Ade Yasin Bupati Bogor: Bangun Jalur Puncak II

Bupati Bogor Ade Yasin. (Istimewa)
Bagikan

Pemerintah Kabupaten Bogor kini tengah melakukan pembangunan jalan Poros Tengah Timur (PTT) atau Jalur Puncak II.

Pengembangan ini diharapkan tidak hanya dapat mengurai kemacetan, melainkan juga diperkirakan mampu meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di timur Kabupaten Bogor.

Bupati Bogor Ade Yasin berharap dengan pembangunan Jalur Puncak II maka dapat memecah konsentrasi kegiatan ekonomi yang saat ini masih terpusat di Kecamatan Babakanmadang dan Citeurep. Sektor industri menjadi penggerak ekonomi utama.

“Kecamatan lain yang dilintasi Puncak II masih berkutat pada sektor pertanian, terutama Sukamakmur dan Tanjungsari,” ujar Ade Yasin.

Kawasan yang dilalui Puncak II, lanjutnya, juga memiliki potensi wisata alam dan perkebunan, seperti kopi robusta Catangmalang.

Ada juga potensi wisata yang belum tergarap maksimal, di antaranya Situ Rawa Gede di Desa Sirnajaya dan wisata Alam Khayangan di Desa Wargajaya. Keduanya berada di Kecamatan Sukamakmur.

Kabupaten Bogor yang letaknya sangat strategis yang berdekatan dengan Ibukota Negara Indonesia (konteks pengembangan pariwisata internasional) dan secara regional Indonesia (konteks pengembangan pariwisata nasional dan regional) berbatasan dengan wilayah-wilayah berkembang.

Perbatasan wilayah itu seperti dengan Kota Tanggerang Selatan, Kota Depok, Kabupaten Tanggerang, Kabupaten/Kota Bekasi, Kabupaten Lebak, Kabupaten Karawang, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Sukabumi, dan di bagian tengah ada Kota Bogor.

Secara nasional pada saat ini, positioning kepariwisataan Kabupaten Bogor masuk dalam 50 wilayah destinasi Pariwisata Nasional (DPN) yang mencakup dua wilayah Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) meliputi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Puncak-Gede Pangrango dan sekitarnya, serta KSPN Halimun dan sekitarnya.

Baca juga :   Kepala Bandara Toraja, Rasidin; Kado Jelang Pensiun

Dia menuturkan bahwa potensi yang belum tergarap itu membuat Pendapatan Asli Daerah (PAD) cenderung tidak maksimal.

Tercatat hanya Rp10 miliar dari sektor pariwisata yang masuk ke kas Pemkab Bogor pada 2019.

Saat ini, Jalan Puncak II direncanakan membentang sepanjang 56,25 kilometer dari Bogor hingga Cianjur. Pembangunan akan dilakukan dalam dua tahap.

Kedua tahap itu adalah sepanjang 39 km trase Sentul-Sukarhaja-Istana Cipanas dan tahap dua sekitar 17,26 km trase Sukaharja-Bantangkuning, Cariu.

Ade Yasin memprediksi jika Jalur Puncak II sudah terbangun, dapat menurunkan 50% kemacetan di kawasan Cisarua. Dia berharap ada efisiensi jarak tempuh sekitar 16%.

Saat ini, Ade Yasin menjelaskan, setiap akhir pekan volume kendaraan yang melintasi Kawasan Puncak mencapai 28.000 unit per hari.

Padahal, sepanjang 23 kilometer Jalur Gadog-Puncak Pas idealnya hanya menampung 12.000 kendaraan per hari.

Bahkan, Jalur Puncak II nantinya memudahkan akses tiga provinsi, yakni Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten. Dengan kemudahan akses tiga provinsi ini membuat Kabupaten Bogor semakin terbuka untuk investasi.

Wilayah Kabupaten Bogor terbuka untuk investasi sektor perkebunan, pertanian, dan Usaha Menengah, Kecil, dan Mikro (UMKM), serta potensi investasi di sektor industri.

Untuk investasi sektor perkebunan, ada tanaman kopi yang merupakan salah satu komoditas andalan penghasil devisa negara, sumber pendapatan petani, penghasil bahan baku industri, dan penyedia lapangan kerja.

Baca juga :   Dirjen Perhubungan Udara Novie Riyanto, Pemulihan Sektor Penerbangan Indonesia

Sebagian besar kopi yang diusahakan di Kabupaten Bogor merupakan kopi rakyat dengan jenis kopi Robusta dan Arabica. Adapun lokasi pengembangannya terletak di Kecamatan Sukamakmur, Megamendung, Cigudeg, Rumpin, Pamijahan, dan Cijeruk.

Sektor UMKM di Kabupaten Bogor juga merupakan salah satu faktor penunjang pertumbuhan ekonomi rakyat yang terbuka untuk investasi. Bahkan, saat ini,

Kabupaten Bogor memiliki pengrajin binaan Dekranasda yang bergerak di berbagai industri kecil, seperti kerajinan kayu, kerajinan rotan dan bambu, industri dan kerajinan logam, serta kerajinan sandang dan kulit.

Mengenai pengembangan investasi di sektor industri ada Kawasan Industri Sentul (KIS).

Kawasan ini sebagai salah satu kawasan industri di wilayah Bogor yang telah berdiri tahun 1998, dengan memiliki karakteristik lingkungan yang asri dan tingkat polusi yang rendah.

Ada juga Kawasan Cibinong Central Industrial Estate (CCIE), dengan pengelola PT Cibinong Center Industrial Estate (PT CCIE), yang bergerak di bidang pengelolaan, pengembangan, dan pelayanan kawasan industri. Kawasan ini berlokasi di Desa Bantarjati, Klapanunggal, Bogor.

PT CCIE sebagai salah satu kawasan industri di wilayah Kabupaten Bogor yang berdiri sejak tahun 1989.

Kawasan industri ini memiliki lokasi strategis, karena memiliki akses terdekat, seperti jalan tol Gunung Putri. B

Komentar

Bagikan