Indonesia Butuh 2.000 Insinyur Kembangkan Industri Dirgantara

Pesawat-pesawat produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI). (dok. indonesian-aerospace.com)

Industri dirgantara mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional guna mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) berupaya mengambil peran dengan menawarkan jasa perawatan (maintenance) dan menyemarakkan ekosistem komponen pesawat agar industri dirgantara dapat bersaing di mancanegara.

Sejauh ini, kata Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan, pihaknya sudah memiliki produk nyata, yaitu pesawat N-219.

“Ini menjadi langkah bagaimana kita bisa menjadi produsen pesawat penumpang yang memiliki kapasitas di bawah 100 orang,” ujarnya dalam Indonesia Development Forum 2022 yang diselenggarakan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) di Bali, baru-baru ini.

Dalam kegiatan tersebut, Bappenas meluncurkan peta jalan pengembangan ekosistem industri kedirgantaraan.

Selain itu, Gita menambahkan, PTDI melakukan penandatanganan nota kesepahaman bersama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) tentang pusat rancang dan bangun pesawat.

“Kita sangat berterima kasih dan mengapresiasi peta jalan pengembangan ekosistem industri kedirgantaraan yang disusun oleh Kementerian PPN untuk perkembangan industri dirgantara 2045,” jelasnya.

Baca juga :   Ditjen Hubud Pastikan Tiga Bandara Beroperasi Normal Pascaerupsi Gunung Semeru

Dalam kesempatan sama, Dekan Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB Tatacipta Dirgantara mengungkapkan, sebanyak 80% Sumber Daya Manusia (SDM) di industri ini diisi berbagai bidang keilmuan dan 20% membutuhkan insinyur dirgantara.

“Kita butuh 2.000 insinyur dirgantara untuk industri dirgantara di Indonesia, sedangkan kita saat ini di ITB hanya bisa mencetak 100 sampai dengan 125 insinyur dirgantara setiap tahun,” ungkapnya.

Menurut Tatacipta, bukan hal yang mudah dalam mencetak dirgantara karena banyak hal yang perlu dipersiapkan. “Mulai dari fasilitasnya, kemampuan riset, dan para pengajar, yaitu dosen.”

Namun, dia optimistis industri dirgantara tanah air dapat tumbuh pada waktunya, terutama diisi para generasi-generasi muda.

“Mungkin kemajuan industri ini tidak akan dinikmati oleh generasi saya, tapi akan dinikmati generasi yang lebih muda, kita generasi yang lebih tua hanya menyiapkan jalan,” jelas Tatacipta.

Baca juga :   Indonesia Sukses Capai Target 1,8 Juta Kunjungan Wisman di Awal September 2022

Sebagai informasi, PTDI telah mengirimkan 466 pesawat hingga helikopter ke pemesan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 120 unit di antaranya pesawat seri NC-212.

Ada beberapa operator dalam negeri yang menggunakan pesawat seri NC-212, yakni TNI Angkatan Udara (AU), Angkatan Darat (AD) dan Angkatan Laut (AL), Polri, serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Pesawat dioperasikan untuk memenuhi kebutuhan angkut sipil, militer dan Maritime Surveillance Aircraft (MSA), sedangkan untuk operator luar negeri, Thailand memanfaatkan NC-212 untuk angkutan militer dan modifikasi cuaca (rain making).

Sementara itu, Filipina dan Vietnam untuk pesawat angkutan militer. “Thailand merupakan customer kedua yang paling banyak membeli pesawat terbang produksi PTDI, karena dianggap sesuai dengan medan dan kebutuhan pertahanannya,” kata Direktur Keuangan Manajemen Risiko & SDM PTDI, Wildan Arief. B

 

Komentar