang dimiliki, karena hal itu jadi salah satu penyebab operasional maskapai pelat merah belum maksimal.

“Kita mulai melakukan perbaikan dengan skala kajian dan lain – lain. Kemudian, baru cair itu akhir tahun 2025, tetapi proses perbaikan sudah kita lakukan dari pertengahan tahun. Makanya, dampaknya sudah terasa di 2026. Quarter I kita akan lihat,” ungkapnya.

Tidak hanya Citilink, Dony juga memperkirakan kinerja keuangan PT Garuda Indonesia Tbk. akan ikut mencatatkan positif.

“Citilink sudah positif, Garuda sekarang kita lagi lihat, Insyaallah akan positif juga. Ini Quarter 1, Quarter 2 dan Quarter 1 nanti,” tutur Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) ini.

Meskipun meyakini proses perbaikan sudah mulai terlihat di awal 2026, Dony mengatakan, proses memperbaiki tata kelola maskapai tidak mudah dan prosesnya tidak bisa selesai sekadar melalui suntikan modal dari pemegang saham.

“Nanti teman – teman lihat dan kritisi saya di 2026. Lihat, bandingkan. Performance setelah intervensi, betul enggak menjadi lebih baik. Nah, tetapi meskipun demikian, kita masih banyak PR yang terus kita lakukan,” ujarnya.

Dony menilai bahwa Danantara tidak cukup hanya dengan memberikan uang, termasuk jumlah pesawat yang tadinya grounded, sekarang yang sudah terbang ada catatannya, juga pendapatan yang bisa dibandingkan year-on-year.

Mengenai membengkaknya kerugian yang dialami PT Garuda Indonesia Tbk., dia menilai bahwa beban operasionalnya menjadi salah satu alasan.

GIAA mencatatkan kerugian sebesar US$319,39 juta atau setara Rp5,42 triliun (asumsi kurs Rp16.990) sepanjang tahun 2025.

Angka tersebut melonjak drastis dari US$69,77 juta atau Rp1,18 triliun di tahun 2024.

“Jadi, dulu memang mereka tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perbaikan pesawat mereka,” kata Dony.

Dia mencatat banyak armada dalam grup Garuda Indonesia yang tidak bisa digunakan, karena imbas kerusakan yang belum diperbaiki dan hal tersebut menjadi beban lagi bagi perusahaan.

“Bayangkan bahwa mereka punya pesawat, grounded semua dan leasing harus dibayar terus, tapi tidak mendapatkan penghasilan. Inilah yang menyebabkan kerugian tahun 2025 besar,” ungkapnya.

Dony menambahkan bahwa perbaikan armada pesawat milik Garuda Indonesia juga tidak mudah, mengingat adanya tantangan industri penerbangan global. B

 

Komentar

Bagikan