Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menargetkan peningkatan kapasitas penumpang Bandar Udara (Bandara) I Gusti Ngurah Rai, Bali, dari saat ini sekitar 24 juta penumpang menjadi 32 juta penumpang per tahun.
Menurut Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F. Laisa, peningkatan kapasitas tersebut akan dilakukan melalui revitalisasi bandara dan investasi besar yang telah direncanakan.
“Bali saat ini memang 24 juta penumpang. Tapi Bali sudah berpikir menjadi 32 juta, sudah direvitalisasi dan akan kita tingkatkan dengan investasi yang cukup besar,” jelasnya.
Lukman menambahkan, ke depan pemerintah juga tengah memikirkan cara untuk mengakomodasi penumpang hingga kapasitas 42 juta.
Bahkan, lanjutnya, berdasarkan proyeksi (forecast), Bali berpotensi melayani hingga 55 juta penumpang per tahun.
“Ini kenapa kita berpikir ada bandara yang lain atau runway kedua, karena itu untuk men-support yang sisanya 23 juta,” ungkapnya.
Dia membandingkan dengan Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, yang kapasitasnya meningkat signifikan setelah revitalisasi.
“Jakarta tadinya 56 juta, sudah 96 juta penumpang setelah revitalisasi,” tuturnya.
Dia menegaskan, Indonesia sebenarnya memiliki bandara – bandara besar yang mampu melayani pesawat berbadan lebar, seperti Airbus A380.
Namun, Lukman mengatakan, minat maskapai internasional masih terpusat di Jakarta dan Bali.
“Sudah kita buka semuanya, tapi yang sold tetap Jakarta dan Bali. Makanya suka atau tidak suka, dalam tiga sampai empat tahun ke depan Bali akan mencapai 32 juta penumpang,” jelasnya.
Dengan peningkatan jumlah penumpang dan pergerakan pesawat, Lukman menekankan pentingnya menjaga aspek keselamatan penerbangan di bandara.
“Ketika 32 juta, tentu dengan problematika banyaknya pesawat itu paling tidak harus tetap ditingkatkan safetynya di bandara,” ujarnya. B




