Injourney Perlu Seimbangkan Branding Holding dengan Nama Bandara

Instalasi Seni Nusantara Heritage di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. (dok. injourney) Baca artikel detiknews, "InJourney Airports Hadirkan Instalasi Seni di Terminal 3 Bandara Soetta
Bagikan

Dominasi branding InJourney di berbagai bandara internasional Indonesia kini menjadi sorotan, terutama terkait visibilitas nama asli bandara yang membawa nama besar pahlawan nasional.

InJourney sebagai holding Badan Usaha Milik negara (BUMN) sektor aviasi dan pariwisata pertama di Indonesia, memiliki enam ekosistem utama yang bertujuan memperkenalkan keragaman budaya Indonesia kepada dunia melalui layanan terpadu kelas dunia.

Transformasi fisik bandara di bawah pengelolaan Injourney menunjukkan perubahan positif dengan kehadiran berbagai artefak budaya, patung, dan area estetik yang memberikan pengalaman autentik bagi para penumpang pesawat.

Namun, muncul kritik mengenai proporsi visual branding holding yang dianggap terlalu mendominasi, seperti di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, identitas pahlawan proklamator dinilai mulai tertutup oleh desain logo InJourney.

Sebelumnya, Anggota DPR Putra Nababan mengkritik penggunaan nama InJourney yang dinilai terlalu berlebihan di berbagai sudut Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

Kritik tersebut disampaikan saat Rapat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR bersama InJourney dan Kementerian Pariwisata di kawasan Bandara Soekarno-Hatta.

Putra menilai masifnya branding InJourney Airports berpotensi mengaburkan identitas bandara yang menggunakan nama pahlawan nasional, seperti dikutip dari akun Instagram resmi miliknya @putranababan74.

Dia menyatakan, keprihatinannya saat tiba di bandara dan justru lebih banyak menemukan tulisan InJourney Airports dibandingkan nama Bandara Soekarno-Hatta.

Manajemen Injourney yang dipimpin Maya Watono diharapkan dapat menerapkan strategi brand architecture yang lebih proporsional, seperti yang dilakukan perusahaan besar layaknya Nestle atau Mayora terhadap produk – produknya.

Idealnya, nama bandara, seperti Yogyakarta International Airport atau Soekarno-Hatta tetap menjadi identitas utama yang ditampilkan secara gagah, sedangkan Injourney diposisikan sebagai brand pelindung atau pengelola.

Selain masalah identitas visual, kebijakan harga kuliner di area bandara juga menjadi perhatian karena dinilai terlalu tinggi dibandingkan dengan harga di luar bandara atau bandara internasional luar negeri.

Optimalisasi ekosistem retail melalui Sarinah seharusnya dapat menghadirkan harga kuliner yang lebih terjangkau bagi masyarakat luas, sehingga misi membawa keramahtamahan budaya Indonesia dapat dirasakan seluruh lapisan bangsa. B

 

 

Komentar

Bagikan