Delapan Bus Disiapkan Jadi Rumah Sakit Keliling di Kalteng

Ilustrasi bus Magen David Adom (MDA) yang dilengkapi dengan peralatan medis canggih, sehingga dapat berfungsi sebagai rumah sakit keliling. (dok. jpost)
Bagikan

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Pemprov Kalteng) menyiapkan 8 unit bus untuk dijadikan rumah sakit keliling yang ditargetkan mulai beroperasi paling lambat akhir tahun 2026.

Menurut Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah Agustan Saining, 8 unit bus tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Kehutanan yang akan dimodifikasi menjadi fasilitas layanan kesehatan bergerak.

“Ada delapan bus, semacam ambulan, tetapi bisa disiapkan menjadi rumah sakir keliling,” katanya di Palangka Raya, Selasa (24/2/2026).

Menurutnya, bus tersebut berbeda dari bus komersial, karena memiliki spesifikasi yang memungkinkan dilengkapi ruang tindakan medis.

“Di dalamnya bisa operasi gigi dan beberapa tindakan medis dari dokter spesialis, bisa berpraktik di situ,” ungkapnya.

Agustan menuturkan, rumah sakit keliling ini dirancang untuk menjangkau wilayah yang jauh dari akses rumah sakit, minimal hingga tingkat kecamatan.

“Bus rumah sakit itu bisa menjangkau minimal di kota kecamatan, wilayah-wilayah kecamatan, itu terjangkau, sehingga yang tinggal di desa cukup ke kecamatan untuk mengakses layanan kesehatan,” tuturnya.

Dia menargetkan seluruh unit dapat mulai beroperasi paling lambat akhir tahun 2026. “Target realisasinya 2026 ini, tahun ini lagi diproses, mungkin pertengahan tahun, atau akhir tahun paling lambat.”

Menurut Agustan, pengadaan bus tersebut bersumber dari Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi (DBH-DR) sektor kehutanan tahun 2026. “Bersumber dari DBH DR untuk tahun 2026.”

Sebelumnya, Pemprov Kalteng menerima 8 unit bus dari Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni melalui skema DBH-DR tahun 2025.

Gubernur Kalteng Agustiar Sabran mengatakan, bus tersebut akan dimanfaatkan untuk memperkuat layanan rumah sakit provinsi.

“Kami dapat delapan bus, kami siapkan jadi rumah sakit keliling, untuk mem-back up rumah sakit provinsi yang ada di sini,” ujarnya.

Dia menambahkan, konsep rumah sakit keliling itu akan beroperasi secara mobile untuk menjawab kebutuhan layanan kesehatan masyarakat di wilayah pedalaman.

“Supaya nanti layanan kesehatan kita juga bisa sampai jemput bola ke wilayah pedalaman, berputar – putar, sehingga orang tidak harus ke rumah sakit untuk berobat,” ungkapnya.

Menurut Agustiar, fasilitas di dalam bus akan dilengkapi dokter spesialis dan mampu melayani tindakan medis sederhana.

“Bisa operasi kecil – kecilan di situ, lalu kami sediakan juga dokter spesialis di situ, ini supaya mempermudah akses masyarakat terhadap kesehatan, tidak harus menuju ke rumah sakit yang jauh,” ujarnya. B

 

Komentar

Bagikan